Mohan dan Aqeela yang masih di belakang halaman rumah Mohan, mereka berdua bercengkrama layaknya sepasang kekasih.
"Qeel, lo percaya gak dengan kata-kata sampai ketemu di kehidupan selanjutnya, ibaratkan kita nih ya, ketemu lagi tapi dalam keadaan seagama gitu." Jelas Mohan dengan menerawang jauh.
"Mau dibilang percaya atau gak susah juga, Mo. Soalnya di keyakinan gue, kehidupan selanjutnya itu ya di akhirat,"
Mohan menganggukan kepalanya. "Oh gitu, jadi beneran gak bisa ya kita satu keyakinan gitu,"
"Bisa dong!" Jawab Aqeela cepat.
"Gimana caranya? Secara 'kan kita berbeda,"
"Mualaf aja, mau gak gue tuntun. Ayo, ashadu..." Ucap Aqeela mantap dan memegang jari-jemari Mohan.
"Ada-ada aja, gue serius, Aqeela."
"Emang kelihatan gue lagi bercanda ya?"
Mohan menatap dalam kedua mata Aqeela dan berdehem pelan. "Nggak, sih. Tapi, aneh aja,"
"Kalau lo mau, Mo. Seru tahu kalau ada event gede-gedean,"
"Ramadhan?"
Aqeela menganggukan kepalanya. "Seru ngebuburit apalagi kalau terawih,"
"Aqeela, lo lupa apa amnesia sih? Kan gue selalu ikut kalau lo puasa sama cari takjil."
"Lo emang aneh." Kekeh Aqeela.
"Anehnya cuma sama lo aja. Qeel, ternyata bener kata orang-orang---"
"KATA SIAPA?" Tanya Aqeela cepat.
"Santai dong! Gitu banget."
Aqeela tersenyum sumringan dan berucap dengan lembut. "Kata siapa, Arya Mohan?"
"Gitu banget? Haha. Makanya dengerin dulu gue ngomong asal potong aja, ternyata bener kata orang-orang dia yang sulit ditakdirkan untukmu, dia lah yang paling membuatmu jatuh cinta bahkan sejatuh-jatuhnya. Ini maksud gue." Jelas Mohan.
"Cinta? Lo lagi kasmaran sama siapa?" Selidik Aqeela.
"Lo."
"Wow, amazing! Lo bercandanya kelewatan, Mohan!"
"Gue gak bercanda." Jawab Mohan dengan serius.
"Ah, yang bener? Salting nih gue!"
Pipi Aqeela blushing dan memukul bahu Mohan pelan.
"Cieee... Salting nih ye? Tapi, beneran gue bercanda, Qeel." Ujar Mohan dengan tersenyum tengil.
"Shibal! Gue pulang, bye!"
•••
Aqeela menatap langit-langit kamarnya dan tersenyum manis, dia berjalan ke arah jendela kamarnya dan melihat ke arah hamparan langit berwarna jingga.
Aqeela membiarkan rambutnya panjangnya berantakan di terpa angin. "Senja memang indah. Namun, Mohan gak kalah indah."
~ Aqeela POV.
Entahlah, sejak kapan dia mengisi hatiku, setiap kali aku hembuskan nafas ku, rasanya sangat indah jika ada dirinya. Ternyata, ruas jalan menuju hatinya terlihat sempit atau bahkan sulit ya?
Bersamanya adalah keindahan yang paling aku nantikan. Akan tetapi kemustahilan itu bisa dilewati? Atau bahkan diriku terhempaskan?
Ibaratkan, dia melangkah bagaikan angin sedangkan aku terbang bagaikan butiran pasir, sangat sulit untuk dijangkau.
Apakah ada cinta yang paling indah selain dari diriku? Setiap kali menatap keindahan dunia, pasti akan berakhir menatap dirinya.
Ingin berkata seperti apa lagi ya? Semua rasanya sudah aku ungkapan. Tapi, tidak mungkin di depan dirinya.
Padahal jika kamu tidak bisa melihat, mataku juga ini milikmu. Wahai jiwa yang tidak peka! Lihatlah ada aku, aku yang akan selalu ada untukmu, Mohan ku.
~ POV END.
Aqeela menggelengkan kepalanya dan memukulnya pelan. "Ah! Kayanya gue emang udah gila."
"Tapi, dia mikirin gue gak ya?"
•••
Salsa menghampiri Regan yang seperti mencari sesuatu di tempat kerjanya.
"Sejak kapan lo punya kebiasaan ngikutin gue?" Tanya Salsa menatap sinis ke Regan.
"Dih, geer lo. Ini 'kan tempat umum, suka-suka gue mau kemana aja,"
Salsa memicingkan matanya. "Masa? Tapi, gue tanya ke temen kerja gue, lo baru-baru ini mampir kesini,"
"Y-yaa, ini tempat umum. Emang kenapa sih? Lagi datang bulan lo?"
"Iya! Masalah buat lo?" Sinis Salsa.
"Ternyata bener ya, cewek kalau datang bulan itu bulannya gak datang beneran, kenapa sih hal kecil kayak gini aja harus bohong," ucap Regan dramatis.
"Yee, lo mah kebanyakan bergaul sama Farel makanya ketularan bego!"
"Emang beneran, Sa. Bulannya gak datang,"
"Iyalah."
"Tapi, yang datang setan. Soalnya cewek kalau pms kayak kesetanan, contohnya lo, haha!"
Salsa menarik kerah baju Regan dan berbisik. "Lo kalau mau berantem jangan disini, entar gue kena pecat. Gue kelar kerja baru gue ladeni lo."
"Beneran?"
"Hmm. Tapi, kalau gue menang lo harus comblangin gue sama Shaka, sih dokter keren itu!" Ujar Salsa menaik turunkan alisnya.
"Gimana? Deal?" Sambung Salsa.
"Enakan di lo, trus untungnya di gue apa kalau gue yang menang?"
"Gue comblangin lo sama Jeslyn deh,"
"Dih, emang gue cowok apaan! Jeslyn 'kan pacar temen gue!"
"Lo gak kepincut gitu sama bibir merah merona nya,"
"Merah merona darimana? Gue lihat biasa aja tuh, lebih merona punya lo, alami lagi," ucap Regan tersenyum jahil.
"Ada-ada aja lo, Regan. Tapi, emang sih gue semenarik itu," Salsa mengibaskan rambutnya ke muka Regan.
"Haha, bau kecombrang rambut lo!"
"Kecombrang apaan, Gan?"
"Nggak tahu, gue ngasal aja,"
Mereka berdua tertawa bersama.
"Lo pernah denger gak, Sa. Stalker obsessed protektif?"
"Didunia nyata?"
"Iya, Sa. Soalnya gue gak sengaja ke baca pas di perpustakaan kemarin bukunya, ngeri sih kalau beneran ada orang kayak gitu,"
"Itu 'kan cuma di drama-drama yang gue tonton, Gan. Gak ada kayanya kalau di real. Lagian yang lo baca 'kan sekedar buku."
"Bukunya bukan cetakan, Sa. Tapi, tulisan tangan."
***
Selamat menjalankan ibadah puasa💐
Terimakasih yang udah vote sampai hafal profil kalian satu-satu.
Sampai jumpa chapter selanjutnya.
Love you🤍
KAMU SEDANG MEMBACA
Be Loved! [END]
Fiksi Remaja"Gue cinta sama lo." Ucap Mohan penuh penekanan. "Hah?" Pernyataan yang paling mengejutkan dalam hidup Aqeela ialah ketika sahabatnya menyatakan cinta. Bahkan mereka selalu bersama. "Lo terlalu jauh untuk gue gapai, Mo." "Iya tahu, sejauh itu kita b...
![Be Loved! [END]](https://img.wattpad.com/cover/362403558-64-k694358.jpg)