-42-

26 4 0
                                        

Kaki mungil yang terbungkus flat shoes hitam, dengan kaos kaki sedengkul itu terus berjalan dengan langkah kecilnya. Sesekali gadis itu berhenti untuk sekedar mengatur napasnya. Keringat mulai bercucuran di dahinya, bersamaan dengan itu pula tangannya yang gemetar mengusap keringatnya.

Entah kemana arah tujuan Gebi, tapi dia benar-benar kacau. Selain ucapan Pandu yang ia terima mentah-mentah tadi sore, seketika ia merasa dirinya memang tidak diinginkan siapapun. Gebi berpikir, jangankan Pandu, ayah kandungnya sendiri pun tidak menginginkannya, kan?

Mungkin ini adalah kebiasaan buruk Gebi sejak lama, ketika ia menyadari bahwa dirinya tidak berharga di tempat mana pun, ia akan bertindak di luar akal sehatnya. Seperti sekarang, seharusnya ia pulang ke rumah, tapi akal sehatnya seketika tidak terpakai. Ia malah jalan kaki entah kemana tujuannya, padahal seharusnya ia pulang dan istirahat sebab besok masih harus sekolah.

Di tengah langkahnya yang ia percepat, mata Gebi tertuju pada salah satu gardu yang tidak berpenghuni. Tempat itu berada tepat di samping bahu jalan yang sedari tadi ia telusuri, ia melangkah ke arah sana, duduk sambil meringkuk memeluki dirinya sendiri.

Agak dramatis, tapi entah mengapa ia seperti hancur berkeping-keping saat ini. Apa lagi mengingat bahwa dirinya sekarang hidup setragis sebatang kara. Entah bagaimana takdir mengubahnya, sebenarnya Gebi hanya ingin sedikit kebahagiaan.

"Gue punya siapa sekarang?" gumamnya dalam tangisan.

Hampir dua jam gadis malang itu duduk di gardu kosong itu, suara derum motor yang berhenti tepat di depan gardu berhasil menyadarkan Gebi dari lamunannya.

"Gebi!" teriak si pemilik motor itu, betul- ia adalah... Pandu. Laki-laki yang sudah hampir mengelilingi Jakarta hanya untuk mencari Gebi.

Gebi menatap Pandu yang berjalan mendekat ke arahnya, tatapannya kosong, namun... ada sedikit kecewa di dalam matanya, dan Pandu sadar akan hal itu.

Pandu menunduk, memperhatikan penampilan Gebi yang begitu kusut dengan seragam putih abu yang sudah lusuh, rambut yang biasanya ia lihat rapi dan wangi kini berantakan, wajah yang biasanya ceria kini justru air mata membuat wajah itu terlihat kelam.

Mata Gebi kembali berkaca-kaca saat Pandu mulai duduk dan menatapnya, tangan Pandu merapikan kembali rambut Gebi yang kini super duper berantakan. Dan yap, air mata seketika lolos lagi untuk yang kesekian kalinya malam ini.

"Gebi, gue minta maaf, ya..." ujar Pandu begitu pelan, nada bicara yang biasanya terkesan 'nyolot' ke Gebi sekarang tiba-tiba berubah menjadi lembut.

Gebi tidak menjawab, air matanya justru mengalir semakin deras lagi.

Tangan Pandu beralih untuk mengusap air mata gadis di hadapannya. "Gue sama sekali gak bermaksud nyakitin hati lo, Geb, cuma sumpah gue emang lagi pusing tadi sore." ucapnya.

Gebi memandangi wajah Pandu yang terlihat penuh rasa bersalah, "gue gak apa-apa. Gue justru—gue merasa jadi beban lo selama ini." akhirnya kata-kata itu berhasil keluar dari mulut Gebi.

"Geb, enggak. Gak sama sekali." ujar Pandu, wajahnya cukup tegang.

"Pan, gue gak tau dimana lagi tempat gue harus merasa bahwa diri gue sedikit berharga, kalo bukan sama lo? Lo satu-satunya orang yang selalu ada buat gue, dan gue sadar gue cukup nyusahin lo selama ini." tutur Gebi, air matanya masih terus terjatuh.

"Dan gue selalu seneng untuk bikin lo merasa berharga, Geb. Gue gak pernah merasa lo adalah beban atau apalah itu kata lainnya, lo gak sama sekali nyusahin gue. Gue disini buat lo, Geb." ucap Pandu.

"Selama lo bantuin gue, gue selalu bilang ke diri gue sendiri sebelum tidur bahwa ketika gue bangun gue udah harus berhenti buat nyusahin lo dan bikin lo terbebani sama semua hal tentang gue. Pandu, gue cukup nyusahin lo selama ini, seharusnya lo udah cukup sama masalah lo sendiri, gak perlu ada gue di sela-sela itu." ucap Gebi, ia menurunkan tangan Pandu yang sedari tadi mengusap pipinya. "Gue bisa sendiri disini, gue bakal pulang nanti. Lo bisa pergi, Pan." ucapnya sambil tersenyum, tapi Pandu tahu itu bukanlah senyuman asli.

"Geb, lo ngomong apa sih? Lo ini lagi gak baik-baik aja sekarang, gue gak bisa tinggalin lo." ucap Pandu, tatapannya sangat dalam kepada Gebi yang sangat amat terlihat memprihatinkan.

"Pan, gue gak mau melulu ngerusak hari-hari lo. Gue udah banyak utang budi sama lo, gue gak tau harus bayar itu semua gimana selain dengan doain kebahagiaan lo sepenuhnya. Mungkin memang takdir gue buat gak punya siapa-siapa, dan gue udah harus mulai belajar untuk nerima ini." ucapan Gebi benar-benar membuat Pandu mematung. Ia tak menyangka bahwa ucapannya tadi sore benar-benar membuat Gebi merasa kacau setengah mati.

Gebi tersenyum lagi, ia mengusap air matanya dan menarik napas lalu mengembuskannya. "Pan, gue bakal baik-baik aja." ucapnya mencoba meyakinkan Pandu. "Pan, lo tau jelas alasan kenapa gue gak langsung pulang. Jalanan lebih bisa buat gue gak merasa sendirian, ketimbang gue langsung pulang dan mulai ngutuk diri gue di dalam kamar lagi." setelah bilang begitu, ia berdiri dari duduknya dan hendak melangkah pergi, namun tangan Pandu yang sedikit kekar lebih dulu menahannya.

Mata mereka kembali bertemu, Pandu bisa melihat jelas bahwa ada luka di dalam diri Gebi yang kembali terbuka. Entah sebab dirinya atau bukan, namun yang harus Pandu lakukan adalah selalu ada untuk gadisnya. Seketika Pandu langsung menarik Gebi ke dalam pelukannya. Tentu saja Gebi langsung terhanyut di dalam sana, ia tidak bisa berbohong bahwa pelukan Pandu masih menjadi satu-satunya hal yang paling menenangkan di kala sadisnya kehidupan dan takdir yang ia punya.

"Geb, gue ada disini—akan selalu ada." tuturnya singkat, namun selalu penuh makna untuk Gebi.

•••

Halo gais!

Aduh aku udah lama banget gaaa update yaaaa HEHEHE sorry again.

Ini aku update short part dulu yah, short tapi deep bgt ini loh pembicaraan. Maaf sebenernya ini udah basi tapi aku coba nulis lg hehe semoga kalian GAK marah🤏🏻

BTW GAISSS, Marhaban Ya Ramadhan yaaa bagi teman teman yang menjalankan.. Semoga puasa kita diterima dan selalu berbuat kebaikan yaaa di bulan suci ini! Doakan aku juga selalu bisa sering sering update cerita ini😘

Kalo rame, aku next...

KARSA DARI RASAWhere stories live. Discover now