EPILOG

117 2 4
                                        

SEPULUH TAHUN KEMUDIAN...

"Angkat ujungnya, Han," ujar Iqbal, yang sudah setengah geram sejak tadi karena Farhan terus saja membuatnya naik darah.

"Ini udah gue angkat, Bal," balas Farhan, yang tengah mengangkat ujung sebuah meja menggunakan jari-jarinya.

"Kalau ngangkat itu yang tinggi. Kalau cuma segitu, nanti kaki mejanya bakalan keseret sebelah. Nanti mejanya bakalan jomplang, Farhan," Iqbal benar-benar merasa sedang ikut acara uji kesabaran.

"Oyy! Masih aja ngeributin meja, lo berdua? Ini kita udah selesai ngurusin pelaminannya. Kalian niat bantu atau enggak, sih?" omel Alden, tak setengah-setengah.

"Tahu, nih. Udah pada tua, masih aja kelakuan kayak anak remaja," tambah Denis, yang sejak tadi sudah membuka seragam kepolisannya demi membantu lancarnya acara pernikahan Rafa dan Daira esok hari.

Daira melongokkan kepala dari jendela kamarnya di lantai dua. Rumah yang ia tempati itu belum berubah lokasi, hanya berubah wujud setelah Daira lulus kuliah dan bekerja. Kini, Daira bisa melongokkan kepala keluar jendela kamar, kapan pun yang dia inginkan.

"Wahai para sahabatku yang luar biasa. Kalian sebenarnya tahu konsep pingitan atau enggak, sih?" tanya Daira, mulai gerah meski AC di kamarnya menyala dengan suhu yang maksimal.

"Pingitan itu yang suka ngambilin barang bekas di pinggir jalan, 'kan?" tanya Ayu.

"Itu pungutan bumil!" sebal Daira. "Untung bumil yang jawab. Kalau bukan, udah keluar deh ini jurus caci-maki dari mulut gue," Daira berupaya menahan diri.

"Day, gue waktu nikahan sama Teh Lili enggak ada acara pingitan tuh. Elo sama Rafa aja kayaknya yang lebay. Udah hubungan lo sama Rafa putus nyambung melulu. Kalau pada galau nyusahin kita. Ada orang ketiga kita yang tangani. Sekarang udah mau nikah, pake ada acara pingitan. Intinya, kalian berdua itu senang kasih susah diri sendiri," ujar Denis.

Daira pun tersenyum-senyum selama beberapa saat. Apa yang Denis katakan memang benar. Soal pingitan ini adalah Idenya Rafa, yang benar-benar sudah gemas dengan hubungan mereka yang selalu saja diwarnai dengan kecemburuan, pertengkaran--meski bukan pertengkaran besar--dan juga sedikit kecurigaan. Tempat kuliah yang berbeda, tempat kerja yang berbeda, dan dunia masing-masing yang memberi tekanan adalah awal dari semua lika-liku itu.

Berbeda dengan sahabat-sahabat mereka, yang kisah cintanya mulus-mulus saja sampai ke jenjang pernikahan. Bahkan, saat menghadiri pernikahan Iqbal dan Shena, Daira dan Rafa sedang putus hubungan saat itu. Mereka kembali menjalin kisah cinta setelah Iqbal berbicara di depan penghulu, usai penghulu mengucap kata 'sah'.

"Untuk kedua sahabat gue. Day dan Rafa. Demi Allah gue berjanji, bahwa gue dan Shena hanya akan menghadiri pernikahan kalian suatu saat nanti, kalau kalian berdua menikah satu sama lain, bukan dengan orang lain. Kita bakalan penuhi janji kita saat remaja, bukan mengingkarinya."

Itulah yang Iqbal katakan dengan sangat sadar, tanpa embel-embel 'sakit jiwa' seperti yang biasanya terjadi. Pada saat itu pula, Ibunya Rafa menangis dan berharap apa yang Iqbal katakan menjadi kenyataan. Ya, Rafa sempat sudah mengenalkan gadis lain padanya. Namun gadis itu hanya bisa menyakiti perasaan Ibunya Rafa setiap kali mereka mencoba mengobrol dan berakhir dengan airmata. Rafa pun segera memutuskan untuk meninggalkan gadis itu, dan bahkan mereka belum sempat memiliki status pacaran atau semacamnya.

Jadi ketika akhirnya Rafa datang bersama kedua orangtuanya untuk melamar Daira dua bulan yang lalu--hanya seminggu sejak pernikahan Iqbal--Daira pun segera menerimanya, karena ia tak bisa menemukan pria yang mampu membuatnya bertahan dan nyaman seperti Rafa. Ya, Daira bertahan dalam kesendirian sejak putus dengan Rafa selama dua bulan sebelum hari pernikahan Iqbal. Padahal mereka putus karena Rafa curiga kalau Daira telah memiliki pria lain yang disukainya. Namun nyatanya, malah Rafa yang memperkenalkan gadis lain setelah putus dengan Daira--meski tanpa perasaan apa pun--dan harus berakhir dengan kekecewaan Ibunya. Sementara Daira, tetap sendiri sampai mereka bertemu lagi ketika mempersiapkan pernikahan Iqbal dan Shena.

Sohib By AccidentCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang