Piiiitttt...
Suara periwit milik Pak Bunar, kepala Devisi Pramuka itu dengan sempurna tertiup bagaikan magnet yang membawa seluruh murid mendekat membentuk barisan.
Gebi dan Pandu yang ada di barisan paling depan saling melirik kikuk. Mereka berdua merasa malu sendiri karena saat bangun tidur di bus tadi mereka menyadari bahwa mereka tertidur dengan sangat romantis. Lucu sekali.
"Perhatian semuanya, sekarang saya akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok untuk mengerjakan tugas yang akan diberikan nanti sore. Kalian akan selalu bersama hingga menjelang malam dan ketika itu kalian sudah harus kembali ke tenda. Mengerti?" ujar Pak Bunar dengan tegas.
"Mengerti, Pak!" sahut seluruh siswa.
"Baik, disini sudah ada rekan-rekan saya, yaitu Rito, Jonny, Alex, Rendra, Qori, Manda dan Sarah yang akan menjadi pemandu kalian dalam acara ini. Mereka sudah dengan catatan mereka yang isinya adalah nama-nama kalian. Satu kelompok terdiri dari 10 orang, dan yang namanya tidak disebutkan oleh rekan saya, kalian kebagian tugas untuk menjadi panitia di dalam acara ini. Dan setelah kalian bertemu dengan teman sekelompok kalian serta pemandu kalian, kalian langsung membangun tenda untuk kalian tidur nanti malam. Mengerti?"
"Mengerti, Pak!"
"Baiklah, silakan." Pak Bunar berujar kepada ketujuh rekannya untuk menjalankan tugas mereka.
Ketujuh rekannya, yakni para senior Pramuka, mulai mengabsen nama-nama yang ada dicatatan mereka. Manda mengambil alih kelompoknya untuk berkumpul disisi kiri.
"Aranda Salshabilla," teriak Manda dengan tegas.
"Bagas Farhan, Charnel Ziva, Didi Supidi,"
"Lalu... Gebi Kintan Clarasya, Gibran Bagaskara,"
Gebi dan Gibran berjalan bersamaan menuju barisannya.
"Yang kelas kita cuma kita sama Ziva, Geb?" tanya Gibran.
"Mungkin, Gib." jawab Gebi sambil menunggu Bu Manda menyebutkan nama lagi.
"Kemudian, Larasabilla, Nadine Aliya."
Gibran memutar bola matanya malas sambil berdecak sebal. "Sialan, kenapa harus sekelompok sama Nadine sih?!"
"Kenapa, Gib?" tanya Gebi heran. Gibran merespon dengan pandangannya yang langsung menatap Nadine yang sedang berjalan kearah barisan mereka.
Gebi melihat kearah Nadine. "Hah?!"
Nadine melirik sinis kearah Gebi sambil menggibaskan rambutnya yang ia gerai. "Najis gue sekelompok sama lo." gumamnya.
Gebi berdecih, ia menahan dirinya agar tidak menarik rambut gadis itu. Pasalnya ia sudah geram sekali melihat Nadine yang begitu menyebalkan.
"Selanjutnya ada dua nama lagi yang akan tergabung dikelompok tiga, Pandu Longsadapit dan Sabilla Refania."
Pandu dan Gebi sama-sama membelalakan matanya.
"Kenapa harus sama dia?" batin mereka masing-masing.
Sedangkan Nadine tak berhenti-hentinya tersenyum sumringah karena doanya agar sekelompok dengan lelaki idamannya terkabul.
"Kalo jodoh emang nggak kemana," Nadine langsung menggandeng tangan Pandu.
"Dih, apaan sih lo." Pandu menepis tangan Nadine.
"Perhatian!" suara Pak Bunar terdengar lagi. Seluruh pandangan kini beralih kepada beliau yang berdiri di hadapan mereka dengan beberapa guru lainnya.
"Setelah kalian sudah terbagi dalam kelompok masing-masing, kalian boleh membangun tenda dengan teman kalian, bebas, maksimal lima orang. Nggak diharuskan dengan teman sekelompok, kalian bisa bebas memilih. Tetapi jika sudah selesai membangun tenda dan beristirahat sejenak, kita akan berkumpul disini lagi untuk memulai tugas." ujar Pak Bunar dengan begitu wibawanya. "Mengerti, anak-anak?"
YOU ARE READING
KARSA DARI RASA
RandomPandu Longsadapit, Flat Boy yang sebelumnya tidak tahu apa arti kehidupan, sebelum akhirnya bertemu dengan Gebi Kintan Clarasya- si cewek nyebelin yang membuatnya merasa jengah jika bertemu gadis itu. Mereka saling membenci, saling beradu argumen, b...
