Chapter 23

1.5K 94 4
                                        

Motor Mohan terparkir di sekolah mereka, Aqeela menatap ke arah Mohan yang membuka helm full face nya.

Mohan menyugar rambutnya. "Cakep ya?"

Dengan wajah tengilnya itu Mohan menatap Aqeela yang seperti orang nervous, sedangkan Aqeela langsung berdehem pelan dan menatap ke arah siswa-siswi yang mulai berdatangan.

Hampir saja Aqeela ketahuan menatap Mohan tanpa berkedip.

"Orang nanya gak di jawab," ucap Mohan.

"Mana ada cakep, kayak dora gitu!"

"Dora?"

"Iyalah. Kan rambut lo belah tengah, jadi ya mirip dora," ujar Aqeela sekenanya.

"Boleh juga tuh di miripin sama dora, dora kan baik hati, gak suka bohong kayak lo."

"Kapan gue bohong sama lo?" Sengit Aqeela.

"Um, kapan ya... Udah sering deh,"

Siswa-siswi menatap mereka berdua, ada suka dan pastinya banyak juga yang tidak suka karena kedekatan mereka.

Bagi para siswi yang mau mendekati Mohan selalu terkendala karena adanya Aqeela yang selalu bersama Mohan.

Maka dari itu Aqeela bisa dibilang bersyukur karena bisa menghabiskan banyak waktu bersama Mohan, karena banyak sekali perempuan yang ingin seperti dia. Tapi, terhalang sifat Mohan yang bisa dibilang juga gak terlalu suka berinteraksi dengan lawan jenisnya.

"Masih pagi udah nempel banget kayak perangko, nggak bisa banget apa biarin Mohan sendirian!"

"Kak Mohan, ganteng banget!"

"Mereka kurang cocok, cocoknya sama gue,"

"Apaan, tuh sih Aqeela sok cantik! Cantikan juga gue!"

Aqeela yang mendengar celotehan pedas dari siswi itu langsung menyahut dan menghampirinya. Mohan menatap Aqeela dari belakang dan memantaunya.

"Hello! Lo pada yang bilang gue gak cantik. Itu karena mata lo bukan mata Mohan, kecantikan gue adanya di penglihatan Mohan, jadi lo pada yang bilang gue gak cantik, coba tanya Mohan pasti dia bilang gue cantik, ya kan, Mo?"

Mohan menghampiri Aqeela dan berucap. "Bukan cuma cantik, lo sempurna di mata gue, Aqeela. Lo semua yang ngatain Aqeela mending ngaca dulu ya."

Aqeela tersenyum bangga menatap Mohan yang selalu membela dirinya, sahabatnya satu ini emang selalu bisa bikin salting!

Mohan menarik ransel Aqeela. "Mau ngapain?" Tanya Aqeela.

"Ranselnya sini, gue mau rangkul pinggang lo, keganggu gara-gara ransel sialan ini," bisik Mohan.

•••

"Sejak kapan seorang Mohan suka menyendiri dan ditemani sama rokok?"

Mohan yang sedang bersantai ditemani pikirannya yang berkecamuk, membuang asal rokok ditangannya.

"Bukan urusan lo." Tekan Mohan.

"Mohan, Mohan. Udah berapa banyak puntung rokok yang lo habisin tuh? Gak sesek tuh nafas? Mati, tahu rasa lo." Kekehnya.

"Lo diem anj!ng. Lo mau cari masalah sama gue?!" Sentak Mohan menarik kasar kerah baju David.

David mengibaskan bajunya yang tersentuh Mohan. "Santai, yang gue tahu seorang Aqeela gak suka cowok perokok ya,"

"Nggak usah sok tahu."

"Gue tahu banget sifat Aqeela gue, makanya gue hati-hati banget kalau deket dia,"

"Sejak kapan gue nyuruh lo klaim Aqeela sebagai milik lo?"

"Nggak usah minta persetujuan lo kali, suka-suka gue dong kalau mau jadiin Aqeela milik gue!"

Bugh!

Mohan memukul bibir David sampai mengeluarkan darah segar dan terjadilah aksi saling bogeman.

"Jangan macem-macem sama gue! Aqeela punya gue, dan kalau lo gak mau berurusan sama gue tutup mulut sialan lo ini!" Ucap Mohan penuh penekanan.

"Gue nggak takut sama sekali, Arya Mohan."

•••

"MOHAN! GUE CARIIN LO KEMANA-MANA GAK ADA TERNYATA DI KELAS!" Teriak Aqeela.

"MOHAN! INI KENAPA MUKA LO MEMAR GINI? SIAPA YANG GINIIN LO?" Panik Aqeela.

"Duduk dulu," ucap Mohan menarik pelan tangan Aqeela untuk duduk di kursi sebelahnya.

"Ini kenapa? Habis berantem sama siapa? Kita berangkat bareng, Mohan. Kenapa tiba-tiba lo bonyok gini." Cerocos Aqeela.

"Sakit, Aqeela."

"Sorry, Mo. Kepencet ya?"

Mohan menganggukan kepalanya dan memejamkan matanya.

Mohan selalu suka dengan sikap Aqeela yang selalu khawatir kepadanya.

"Farel, Regan, Haikal, kenapa kalian diem aja? Ini Mohan kenapa?" Tanya Aqeela.

"Abis nangkep ikan di kolam, kecebur trus ke pentok makanya bonyok gitu," jawab Farel.

"Serius, Rel!"

"Kita bertiga aja gak tahu, Aqeela. Mohan baru masuk kelas tiba-tiba mukanya gitu, ditanya malah kita kena semprot."

Aqeela menatap Mohan yang tersenyum kepadanya. "Malah senyum! Siapa yang jahatin lo?"

"Nggak ada, bener tuh kata Farel, gue nangkep ikan,"

"Mohan... Gue serius."

"Gue juga serius, sini obatin sambil peluk biar cepet sembuh,"

"Ini di sekolah, Mohan."

"Mo, mending lo jujur aja deh, siapa yang bikin lo gini?" Tanya Regan.

Haikal hanya menyimak obrolan mereka, karena dia tahu Mohan pasti ada sesuatu yang ditutupinya atau mengganggu pikirannya.

"Gue gapapa,"

"Sini, Qeel. Katanya mau obatin gue,"

"Gue nggak bawa obat, Mo."

"Obatnya peluk. Ayo pulang, obatin gue dirumah sepuasnya."

***

-TBC-

Jangan lupa ✨

Komentar juga, biar semangat updatenya.

Terimakasih semuanya, see you🫶


Be Loved! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang