Dibawah rindang pohon-pohon dan dedaunan yang hijau, terdapat dua insan yang saling mencintai, berbagai cara yang mereka lakukan untuk bisa bersama.
Indahnya karena sama-sama saling mencintai dan cinta yang setara serta searah.
Danau biru yang menjadi saksi awal dari sebuah bersatunya cinta mereka dan resminya hubungan yang awalnya hanya sekedar sahabat, sekarang berstatuskan pacaran. Seperti bahasa jaman now bisa dibilang pacaran level dua atau ahkan lebih karena cincin sudah tersemat di jari manis.
Canda tawa mengiringi kisah cinta mereka.
Duduk berdua saling berhadapan, karena seindah apapun pemandangan di dekat mereka. Keindahan orang yang di cintai hal yang utama dan tidak mampu mengalihkan pandangan bahkan sedetikpun.
"Aku bawa pulpen sama buku." Celetuk Aqeela sambil merogoh isi ransel kecilnya.
"Aku bawa kamera" Sahut Mohan yang juga memperlihatka kamera didalam bajunya, sebab yang kelihatan hanya kelihatan strap nya saja.
"Aku bisa menulis." Ujar Aqeela dengan memamerkan buku diary nya.
"Aku bisa memotret." Ucap Mohan.
"Jadi, kamu mau abadi dimana?" Ucap mereka bersamaan.
Mereka berdua tertawa bersama.
"Mohan, nggak semua kisah aku tulis,"
"Aqeela, nggak semua wajah ingin aku foto,"
"Terus?" Tanya Aqeela penasaran.
"Kamu dulu,"
"Kamu duluan, kamu 'kan cowok."
"Barengan aja gimana?"
"Boleh!" Setuju Aqeela.
Dalam satu tarikan nafas dan senyuman tak luntur diwajah, mereka berdua berucap bersama. "Tapi, kamu berbeda, sayang. Kamu ingin aku simpan. Dalam suatu kenangan yang abadi,"
Mohan meraih kedua tangan Aqeela. "Jadi, kamu ingin abadi dimana?" Ucap mereka berdua.
"Kamu ikutin kata-kata aku ya?!" Tanya Aqeela sedikit kesal.
"Mana ada, emang dari hati dan pikiran aku itu."
"Berarti...?"
"Kita jodoh!" Ujar Mohan.
"Kamu mauuu?" Tanya Aqeela.
"MAUUU DONG!" Teriaknya.
Aqeela mencubit kecil perut Mohan karena selalu membuat dirinya salah tingkah.
"Awss! Sakit." Ringisnya.
"Lebay, ih. Mau mulai sekarang?" Tanya Aqeela.
"Mauu. Kamu duduk disana, aku foto dan sekalian aku rekam. Tapi, kamu tulis puisi sambil dibaca ya, biar aku dengar." Ujarnya dengan menunjuk bangku kecil yang membelakangi danau.
"Siapp, cumiii!"
Aqeela membuka buku diary dan menulis menggunakan pulpen tinta hitam.
Sambil menulis Aqeela membacakan tulisannya. "Dalam secarik kertas putih, aku menulis tentang mu biar semua dunia tahu betapa beruntungnya aku. Mataku yang selalu terkunci ketika menatap mata teduh itu, senyuman manis yang sangat khas dengan wajah karismatik itu dengan lancang merebut hatiku, hingga tanpa sadar aku tenggelam dalam rasa ku. Mimpi-mimpi yang telah kita rajut bersama tak akan ku biarkan redup begitu saja, akan ku teriakkan kepada semesta agar melanglang buana sampai pelosok dunia sana. Terimakasih, sayang. Telah hadir dalam bentuk panorama terindah yang selalu membuat diriku jatuh, sejatuh-jatuhnya ke dalam pesona mu."
Mohan mematikan rekamannya dan bertepuk tangan riang. Dia berkata. "Buat aku, sayang?"
Aqeela menganggukkan kepalanya dan tersenyum tulus. "Of course, babe."
Mohan tersenyum sumringan, berjalan menghampiri kekasihnya dan memeluknya erat. "Thank you, babe."
"I love you. You mean the world to me." Bisik Mohan dengan pelan.
"I love you more!" Jawabnya.
Mohan tersenyum tulus, dia menangkup kedua pipi kekasihnya dan berkata. "Orang lain nggak perlu tahu perjalanan kita gimana. Tapi, semua orang harus tahu kalau kita happy ending."
"Aku sayang sama kamu, Mo."
"Aku jauh lebih sayang, aku bangga dan aku beruntung bisa milikin kamu, pasti banyak makhluk hidup yang iri sama aku karena bisa dapatin perempuan sesempurna kamu. You're perfect, my beloved!"
Aqeela mengulum senyumnya. "Siapa yang iri, hm?"
"Lihat disekitar kita, rumput bergoyang-goyang lihat keindahan kamu, ikan bermunculan lihat keromantisan kita. Mereka iri, sayang."
"Nggak, lah. Ngawur kamu!"
Mohan menepuk air di danau dengan ranting kecil. "Hei ikan! Kalian iri ya?! Kalian juga nggak boleh ya natap cewek aku lebih dari sedetik, aku marah, aku cemburu! Dia punya aku!" Ujarnya sedikit bercanda namun terdengar posesif.
Aqeela menarik tengkuk kekasihnya. "Hey hey, look at me. Aku punya kamu, selamanya akan tetap begitu."
"Really?"
"Sure."
Mohan menjauhkan tubuhnya dan berteriak ke arah kekasihnya. "AKU CINTA KAMU, AQEELA AZA CALISTA!"
"AKU JUGA CINTA SAMA KAMU, ARYA MOHAN!"
Aqeela sedikit berlari menghampirinya kekasihnya dan memeluknya erat, dengan senang hati Mohan menerimanya.
Dia menggendong Aqeela ala bridal style dan memutar-mutar tubuh mereka.
Kebahagiaan, tawa menggema, dan danau biru menjadi saksi bisu akan cinta indah yang mereka miliki.
***
SELESAI
Terimakasih sudah mengikuti kisah Be Loved! sampai akhir. Terimakasih sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup Mohan dan Aqeela.
Mau S2 versi hidup bersama setelah menikah? Kejauhan halunya, ga sih? Haha.
Kesan dan pesan kalian membaca cerita ini.
Sampai jumpa🤍🙌
KAMU SEDANG MEMBACA
Be Loved! [END]
Teen Fiction"Gue cinta sama lo." Ucap Mohan penuh penekanan. "Hah?" Pernyataan yang paling mengejutkan dalam hidup Aqeela ialah ketika sahabatnya menyatakan cinta. Bahkan mereka selalu bersama. "Lo terlalu jauh untuk gue gapai, Mo." "Iya tahu, sejauh itu kita b...
![Be Loved! [END]](https://img.wattpad.com/cover/362403558-64-k694358.jpg)