CHAPTER 36

42 5 0
                                        

Rafa meletakkan gelas es tehnya ke atas meja kantin usai minum.

"Ada yang punya ide enggak, kita mau ke mana untuk mengerjakan tugas makalah pelajaran Sejarah?" tanya Rafa.

"Perpustakaan," saran Alden.

"Museum," saran Denis.

"Kebun binatang," saran Farhan.

Semua pun kini menatap ke arah Farhan secara serempak.

"Ke kebun binatang? Sejarah apa yang bisa kita ambil di kebun binatang, Han? Sejarah bertemunya elo dan saudara lo yang bernama Orangutan?" tanya Iqbal.

Farhan pun mendadak mencebik ke arah Iqbal. Ditelannya kue cucur yang baru digigitnya secara paksa tanpa dikunyah terlebih dahulu.

"Sembarangan aja sih kalau ngomong, Bal! Gue 'kan tadi cuma ngasih saran doang buat jawab pertanyaan si Rafa," ujar Farhan, sebal.

"Masalahnya, Han, jawaban lo enggak nyambung sama sekali dengan apa yang ditanyakan sama Rafa," gemas Daira.

"Tahu, nih. Masa ngerjain makalah Sejarah, belajar dan penelitiannya di kebun binatang? Ngaco!" omel Alden.

"Ya udah, di perpustakaan aja seperti saran Alden atau kalau enggak di museum seperti yang Denis sarankan," lerai Rafa.

"Kalau gue sih ikut ajalah. Di mana ada Farhan, pasti di situ ada gue," ujar Ayu, sambil bergelayut manja di lengan kanan Farhan.

"Hm ... iya, cicak bulukan. Kita tahu, kok, kalau lo memang bakalan nempel melulu sama Farhan. Enggak usah diperjelas, perut gue mual," tanggap Iqbal, atas statement yang Ayu berikan.

Alden pun terkikik geli melihat tampang Iqbal yang sebal setengah mati pada Ayu dan Farhan. Tak lama kemudian sosok Killa muncul di kantin, Alden melambaikan tangannya pada gadis itu lalu berpamitan pada semua sahabatnya karena akan menemani Killa ke perpustakaan.

"Gue duluan, ya. Mau antar Killa ke Perpustakaan," ujar Alden.

"Terus yang mau nemenin gue jajan ke gerbang siapa, Al?" tanya Denis.

Kedua mata Alden pun menyipit seketika.

"Lo pilih deh, mau didampingi oleh Malaikat Roqib atau mau didampingi Malaikat Atid," jawab Alden, memberi saran untuk Denis.

"HA-HA-HA-HA-HA-HA!!!"

"Enggak sekalian lo suruh si Denis milih antara Malaikat Malik dan Malaikat Ridwan," tanggap Rafa, sambil tertawa bersama yang lainnya.

Denis sendiri hanya bisa mencibir sebal ke arah Alden yang kini tengah berjalan ke arah Killa.

"Cieee ... pasangan baru, ke mana-mana berduaan melulu," sindir Farhan.

"Aduh, kita bakalan jadi pagar ayu lagi nih kayaknya," tambah Ayu.

Alden dan Killa memilih tak menanggapi, mereka hanya tertawa diam-diam lalu pergi meninggalkan kantin. Iqbal pun bangkit dari kursinya setelah menyeruput es teh hingga tandas.

"Gue juga mau nyusulin Shena dulu. Siapa tahu dia butuh bantuan buat mengundurkan diri dari ekskul Pramuka," ujar Iqbal.

"Memangnya Kak Shena masih aja ditahan-tahan, ya, sama anggota Pramuka yang lain?" tanya Daira.

"Anggota Pramuka yang lain, sih, enggak nahan-nahan. Cuma si Bintang, tuh, yang suka banget nahan-nahan Shena," jawab Iqbal.

"Wah, firasat gue mengatakan, kayaknya ada yang enggak benar tuh sama sikap si Bintang. Ada batu di balik udang," ujar Ayu.

"Ada udang di balik batu, Ay. Jangan kebalik dong," pinta Daira.

Iqbal, Denis, dan Rafa pun terkekeh kompak.

Sohib By AccidentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang