Harum aroma gorengan bakwan menguar di udara. Aroma yang berasal dari dapur itu jelas menggugah selera siapa pun yang menghirupnya. Kecuali Alden, yang lebih memilih menikmati aroma-aroma cinta yang baru saja bersemi di hatinya, setelah Killa menerima pernyataan cintanya beberapa hari lalu. Mata, pikiran, perasaan, kebucinan, lengkap menjadi satu dan tertuju ke arah layar ponsel yang tengah ia pandangi.
Lili keluar dari dapur membawa sepiring gorengan bakwan yang masih panas ke atas meja makan. Ia lalu kembali ke dapur untuk membuat dua gelas teh manis, agar Alden juga bisa ikut menikmati hasil masakannya.
"Ini tehnya, Al. Itu bakwannya juga udah selesai digoreng," ujar Lili.
Tangan Alden meraba-raba ke atas meja makan, namun matanya tetap terpaku ke arah layar ponsel. Lili mengerenyitkan keningnya, karena merasa heran sekaligus sebal dengan tingkah laku Adiknya yang tidak seperti biasanya.
"Kalau ponsel lebih mengenyangkan buat kamu, ponselnya aja yang digoreng, jangan nyuruh Teteh goreng bakwan," sindir Lili.
Alden pun langsung menoleh ke arah Lili, usai mendengar apa yang dikatakannya.
"Hah? Ponsel digoreng? Teteh sehat?" tanya Alden.
"Iya, Teteh sehat. Makanya bisa gorengin bakwan buat kamu. Sekarang bakwannya malah enggak dimakan dan cuma diraba-raba doang," jawab Lili, sewot pada Alden.
Alden pun nyengir tak berdosa ke arah Lili. Ia segera meraih sebuah bakwan lalu melahapnya dengan penuh sukacita. Lili meminum teh manisnya dan ikut menikmati bakwan bersama Alden. Bunyi notifikasi kembali terdengar dari ponsel Alden. Alden pun bergegas membuka kembali ponselnya dan mulai fokus lagi pada apa yang tengah dilihatnya saat itu.
"Mamah belum pulang. Padahal ini teh udah hampir sore," ujar Lili.
"Kalau sampai maghrib enggak pulang juga, aku bakalan jemput di rumahnya Bi Icih," tanggap Alden.
"Kenapa enggak sekarang aja?" tanya Lili.
"Jangan, takutnya Mamah lagi bikin bumbu buat ayam di sana. Kalau aku jemput sekarang, ayam bakalan batal menjadi bintang utama di acara hajatannya Bi Icih, besok," jawab Alden.
"Kamu pikir ayamnya mau ikut fashion show atau mau audisi Indonesian Idol? Ayam, kok, jadi bintang utama."
"Maksudnya bintang utama di meja perjamuan, Teteh. Jangan salah paham dulu atuh," jelaa Alden.
"Habisnya, kamu kalau ngomong suka sepotong-sepotong. Teteh 'kan jadi bingung."
Alden pun terkekeh pelan, lalu kembali menatap lagi pada ponselnya. Ia mengetik sesuatu, lalu terlihat tersenyum-senyum sendiri tak lama setelahnya. Lili menatap Adiknya yang terus saja tersenyum-senyum sendiri sambil menatap ke layar ponsel. Ia kembali mengerenyitkan keningnya penuh rasa heran, karena benar-benar tidak biasanya Alden bersikap begitu. Alden adalah orang yang realistis dan tak pernah bertingkah di luar kebiasaannya sehari-hari. Tapi kali ini Lili tidak mengerti, kenapa Adiknya bertingkah seperti itu.
"Kamu teh kenapa, Al? Udah gila?" tanya Lili, ingin memastikan.
Senyum di wajah Alden pun mendadak redup dan ekspresinya berubah jadi kusut saat menatap ke arah Lili.
"Enak aja gila. Kalau gila aku enggak bakal tidur di kamar Teh, tapi di kandang ayam sama si Jalu," jawab Alden, sebal.
Lili pun terkekeh pelan.
"Ya habisnya, kamu senyum-senyum sendiri sambil lihatin ponsel. Kamu lagi chating sama siapa sampai senyum-senyum begitu? Sama Denis, ya?" tebak Lili, dengan wajah konyol ke arah Adiknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sohib By Accident
Comédie[COMPLETED] Ini kisah anak SMA yang benar-benar di luar dugaan. Percayalah, tidak akan ada yang percaya kalau ini kisah anak SMA. Bahkan, penulisnya pun ragu kalau mereka adalah anak SMA. Tapi, inilah kisah anak SMA. Jika ingin protes, katakanlah pa...
