Chapter 19

1.7K 121 6
                                        

Aqeela menuruni tangga dengan langkah cepat dan melirik jam tangannya.

"Aduh, telat nih! Pasti Mohan udah berangkat duluan."

Aqeela mencari keberadaan Mamanya, ternyata sedang sarapan bersama Papanya.

"Ma, Pa, Aqeela berangkat ya. Udah telat," ucap Aqeela cepat.

"Nggak boleh main nyelonong pergi aja, salim dulu," pekik Dewi.

"Oh iya, lupa. Dah Mama, dah Papa."

"Sarapan dulu, Qeel," sahut Ando.

Aqeela mengecup pipi Papa dan Mamanya bergantian. "Nggak sempat, Pa. Takutnya Mohan udah berangkat duluan. Bye, Papa!"

Aqeela berlari terbirit-birit keluar dari pekarangan rumahnya.

"Dor!" Ujar Aqeela berniat mengejutkan Mohan. Tapi, tidak berhasil karena dari langkah dan suara ngos-ngosannya saja Mohan sudah dengar.

Mohan berdiri menunggu Aqeela di dekat motornya. "Aw! Kaget banget!" Ucap Mohan meledek Aqeela.

Aqeela memukul pelan bahu Mohan."Heh! Gitu banget."

"Lama banget, sih." Gerutu Mohan.

"Kesiangan, gara-gara lo sih ngajak jalan-jalan semalem makanya gak bisa tidur gue, kekenyangan,"

"Apa hubungannya gak bisa tidur sama kekenyangan, Acqeela." Geram Mohan mencubit pelan pipi Aqeela.

"Ada dong, 'kan lo jajanin gue banyak banget. Sampai rumah kerjaan gue nyemil mulu, trus gak ngantuk deh," jelas Aqeela.

"Kenapa lo gak call gue, 'kan gue bisa temenin lo."

"Lupa, harusnya lo tanggung jawab, gara-gara ulah lo."

"Lo gak lagi hamil, Aqeela."

"Hamil?"

"Tuh, tanggung jawab. Tanggung jawab 'kan biasanya mengarah kesana,"

"Sinting, gila miring, ogah juga gue." Kesal Aqeela.

Mohan tersenyum jahil. "Ah, yang bener?"

"Udah ayo, keburu telat."

Mohan menyalakan mesin motornya."Naik, pegangannya harus peluk, kalau nggak, gak akan jalan motornya.

Demi menjaga ketentraman bersama Aqeela mengangguk kepalanya dan naik ke motor Mohan.

•••

Mohan dan Aqeela telah tiba dia parkiran sekolahnya.

Jeslyn menghampiri Mohan dan berucap. "Mo, gimana yang kemarin, enak?"

Mohan mengernyitkan alisnya bingung."Enak?"

Sebagian orang di dekat mereka menatap penuh heran ke arah Mohan dan Jeslyn termasuk Aqeela.

"Iya, bekal dari gue kemarin pasti enak 'kan?" Tanya Jeslyn menaik turunkan alisnya.

Aqeela yang berada di samping Mohan menghembus nafasnya.

"Terus kenapa lo ngomong gitu?" Tanya Mohan sengit.

"Lah bener gue ngasih yang enak-enak. Emangnya sandwich gak enak?"

"Sekali lagi lo ngomong ambigu kayak gitu lagi, abis lo." Ancam Mohan.

"Dan harus lo tahu, setiap kali lo kasih bekal gak pernah gue makan. Paham?!"

"Biasa aja kali, Mo. Orang gue bercanda, iya 'kan Aqeela?"

Be Loved! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang