Clara memandang takjub atas pujian Farel kepadanya. "Really? Jadi, gimana? Kapan lo mau coba?"
Farel berbisik di telinganya. "Entar malem aja gimana?" Tawarnya.
"Boleh banget! Kebetulan jadwal gue nggak lagi padat." Ucapnya antusias.
"Jadi, lo murahan apa gratisan?" Tanya Farel sambil menatap Clara dengan remeh.
Clara yang ditanya begitu, bukannya tersinggung malahan tersenyum manis.
Jari-jemari lentik Clara mengelus pelan wajah Farel. "Kalau untuk sih tampan ini, um... Harusnya gratis nggak sih? Haha."
"Bitch? Lo menarik juga."
Lagi dan lagi Clara hanya tertawa menanggapi ucapan Farel yang menghina dirinya, baginya hinaan itu kalah dengan ketampanan seorang Farel. Cowok playboy yang selalu menarik perhatian hampir seluruh siswi di sekolah ini, dan termasuk dirinya.
Clara menengadahkan tangan kanannya di depan Farel, Farel yang peka langsung memberikan Ponselnya, dan Clara mengetik nomornya.
"Nomor gue udah ada di handphone lo, dan begitupun sebaliknya. Thank you, Farel. Gue suka!"
Mereka berdua berjalan berdampingan dengan Clara yang masih merangkul lengan Farel.
Disaat mereka berdua berjalan berdampingan, ada Jeslyn yang melihat ke dekatan mereka. Jeslyn hanya menatap tanpa ekspresi, pemandangan seperti ini sudah menjadi makanannya sehari-hari.
Clara menatap Jeslyn dari atas sampai bawah. "Cewek lo 'kan?" Tanyanya.
"Ya,"
"Kok mukanya kayak monster ya? Haha!" Ledek Clara.
"Biasanya penampilannya modis banget, cantik. Kenapa hari ini ada lebam ya," ucapnya sambil menatap Jeslyn yang terus berjalan menuju kelasnya.
"Kepentok, mungkin. Gue nggak tahu," jawab Farel sekenanya.
"Nggak tahu tentang cewek sendiri, wow! Amazing!"
"Dia sama kayak cewek lainnya, mainan gue."
Clara manggut-manggut. "Lo nggak ada niatan serius gitu sama cewek?
Farel terkekeh. "Semua cewek itu murahan. Termasuk lo. Buat apa gue serius? Apa lagi cewek yang bisa dibeli dengan uang,"
"Kalau gue beda dari yang lainnya gimana?" Tanya Clara menantang.
"Cuma beda harga 'kan?"
"Farel, Farel, ternyata lo semenarik ini ya,"
"Lo nggak takut sama gue?"
"Lo serius nanya gini? Apa yang gue takutin sama berandalan tampan ini? Haha, gue rela buat lo seutuhnya."
Clara berjinjit dan mengecup pipi Farel. "Kabarin gue," ucapnya dengan mengedipkan sebelah matanya.
•••
Mohan dan Aqeela berjalan berdampingan menuju kelas dengan tangan kanan Mohan di pinggang Aqeela.
Mereka berdua berpapasan dengan David yang berjalan menuju toilet.
Mohan mencengkram pelan pinggang Aqeela. "Lo ingat ucapan gue semalem 'kan?" Bisiknya.
"Mo, ini sekolah," jawab Aqeela.
David tersenyum manis ke arah Aqeela, dan dibalas senyuman kikuk oleh Aqeela.
"Lo takut nggak kehilangan gue?" Tanyanya Mohan mengalihkan perhatian Aqeela yang melihat David.
"Takut. Lo juga nggak boleh marah-marah sama gue,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Be Loved! [END]
Fiksi Remaja"Gue cinta sama lo." Ucap Mohan penuh penekanan. "Hah?" Pernyataan yang paling mengejutkan dalam hidup Aqeela ialah ketika sahabatnya menyatakan cinta. Bahkan mereka selalu bersama. "Lo terlalu jauh untuk gue gapai, Mo." "Iya tahu, sejauh itu kita b...
![Be Loved! [END]](https://img.wattpad.com/cover/362403558-64-k694358.jpg)