Chapter 29

1.3K 90 8
                                        

Happy reading💕

***

"MOHAN, BUKA PINTUNYA. GUE MINTA MAAF!" Teriak Aqeela histeris.

"Mo, maafin gue."

"Gue suka lo posesif, gue suka lo larang, gue suka semua tentang lo. Tapi, tolong jangan jauhin gue."

Aqeela menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis tersedu-sedu.

Dirinya menyesal kenapa selalu menerima ajakan David, sampai mengabaikan Mohan.

Aqeela menggedor pintu rumah Mohan dengan kencang. Dipikirannya, biarkan saja orang-orang melihat dia seperti orang kesetanan yang penting Mohan menerima permintaan maaf dia.

Tapi, di sisi lain, dia overthingking karena sifat Mohan susah buat memaafkan atau melupakan hal yang dia tidak suka.

Jika bisa jujur dan tidak gengsi, Aqeela akan mengungkapkan perasaan. Dia hanya takut semuanya bertepuk sebelah tangan melihat dari cara Mohan yang terkadang susah sekali buat di tebak.

Aqeela sampai berpikir. Terlalu banyak hal yang ditutupi Mohan sama dia, dan itu membuatnya bertindak untuk dekat sama orang lain.

Bahkan, dia berkali-kali mencoba membuka hati untuk orang lain. Namun, hasilnya tetap nihil.

"MOHAN! KALAU LO NGGAK BUKA PINTU, JANGAN HARAP LO TAHU KEHIDUPAN GUE LAGI!" Teriak Aqeela penuh ancaman.

Hening, tak ada tanggapan dari Mohan.

"Oke, fine! Gue nggak akan ganggu lo lagi." Ucap Aqeela sambil berjalan menuju rumahnya.

Mohan yang dibalik pintu mendengar ucapan dan penuh ancaman dari Aqeela langsung membuka pintu rumahnya dan berlari menghampiri Aqeela.

Grep!

Mohan memeluk tubuh Aqeela dari belakang dan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Aqeela.

Mohan menghirup dalam parfum vanilla yang dipakai Aqeela.

"Maaf," lirih Mohan.

"Gue benci diri gue sendiri, Qeel. Gue benci!" Maki Mohan sambil memeluk Aqeela dengan erat.

"Gue cemburu, gue nggak bisa lihat lo sama orang lain! Dan lebih parahnya lagi gue nggak akan bisa marah lama-lama sama lo!"

Aqeela memegang kedua tangan Mohan yang memeluk dirinya dan ingin membalikan badannya.

"Jangan, gini dulu, Qeel. Gue mau redahin emosi gue. Takutnya gue kelepasan. " Ucap Mohan.

Mereka diam dengan pikiran mereka masing-masing tanpa mereka ucapkan, dan tibalah sebuah mobil di dekat mereka.

Orang-orang didalam mobil itu keluar dan melihat mereka berdua sedang berpelukan erat.

"Mohan, Aqeela," panggil mereka bersamaan.

Ya, mereka adalah orang tua Mohan dan Aqeela.

Mohan dan Aqeela menoleh bersamaan dan melepaskan pelukannya.

"Kenapa? Ada apa kalian berdua? Tumben," tanya Ando Papanya Aqeela

"Masuk dulu kerumah, nggak enak, entar ada yang lihat," ucap Ratna menimpali.

Mereka bersamaan memasuki rumah Mohan dan duduk di ruang tamu.

Posisi Mohan didekat Mamanya Aqeela, dan Aqeela didekat Bundanya Mohan.

"Ada apa? Coba kalian berdua jelasin," ujar Bima Ayahnya Mohan.

Mohan menunjuk Aqeela dan berucap. "Ma, aku lagi marah sama dia, bilangin!" Ucapnya mengadu ke Dewi, Mamanya Aqeela.

"Loh, kenapa? Tiba-tiba banget kalian marahan?" Tanya Ratna.

Aqeela menggoyangkan pelan lengan Bunda Mohan. "Bunda, dia lagi nggak mau ngomong sama aku, bilangin, aku minta maaf,"

Ando dan Bima menghela nafas berat.

Mohan menatap Aqeela. "Lo jahat! Gue nggak suka! Kenapa lo pergi sama David? Gue nggak mau lo jalan sama cowok lain." Kesal Mohan dengan muka memerah padam.

Mereka semua tertawa kencang, kecuali Aqeela.

Mohan mengernyitkan dahinya. "Kenapa ketawa?" Tanyanya.

"Mohan-Mohan, kami yang nyuruh Aqeela jalan sama David, biar kamu jealous, haha." Ujar Ando.

"Aku nggak ngerti,"

"Mo, bukan salah Aqeela. Ini semua rencana kami. Terutama, Bunda. Itu semua karena kamu akhir-akhir ini lebih pendiam dan sering banget keluar malam, makanya bikin rencana ini supaya lihat sikap kamu gini lagi," jelas Ratna.

"Bunda sampai mikir, anak Bunda kenapa ya kok berubah gini, Bunda ceritain ke Mama Dewi, dan kebetulan ada David yang sering ngajak Aqeela jalan jadi di iyain aja," lanjutnya.

"Kok Aqeela mau?"

"Bunda yang minta tolong, iya 'kan, Qeel?"

"Iya, Bunda. "Jawabnya.

"Tapi, aman aja, Mo, Aqeela jalan sama David itu dibawah pengawasan, nggak berduaan." Ucap Ando.

"Baru lihat dia jalan berdua aja udah tantrum, gimana kalau sampai jadian," ledek Bima.

"Ayah..." Kesal Mohan.

"Gue di maafin, Mo?" Tanya Aqeela penuh harap.

"Iya, Acqeela."

Orang tua mereka tersenyum melihat anaknya bahagia, dan semoga bahagia seterusnya.

"Bodoh. Gue bahkan nggak sadar kelihatan berubah." Maki Mohan dalam hati.

•••

Mentari pagi yang cerah dan awan berwarna biru mulai bermunculan.

Dengan suara kicauan burung-burung yang berterbangan menambah hangatnya suasana di pagi hari.

Seperti biasa aktivitas mereka, ialah bersekolah.

Farel memasuki area halaman sekolah dengan kedua tangan di saku celananya.

Farel tersenyum tampan dan menebarkan pesonanya di depan para siswa-siswi.

Farel memberhentikan langkahnya karena ada seorang siswi tiba-tiba menggandeng tangannya. Farel menatap lengannya yang digandeng.

"Farel, lo suka one night stand?" Tanyanya dengan nada menggoda.

Farel menelisik penampilan siswi itu dengan make up lumayan tebal, dan membaca name tag di dadanya. Clara Agnesia.

"Clara," ucap Farel.

"Yes, Babe? Lo nggak mau coba sama gue?"

Farel bedecih dalam hati, dipikirannya terlalu banyak perempuan murahan di dunia ini bahkan lebih tepatnya gratisan.

"Lo seksi," ucapannya sambil menatap seragam ketat Clara.

Clara memandang takjub atas pujian Farel kepadanya. "Really? Jadi, gimana? Kapan lo mau coba?"

Farel berbisik di telinganya. "Entar malem aja gimana?" Tawarnya.

•••

Next?

Babaiiii👋

Be Loved! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang