CHAPTER 37

39 4 0
                                        

Lili tersenyum-senyum sendiri, saat akhirnya Denis menggenggam tangannya setelah keluar dari rumah. Denis benar-benar terlihat sangat gugup dan tangannya terasa sangat dingin di dalam genggaman Lili.

"Kamu teh kenapa, Den? Tangan kamu sampai dingin begini," tanya Lili.

Denis pun mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia hanya sedang salah tingkah, bukan karena ketombe ataupun memiliki kutu di kepalanya.

"Eung ... anu, Teh ... itu ...." ujar Denis, terbata-bata.

"Apa? Kamu bingung mau ajak aku ke mana?" tebak Lili.

Denis pun tersenyum malu-malu sambil menundukkan kepalanya.

"Ke ancol aja, yuk. Kalau ke bioskop aku kurang suka, kecuali ada film yang bagus. Aku benar-benar mau jalan-jalan sama kamu hari ini, jadi ancol sepertinya pilihan yang bagus untuk kita," ujar Lili.

"Oke, ayo kita ke ancol Teh," ajak Denis.

"Eh, jangan panggil Teteh atuh. Panggil Lili aja, atau ... panggil sayang juga boleh," pinta Lili.

Wajah Denis kini terlihat seperti rainbow cake, berwarna-warni tak tentu arah. Lili kembali terkikik geli, lalu menyetop angkutan umum yang lewat dengan tujuan ke ancol. Mereka duduk berdua di pojok yang kosong dengan tangan yang terus saling menggenggam.

"Ponsel kamu mana?" tanya Lili.

Denis pun mengeluarkannya dari dalam saku jaket yang dipakainya. Ia memberikannya pada Lili, dan Lili pun segera memasukkan nomor ponselnya ke dalam kontak di ponsel Denis.

"Jangan ditulis Lili nama kontaknya," protes Denis, pelan.

"Maunya apa?" tanya Lili.

"Masa depanku," jawab Denis.

Lili pun mengulum senyum, lalu dengan cepat mengganti nama kontaknya di ponsel Denis. Setelah selesai, Lili pun mengembalikan ponsel itu ke tangan Denis.

"Mulai sekarang, kita berkomunikasinya secara pribadi aja. Jangan lewat ponselnya Alden terus, aku enggak mau kamu digodain terus sama Alden," ujar Lili.

"Iya, nanti aku akan langsung hubungi kamu ke nomor ini. Biar Alden enggak perlu ceramah kalau aku manggil kamu 'sayang'," balas Denis.

Angkutan umun yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di kawasan ancol. Lili dan Denis pun turun, mereka menyeberangi jalanan untuk masuk ke tempat tujuan mereka hari itu. Denis membayar tiket masuk, petugas pun memberikan cap pada tangan mereka berdua agar tak perlu membeli tiket lagi untuk menaiki wahana yang mereka inginkan.

"Yuk, kita nikmati hari ini," ajak Lili, sambil mengulurkan tangannya pada Denis.

Denis pun tersenyum bahagia sambil menyambut uluran tangan Lili dan menggenggamnya dengan erat.

"Iya, ayo," jawab Denis.

Si Jalu tengah nangkring di atas paha Alden yang sedang bertengger di depan kipas angin. Ceu Siti sedang memasak di dapur bersama Daira dan Ayu, sementara Rafa, Iqbal, dan Farhan tengah berguling-guling di atas karpet yang ada di ruang tamu rumah itu.

"Aduh ... gue penasaran. Si Denis lagi ngapain, ya, sekarang?" celetuk Iqbal, secara tiba-tiba.

"Intinya si Denis enggak mungkin lagi melakukan hal tidak berfaedah seperti yang sedang lo lakukan," jawab Alden, sambil melayangkan tatapan sinisnya kepada Iqbal.

"Eh, jangan sembarangan ngomong lo! Siapa bilang gue lagi melakukan hal yang tidak berfaedah?" sewot Iqbal.

"Oh, ya? Sekarang gue tanya sama lo, faedahnya apa berguling-guling di atas karpet begitu? Bikin tepos bokong?" tanya Alden.

Sohib By AccidentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang