Chapter 55

746 60 15
                                        

Satunya terpaksa mengakhiri, dan yang satunya terpaksa menerima.

***

Aqeela terus membolak-balikkan album itu tapi hati dan pikirannya entah kemana.

"Sayang?" Panggil Dewi.

"Ya, Ma?"

Dewi tersenyum teduh dan mengelus rambut Aqeela.

"Aqeela tidur duluan boleh, Ma? Mama sendirian nungguin Papa pulang, gapapa?"

"Gapapa, bobo gih." Ucapnya sambil mengecup kening Aqeela.

•••

Mohan berjalan tergesa-gesa menuju motornya dan meninggal Miko yang terus menatapnya.

Tekatnya sudah bulat, dia harus menemui Farel dan meminta semua penjelasan.

Mohan menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi dan menerobos pengendara yang berlalu lalang tanpa memikirkan dirinya akan bahaya.

Angin malam berhembus memasuki jaket yang dia pakai.

Miko dari belakang mengikuti kemana Mohan pergi, dia terus mengikuti Mohan karena dia tahu emosi seorang remaja belum terlalu stabil, bisa meledak kapan saja.

Miko memasang earphone di telinga kanannya dan menelepon Shaka, karena khawatir dengan keadaan Mohan.

Tidak menunggu lama, teleponnya langsung diangkat.

"Ka, lo lagi dimana? Gue butuh lo." Ucap Miko tanpa basa-basi.

"Masih di rumah sakit gue, lembur." Jawab Shaka di seberang telepon.

"Mohan."

"Kenapa sama adek gue?!"

"Gue shareloc sekarang, lo ikutin aja laju motor gue. Mohan lagi marah, takutnya dia kelepasan."

Miko mematikan sambungan teleponnya dan tak lupa dia membagikan lokasi.

•••

Aqeela menelisik seluruh isi ruangan kamarnya, untuk cctv dia sudah melepaskannya dan membuangnya.

Dari tirai jendela sampai ke kolong kasur dia memeriksanya.

Sebelum menutup pintu balkon dia menatap langit-langit yang sedikit mendung dan sepertinya hujan akan turun.

Dia mengambil ponsel di saku celananya dan menekan tombol telepon, untuk menghubungi kekasihnya.

"Mohan kemana ya? Kamarnya kayanya sepi deh." Monolognya sambil menatap kamar kekasihnya.

Dering telepon menandakan kekasihnya mengaktifkan ponselnya tapi tidak mengangkat panggilannya.

"Kemana sih? Tumben banget jadi orang sibuk."

Dia terus menatap layar ponselnya dan berdecak pelan. "Nongkrong kali ya? Atau kemana? Tumben, nggak ada kabar."

"Ayah sama Bunda kayanya belum pulang, rumah sepi."

Dia menutup pintu balkon dan merebahkan tubuhnya di kasur, Aqeela meletakkan ponselnya di dada dan terus bergumam 'angkat dong'

Dia mengucek matanya karena dilanda rasa kantuk dan perlahan memejamkan matanya. Namun, sesekali terbangun memeriksa ponselnya, menunggu kabar kekasihnya.

•••

Shaka yang mendengar penuturan dari Miko langsung bergegas melepaskan jas berwarna putih yang melekat di tubuhnya.

Be Loved! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang