Chapter 53

850 51 16
                                        

Aqeela menutup mulutnya dan membulatkan matanya. "What? Halangan? Gimana ini, Mo!"

Mohan mendekati Aqeela dan berucap. "Kenapa, Sayang? Kenapa?" Tanyanya ikutan panik.

Aqeela menghela nafas dan merosotkan bahunya.

"Sayang? Dengerin aku ya, kenapa?" 

Air mata Aqeela menggenang di pelupuk matanya, dan perlahan menetes.

"Kesel, deh!"

"Kesel sama aku? Aku buat salah ya?" Tanya Mohan dengan ekspresi khawatir.

Diam, tak ada sahutan dari Aqeela.

"Sayang." Panggil Mohan.

"Iyaaa?" Sahut Aqeela.

Mohan berjongkok di bawah dan memegang tangan Aqeela. "Pms emang ngeselin banget. Tapi, dengerin aku dulu boleh?"

Aqeela menganggukan kepalanya patuh.

"Kamu kenapa?" Tanya Mohan lembut.

"Malu, ih!"

"Nggak boleh malu-malu, bilang aja."

"Stok pembalut aku habis." Ujar Aqeela cepat dan menatap ke lain.

"Kenapa nggak bilang dari tadi, Sayang..."

"Aku beliin dulu ya, kamu kirim aja contoh pembalutnya gimana." Lanjutnya.

"Okay!" Jawab Aqeela.

"Just okay?"

"Yeah! Emang kenapa?"

"Without saying hati-hati, Sayang? Mau aku  tabrakin ya motornya?!"

"Nggak boleh ngomong gitu!"

"Kamu ngeselin."

"Take care, my beloved!" Ucap Aqeela tersenyum manis.

Mohan berteriak kegirangan dan berlari cepat keluar dari kamar Aqeela, sedangkan Aqeela tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

•••

Setelah percakapan terakhir mereka berdua, Farel seperti orang linglung jika sudah pulang sekolah.

Kerjaannya hanya minum, minum dan minum.

Mulutnya berkata ikhlas. Namun, terlihat jelas dari sorot matanya berkata tidak.

"Aqeela," lirihnya.

"Ini udah ketiga botol, lo bisa berhenti nggak sih?" Kesal Jeslyn.

Jelas saja Jeslyn kesal ke Farel, dirinya disuruh datang ke apartemennya hanya untuk melihat pemandangan ini.

"Diem."

"Lo yang diem, Farel! Gue muak banget sama lo."

Farel menghampiri Jeslyn dan menyudutkannya di dinding sambil mencengkram erat dagunya.

Jelsyn ingin bersuara meminta dilepaskan. Tapi, justru Farel semakin menguatkan cengkramannya.

"Cewek m*rahan kayak lo mending diem, Je. Berisik." Ucapnya pelan namun tajam.

Jeslyn menatap nyalang ke mata Farel, tak ada sorot mata ketakutan yang ada keberanian.

"Batalin tunangan. Nggak sudi gue seumur hidup sama lo."

Farel terkekeh kecil. "Yang mau seumur hidup sama lo siapa? Gue mau merusak lo aja,"

"Sekarang udah 'kan? Lepasin gue."

"Nggak mau."

"S-sakit." Lirihnya menahan sakit akibat cengkraman yang semakin menguat.

Farel berbisik tepat di bibir Jelsyn. "Mau apa, hm?"

Be Loved! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang