CHAPTER 43

50 0 0
                                        

Baru setengah Kebun Raya Bogor yang mereka kelilingi, namun rasa lapar sudah mulai menghantui. Perbekalan yang mereka bawa dari rumah mulai dikeluarkan satu-persatu dan diletakkan di atas sehelai selimut piknik yang tersedia di bagasi mobil milik Rafa.

"Ayo, yang mana dulu mau dimakan, nih?" tanya Shena, lantaran bingung mau memilih makanan yang mana.

"Yang mana-mana aja deh, Kak. Sikat!" jawab Ayu.

"Sikat? Kita mau makan, Ay, bukan mau nyikat," ujar Killa, polos.

Ayu pun menepuk keningnya sambil berekspresi sedih.

"Killa Sayang, gue tahu elo itu pacarnya Alden dan keseringan nempel sama Alden. Tapi please, lah, jangan ketularan ogeb-nya dong," pinta Ayu.

"Ogeb itu apaan, Ay?" tanya Shena, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Ayu pun kini memasang wajah pasrah.

"Udahlah, makan aja. Kalau gue jelasin lagi, yang ada makanannya nanti berlalat," ujar Ayu.

Daira dan Lili pun tertawa diam-diam di belakang Ayu yang sedang stress menghadapi Killa dan Shena. Kelima pria yang seharusnya ada di dekat mereka saat itu sedang pergi membeli minuman dingin di luar Kebun Raya Bogor. Hal itu jelas membuat Ayu bertanggung jawab untuk menjaga Killa dan Shena, sementara Daira bertanggung jawab menjaga Lili.

"Hai, bidadariku!" seru Iqbal, sambil melambai-lambaikan tangannya dan tersenyum lebar.

Shena pun menyambutnya sambil melambai-lambaikan tangan seperti yang Iqbal lakukan.

"Hai, manusia biasa," sahut Daira, agar Iqbal segera sadar diri.

Wajah Iqbal pun segera mengkerut keriput, setelah mendengar sahutan dari mulut Daira.

"Malaikat, dong. Masa manusia biasa," protes Iqbal.

"Muka-muka lo enggak mengindikasikan ada tanda-tanda yang cocok untuk disebut Malaikat, Bal. Makanya si Day manggil elo manusia biasa," ujar Ayu, dengan enteng.

Shena segera bangkit dan memeluk Iqbal.

"Buat gue dia Malaikat, kok," ujar Shena dengan imut.

Ayu dan Daira pun meringis pedih, sementara Lili dan Killa tertawa terbahak-bahak.

"Kakak kena pelet ya?" tebak Ayu.

"Idih amit-amit jabang bayi! Sembarangan aja lo kalau ngomong!" umpat Iqbal, sambil mendelik ketika menatap ke arah Ayu.

"Ya, mana juga si Ay enggak mau ngomong begitu, Bal. Kak Shena bucin banget sama elo, kayak orang habis kena pelet," jelas Daira, sesuai dengan apa yang Ayu hendak sampaikan.

"Eh, jangan sembarangan ya! Orang ganteng kayak gue enggak mungkin main pelet-pelet cewek!" omel Iqbal, bertepatan dengan datangnya Denis seusai membeli es goyobod.

Denis pun berhenti di samping Iqbal, lalu meletakkan kepalanya di pundak cowok tersebut.

"Iqbal ... aku terpelet-pelet olehmu," ujar Denis, sambil memukul-mukul dada Iqbal dengan gemas.

"HA-HA-HA-HA-HA-HA-HA!!!"

Semuanya tertawa saat melihat kelakuan Denis, sementara Iqbal sontak melompat dengan jijik dari tempatnya berdiri saat itu.

"Astaghfirullah!!! Udah gila lo, Den??? Jauh-jauh lo dari gue!!! Pahit-pahit-pahit!!!" teriak Iqbal, merinding tak karu-karuan.

Denis pun ikut tertawa, saat melihat Iqbal yang sedang kelojotan seperti ulat sayur. Rafa, Farhan, dan Alden pun tiba. Mereka menatap aneh ke arah Iqbal yang saat itu terlihat seperti baru saja terkena serangan ulat bulu hingga badannya gatal-gatal.

Sohib By AccidentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang