Chapter 54

766 51 16
                                        

Untuk end nya, kemungkinan akan di private, bagi yang belum follow ga akan tau endingnya.

Atau mungkin, kata-kata nya sebagian akan di kurangi, di follow yaa🤗

Happy reading💕

•••

Di kehidupan yang hanya sekali ini rasanya tidak adil, jika akhirnya yang kita jumpai itu merelakan, mengikhlaskan dan melepaskan.

***

Langit berwarna jingga kini mulai menghilang digantikan dengan langit berwarna hitam.

Perasaan gundah, dan perasaan yang semakin sesak kini menghantui Mohan.

Pikirannya kacau, tidak ada yang paling menyakiti ketika dikecewakan oleh orang yang disayangi.

Ingin meluapkan emosi rasanya tak mungkin.

Sakit hati bukan sekedar luka, bukan memar yang bisa reda. Ia menancap tanpa suara, menghancurkan semuanya tanpa sisa.

Mohan sedang berada di tempat yang jauh dari riuh suara manusia, dia ingin meluapkan semuanya tanpa harus menyakiti orang-orang disekitarnya.

Dia memukul pohong besar di depannya, dan berteriak nyaring meluapkan emosinya.

Tangannya gemetar menahan amarahnya yang semakin meluap, dia terus mengepalkan tangannya dan memukul pohon sampai tangannya mengeluarkan darah segar.

Dari kejauhan sepasang mata menatapnya tanpa ekspresi, dia menatap lurus ke arah Mohan.

Hari semakin gelap dan Mohan mengira dia sendiri tanpa ada orang lain yang melihatnya. Dia tidak ingin terlihat lemah dengan air mata perlahan menetes di dahinya.

"BUNDA!" Teriak Mohan dan terdengar keputusaan dari suaranya.

Dia terduduk sambil memeluk lututnya.

Isakan tangisnya semakin terdengar, dan racauan kecil yang hanya terdengar di telinganya sendiri.

Seseorang itu berjongkok di belakang Mohan, dan menepuk pelan pundaknya. "Bro?" Panggilnya.

Mohan tersentak dan menghapus cepat air matanya.

"Come on, Bro! Jangan nyakitin diri sendiri, masih banyak hal menyenangkan diluar sana."

Mohan menoleh kebelakang dan memutar tubuhnya. "Miko,"

Miko menaikkan alisnya sebelah dan tersenyum tipis.

"Kenapa lo ada disini?" Tanya Mohan serak menahan isakan tangisnya.

"Ngikutin lo, masih nggak percaya sama yang gue bilang tadi?"

Mohan terkekeh kecil. "Mau lihat buktinya."

"Nggak gue lihatin buktinya aja lo udah sehancur ini, gimana kalau gue lihatin?"

Mohan mengisyaratkan dia baik-baik saja.

"Bukti rekaman dari kejauhan atau rekaman sekaligus suaranya?"

Be Loved! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang