Rafa sedang membersihkan mobilnya yang siang nanti akan ia pakai berjalan-jalan bersama geng sayur asem, untuk merayakan kenaikan kelas mereka. Ponsel milik Rafa bergetar di dalam saku celana pendeknya, membuat Rafa harus berhenti sejenak dan mengangkat telepon.
"Halo, Han. Ada apa?" tanya Rafa.
"Enggak ada apa-apa, Raf. Gue cuma lagi bete aja, makanya gue telepon elo," jawab Farhan.
"Hah? Bete? Telepon Ay, sana! Bete, kok, malah telepon gue?" sebal Rafa.
"Itu dia yang gue bete-in, Raf. Ay lagi PMS. Saat ini dia lagi cosplay menjadi singa yang enggak bisa gue sayang-sayang seperti biasanya," jelas Farhan, setengah merajuk.
"Hah? Dia lagi cosplay jadi singa? Ya, kalau begitu lo hadapi, dong. 'Kan elo pawangnya," saran Rafa.
Farhan pun mengacak-acak rambutnya di seberang telepon sana, akibat mendengar saran yang Rafa berikan.
"Raf ... elo itu sohib gue apa bukan, sih? Cobalah sekali-sekali lo ikut prihatin gitu kalau gue lagi sengsara," rengek Farhan.
Rafa pun terkekeh senang, saat mendengar suara Farhan yang terdengar begitu menderita.
"Ya udah ... ya udah ... terus lo maunya gimana sekarang? Gue lagi bersihin mobil, nih, buat dibawa jalan-jalan nanti siang."
"Oh ... lo lagi bersihin mobil? Kalau begitu gue mau ajukan satu pertanyaan deh buat lo. Setelah lo jawab, bakalan gue tutup teleponnya," janji Farhan.
"Hm, ya udah. Pertanyaannya apa?" Rafa setuju.
"Kalau lo mau manasin mobil, biasanya lebih enak direbus apa digoreng?" tanya Farhan.
Rafa pun mendelik sambil mulai memijit keningnya yang tampak berdenyut-denyut, akibat meningkatnya hormon kortisol di dalam dirinya.
"Han, lo pilih deh. Mau matiin teleponnya sekarang atau gue tumbalin elo ke hadapan Ratu Pantai Selatan," tawar Rafa.
Farhan pun terkikik penuh kemenangan, karena telah berhasil membalas Rafa soal ucapannya mengenai singa dan pawang. Sambungan telepon itu akhirnya terputus, Rafa pun kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda akibat kelakuan absurd Farhan. Mirasih datang ke teras sambil membawa jus markisa untuk Rafa. Ia mendekat ke arah putranya setelah meletakkan gelas ke atas meja.
"Jadi, jalan-jalannya?" tanya Mirasih.
"Jadi, Mah," jawab Rafa.
"Calon menantu Mamah ikut, enggak?"
"Ya ikutlah, Mah. Masa Rafa jalan sendirian sementara yang lain pada bawa pacar."
Mirasih pun terkekeh pelan.
"Ya, kali aja kamu teh mau mengasah kesabaran. Cuma lihatin yang pacaran tapi enggak bawa pacar," ujar Mirasih.
"Ih, Mamah. Mana kuat Rafa begitu, Mah? Baru sehari aja enggak ketemu Day rasanya udah kayak seribu tahun," ungkap Rafa.
Mirasih pun segera berpura-pura mencubit lengan putranya.
"Ih, suka lebay anak Mamah teh," sindir Mirasih.
Rafa pun terkekeh senang. Revan keluar tak lama kemudian dari dalam rumah dan telah siap berolahraga.
"Siapa yang lebay, Mah?" tanya Revan.
"Tuh, anak Papah. Katanya baru satu hari enggak ketemu sama Neng Daira, rasanya udah kayak seribu tahun enggak ketemu," jawab Mirasih.
Revan pun menatap tak percaya ke arah putra semata wayangnya tersebut, sementara Rafa memilih berpura-pura tak tahu kalau Revan sedang menatap ke arahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sohib By Accident
Humor[COMPLETED] Ini kisah anak SMA yang benar-benar di luar dugaan. Percayalah, tidak akan ada yang percaya kalau ini kisah anak SMA. Bahkan, penulisnya pun ragu kalau mereka adalah anak SMA. Tapi, inilah kisah anak SMA. Jika ingin protes, katakanlah pa...
