Gedung Aula telah dipenuhi oleh siswa dan siswi dari kelas 10 IPA 1, 10 IPA 2, 10 IPS 1, dan 10 IPS 2. Ujian Akhir Praktek Kesenian akan dilaksanakan hari itu, sebelum penerimaan rapor minggu depan.
"Enggak lama lagi, kita akan segera menjadi anak kelas sebelas," ujar Iqbal.
"Iya, dan elo masih aja enggak memperlihatkan kemajuan apa pun," celetuk Daira, yang saat ini berada di samping Iqbal.
Kedua mata Iqbal pun menyipit, sambil menatap ke arah Rafa.
"Kenapa lihat muka gue sampai kayak begitu, Bal? Gue ganteng, ya?" tanya Rafa, penuh percaya diri.
"Enggak, Raf. Gue cuma lagi mengambil ancang-ancang buat nyakar muka lo, gara-gara sebal sama celetukannya Day," jawab Iqbal.
"Lah! Kok jadi gue yang mau lo cakar?" Rafa tak mengerti.
"Karena lo adalah masa depannya Day, dan gue rasa Day berhak merasakan bagaimana rasanya kalau masa depannya gue cabik-cabik," jelas Iqbal.
"Elo mau gue cabik-cabik balik?" tantang Daira, sambil meregangkan otot-otot tangan serta jemarinya.
"Oke, enggak jadi! Gue mending mencabik-cabik muka si Alden atau si Denis ajalah yang pacarnya enggak ada di depan mata gue," ujar Iqbal, yang cukup tahu diri bahwa ia takkan mampu menghadapi Daira.
Rafa hanya bisa terkekeh senang, saat melihat Iqbal yang memilih mundur dari posisinya saat itu.
"Tapi Alden 'kan sekelas sama Killa, emangnya lo berani nyakar muka Alden di depan Killa?" tanya Rafa.
"Ya udah, sasaran gue berarti cuma si Denis doang yang paling gampang. Teh Lili enggak ada di sekitar sekolah ini," jawab Iqbal, tak punya pilihan lain.
Daira mencibir selama beberapa saat. Tak lama kemudian, ia menatap ke arah Rafa setelah Iqbal mundur dari posisinya.
"Kamu udah sarapan?" tanya Daira.
"Udah tadi di rumah. Emangnya kenapa? Kamu bawain aku makanan, gitu?" tanya Rafa, penuh harap.
"Sebenarnya, iya. Tapi kalau kamu udah kenyang ...."
"Belum, kok. Sarapannya memang udah, kalau kenyang masih belum. Aku masih sanggup makan masakan kamu meski udah sarapan," dengan cepat Rafa memotong ucapan Daira.
Iqbal--yang berdiri tak jauh dari posisi kedua insan kasmaran tersebut--kini menoleh dengan tatapan bingung ke arah Rafa.
"Lo habis pinjam lambungnya si Denis, Raf? Udah sarapan, kok, masih aja belum kenyang?" tanya Iqbal.
Rafa pun menatap sebal ke arah Iqbal, yang tak tahu kalau Rafa tengah berusaha membuat Daira bahagia.
"Sekenyang apa pun gue, tetap bakalan gue sediain ruang dalam lambung untuk masakannya Day!" tegas Rafa.
"Astaghfirullah! Kesambet setan bucin di mana, sih, ini anak? Kok bisa hidupnya tiada hari tanpa ngebucin?" gemas Iqbal, naik darah.
Farhan, Ayu, Denis, dan Alden datang bersamaan ke Aula. Mereka berempat ditatap oleh Daira, Rafa, dan Iqbal.
"Kalian dari mana aja?" tanya Daira.
"Habis nonton topeng monyet di gerbang," jawab Farhan.
"Iya, Day. Si Denis merengek minta nonton, makanya kita lama karena harus nemenin dia," tambah Ayu.
Tatapan Daira pun jatuh pada Denis yang tengah dibicarakan oleh Farhan dan Ayu. Ia mendekat dan merangkul pemuda itu secara baik-baik.
"Udah, nonton topeng monyetnya, Den?" tanya Daira.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sohib By Accident
Humor[COMPLETED] Ini kisah anak SMA yang benar-benar di luar dugaan. Percayalah, tidak akan ada yang percaya kalau ini kisah anak SMA. Bahkan, penulisnya pun ragu kalau mereka adalah anak SMA. Tapi, inilah kisah anak SMA. Jika ingin protes, katakanlah pa...
