CHAPTER 34

45 3 0
                                        

"Bu, saya mau kembalikan buku yang saya pinjam," ujar Alden.

"Oh, iya. Saya ambil tinta stempel dulu, ya. Tinta stempelnya habis," ujar penjaga Perpustakaan.

"Iya, Bu."

Penjaga perpustakaan pun keluar. Alden menunggu dengan tenang sambil melihat-lihat buku yang baru masuk.

BRAKKK!!!

"Heh! Dengar, ya! Enggak usah belagu jadi cewek! Mentang-mentang muka lo cantik, seenaknya aja lo nolak Kakak kelas!" bentak Briana.

Alden pun mendekat ke arah sumber suara keras tersebut. Diintipnya selama beberapa saat dan kedua matanya terbelalak, saat ia melihat siapa orang yang tengah dirundung oleh Briana saat itu.

"Woy! Lepasin dia!" teriak Alden, tak lagi peduli dengan telinga pengunjung perpustakaan saat itu.

Briana dan antek-anteknya pun segera melepaskan cewek yang tengah mereka rundung saat itu, ketika melihat sosok Alden yang menatap marah ke arah mereka. Alden berjalan mendekat dan meraih lengan cewek itu.

"Killa? Lo enggak kenapa-napa, 'kan?" tanya Alden, sambil memeriksa kondisi Killa.

"E--enggak, Al. Gu--gue ... gue enggak apa-apa, kok," jawab Killa, terbata-bata.

Dari cara Killa menjawab, Alden jelas tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Hal itu membuat Alden segera menoleh ke arah Briana dengan tajam.

"Sekali lagi gue lihat lo ganggu Killa, gue enggak akan kasih ampunan buat lo! Camkan itu baik-baik!" tegas Alden, penuh ancaman.

Alden pun segera menuntun Killa agar mengikuti langkahnya menuju pintu keluar dari perpustakaan. Alden sudah tidak peduli dengan penjaga Perpustakaan yang tidak kembali-kembali sejak tadi. Yang ia pikirkan saat itu adalah membuat Killa aman terlebih dahulu. Alden membawanya ke kelas 10 IPS 1, kelas yang sama dengan kelas yang ia tempati. Alden membawanya ke barisan paling belakang, ke tempat duduk yang Killa tempati selama ini.

"Lo udah makan? Mau makan?" tawar Alden.

"Gu--gue enggak lapar, Al. Terima kasih atas bantuannya tadi," jawab Killa, lirih.

Alden tahu, bahwa Killa jelas sedang berusaha menyembunyikan airmatanya. Dia pasti malu dan Alden tidak boleh mendesaknya.

"Ya, udah. Kalau gitu gue keluar dulu, ya. Kalau ada apa-apa, bilang aja sama gue. Jangan ragu-ragu," pesan Alden, sebelum beranjak pergi meninggalkan Killa di kelas itu.

Killa hanya membalasnya dengan anggukan pelan. Alden pun beranjak pergi dan Killa hanya mampu menatap sosoknya yang mulai menjauh. Ia tetap tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada Alden, karena bagaimana pun, mereka adalah dua orang asing yang tidak saling mengenal. Ya, Killa dan Alden adalah teman sekelas yang tidak pernah saling memperkenalkan diri. Hal itu sudah terjadi sejak awal dan Alden tidak pernah menyadari.

Alden tiba di kantin paling terakhir. Semua sahabatnya sudah memesan makanan dan hanya dia yang belum melakukannya. Namun setelah tiba di kantin, Alden justru hanya duduk tanpa memesan apa pun. Pikirannya masih saja kacau akibat apa yang terjadi pada Killa di Perpustakaan.

"Kenapa tuh muka? Kayak kerupuk habis disiram kuah bakso," tanya Farhan.

"Kerupuk habis disiram kuah bakso emangnya kenapa, Han?" tanya Denis, polos.

"Meleyot," jawab Farhan, santai.

Yang lainnya tertawa, namun Alden masih juga memasang ekspresi wajah yang sama seperti tadi.

"Gue dari perpustakaan, niatnya cuma mau kembaliin buku. Eh, malah gue lihat anak cewek yang dibully sama tim penggosip," ujar Alden.

"Si Briana? Ngebully siapa dia?" tanya Daira.

Sohib By AccidentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang