Chapter 32

1.4K 79 5
                                        

Jangan pernah berharap kebahagiaan dari orang, buktinya dia satu-satunya orang yang menjanjikan kebahagiaan, kini membuat hidupku menjadi sehancur-hancurnya.

~ Salsa Anavella.

***

Riuhnya suara sahut-sahutan di dalam kelas.

Notifikasi berdenting di ponsel Salsa, mengalihkan atensi dia yang lagi bercanda bersama Aqeela.

"Bentar," ucap Salsa.

Salsa membuka layar ponselnya dan membaca notifikasi itu.

Bunda.

Nak, izin pulang dulu ya sama guru, ada yang mau Bunda obrolin sama kamu. Penting.

"Nak? Obrolin? Tumben Bunda bersikap lembut sama aku? Rasanya asing banget," batin salsa berseteru.

Salsa terus menatap layar ponselnya memastikan apakah dirinya salah bacanya.

"Bener kok. Ada apa ya?" Tanyanya dalam hati.

Aqeela melambaikan tangannya ke wajah Salsa. "Hello? Kenapa, Sa? Ada masalah?"

"Eh, gapapa kok, Qeel." Gugupnya.

Salsa tidak pernah menceritakan masalah hidupnya kecuali tentang kakaknya yang menikah dengan pacarnya, Gio.

Menceritakan kehidupan itu tak ada di kamusnya Salsa, karena baginya itu hidup dia, orang lain tidak perlu tahu tentang dia, apalagi ikut campur. Dia terlalu ragu untuk menceritakannya walaupun dia bisa dibilang sangat dekat dengan Aqeela.

Salsa takut orang-orang disekitarnya tidak bisa menerimanya, apalagi sampai membenci kedua orang tuanya.

"Qeel, kayanya gue harus pulang. Barusan Bunda ngabarin katanya ada yang mau diomongin. Kira-kira gapapa 'kan ya, gue pulang lebih awal?" Tanya Salsa.

"Gapapa banget, Sa. Ayo gue temenin izin sama guru." Ajak Aqeela sambil membantu membereskan alat tulis Salsa.

"Mau peluk," ucap Salsa menatap Aqeela.

Aqeela merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan Salsa.

Salsa menghamburkan pelukannya kepada Aqeela. "Makasih ya, Aqeela."

"Sama-sama."

"Nggak usah ditemenin, Qeel. Gue bisa sendiri."

"Gue temenin." Putus Aqeela.

Salsa menganggukkan kepalanya dan tersenyum, mereka berdua berjalan beriringan.

Dia beruntung punya Aqeela sebagai temannya. Andai dia punya keberanian untuk menceritakan beban yang dipundak dia.

Sejujurnya Salsa lumayan iri dengan kehidupan Aqeela yang mempunyai Papa yang selalu memeluknya, menjaganya. Mempunyai Mama yang selalu bersikap hangat kepadanya, dan Aqeela mempunyai Mohan yang selalu menjadi garda terdepan yang selalu ada untuknya.

Setelah mendapatkan izin dari guru dan Aqeela kembali ke kelas.

Tanpa Salsa sadari Aqeela terus menatap sendu ke arah dirinya, sikap Salsa terlalu terbaca oleh Aqeela. Dia sangat mengenal Salsa, dan dia tahu pasti ada hal yang disembunyikannya.

"Sa, tolong hidup lebih lama. Gue sayang sama lo," lirih Aqeela.

•••

Salsa bergegas pulang ke rumahnya dengan taksi online yang di pesannya.

Setelah sampai di rumahnya, Salsa mengernyitkan dahinya bingung. Pasalnya dirumahnya tidak ada mobil yang biasa di pakai Bundanya.

"Bunda beneran nggak sih? Apa Bunda masih di toko?" Tanya Salsa menatap rumahnya tampak sepi.

Tanpa banyak pikir, Salsa memasuki rumahnya dengan tampang gundah.

Salsa menatap punggung seseorang yang sangat dia kenal, punggung yang selalu ingin dia peluk dari belakang, itu dulu. Semua hanya kenangan.

Lelaki itu membalikkan tubuhnya dan menatap Salsa. "Kangen," dia menatap dalam mata Salsa.

"Gio? Ngapain lo? Bunda mana? Dia yang nyuruh gue pulang," Tanya Salsa tanpa basa-basi.

"Itu bukan Bunda. Gue yang text lo." Jawabnya.

"Jelas-jelas gue baca ini dari Bunda." Ucap Salsa dengan membuka ponselnya.

"Gue hack semua handphone orang dirumah ini, dan yang text lo itu gue."

"Mau ngapain lagi lo?"

Salsa tidak terkejut mendengar ucapan Gio, dia tahu lelaki itu. Lelaki yang selalu menghalalkan segala cara untuk kepuasan dia.

"Biar kamu pulang, aku juga baru pulang dari luar kota, Bella juga lagi ada matkul. Dirumah nggak ada siapa-siapa. Jadi, kita bebas." Ucapnya santai.

"Lo masih nggak puas nyakitin gue dengan nikah sama kakak gue sendiri? Cukup Gio. Gue minta tolong, cukup."

"Sejak kapan Salsa manggil, Gio-nya ini dengan sebutan lo? Mana Salsa yang selalu natap aku dengan tatapan teduhnya?"

"Lo kakak ipar gue sekarang! Jadi, udah. Apa yang mau lo omongin lagi?" Sentak Salsa.

"Secepat itu kamu lupain kenangan kita?"

"Ingat semua! Yang paling gue inget lo nggak akan nyakitin gue. Tapi, apa sekarang? Lo hamilin Bella!"

"Aku dijebak. Bella kakak kamu itu jalang, dia cuma mau merusak hubungan kita." Ujar Gio membela dirinya.

"Cocok lah kalian berdua, Bella jalang disandingkan sama lo seekor binatang yang nggak bisa nahan hawa nafsu." Ucap Salsa tajam.

"Cuma sekali itu aja, Sa. Aku nggak mau nyentuh cewek lain selain kamu." Ungkap Gio yang terlihat pasrah.

Mendengar kata 'sentuh' Salsa memundurkan langkahnya dan Gio terus melangkah ke dekatnya.

Tatapan Gio yang terlihat sayu dengan senyuman tajamnya.

Kaki Salsa gemetar, dia takut. "Tolong, siapapun tolong gue," lirihnya.

"Gio, stop!"

Gio terus berjalan dan punggung Salsa terhempas ke dinding yang membuat dirinya tidak bisa lari kemana-mana.

Gio menarik tangan Salsa lumayan kencang dan mengakibatkan Salsa berada didalam pelukannya. "Kangen."

"Lepas."

Gio mengeratkan pelukannya. "Nggak ada yang bisa gantiin kamu dihati aku," ucapnya.

Salsa berontak, dirinya benci kepada Gio. Gio terus mengeratkan pelukannya dan menahan pinggang Salsa.

Tanpa aba-aba Gio langsung mencium bibir Salsa yang hendak berteriak.

Salsa terus memberontak, dan Gio kelepasan dengan meremas salah satu hal pribadi Salsa.

Salsa yang terkejut langsung menerjang tubuh Gio dan berlari kencang ke kamarnya.

Salsa mengunci pintunya, tubuhnya merosot kelantai dia memeluk lututnya dengan tubuh gemetar.

"Ayah, Bunda. Asa takut," tenggorokan Salsa seperti tercekat mengatakan itu.

Disisi lain, Gio menatap tangannya dengan gemetar. Bahkan dirinya tak habis pikir. Lagi dan lagi, dia menyakiti Salsa untuk yang sekian kalinya.

Gio meninju dinding sampai tangannya mengeluarkan darah segar, dia mengacak rambutnya frustasi.

"Kenapa gue nggak bisa nahan emosi. Gue takut Salsa makin benci gue," lirihnya.

"Asa, kamu cuma lihat buruknya aku aja, tanpa lihat perjuangan aku. Tolong, jangan makin benci sama aku."

***

-To Be Continued-

Di part ini Moqeel ga ada dulu yaa🫣

See u


Be Loved! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang