Chapter 38

1.2K 78 10
                                        

Selamat membaca💕

***

Malam yang ditunggu-tunggu keluarga Mohan dan Aqeela adalah malam merayakan hari jadian mereka berdua.

Siapa sangka yang dulunya selalu bersama dengan status sahabat atau bisa disebut friendzone karena kebanyakan orang-orang disekitar mereka menyebutnya itu.

Yang selalu tak bisa akur, ada saja yang di debatkan, sekarang berstatuskan pacaran.

Masih pacaran saja dirayakan, gimana jika mereka sampai menikah nanti, misalnya.

"Ma, make up aku menor banget ya?" Tanya Aqeela yang masih menatap dirinya di cermin kamarnya.

"Cantik banget gini dibilang menor, udah, Qeel. Perfect!" Jawab Dewi mengarahkan kedua jempol tangannya.

"Kenapa harus pink, Ma? Aqeela kurang suka." Ucap Aqeela sedikit kesal.

"Lagi butterfly era, kan?" Tanyanya dengan menaikkan alisnya.

Aqeela senyum-senyum, dan menganggukkan kepalanya malu-malu.

"Warna pink itu kayak cinta kamu ke Mohan, Sayang. Selalu berbunga-bunga," ucap Dewi menggoda Aqeela.

"Mama... Mohan yang lebih cinta sama aku, bukan aku aja." Kesalnya.

"Harus. Harus cinta cowok yang lebih gede."

•••

Cahaya minim menyinari kamarnya terdengar suara gelak tawa, dan ucapan ceria dari seorang gadis yang selama ini disukainya. Ya, suara itu di laptop dia.

Laki-laki itu menggeserkan penutup jendela kamarnya, dan menatap setangkai bunga mawar merah ditangannya.

Dia menyobek helai bunga mawar, dan terus berucap. "Dia milikku, dia bukan milikku." Dia terus berucap sampai helaian bunga itu habis.

Dan tepat habisnya helaian bunga, berhenti di ucapan 'dia bukan milikku."

Matanya menatap nyalang ke arah sehelai bunga, dan mengepalkan tangan dengan erat.

"Persetan dengan itu semua, dari awal memang dia milikku."

Dia terkekeh pelan. "Segitu hebatnya cinta saya ke kamu, sampai saya yang tidak percaya kepada semua perempuan, bahkan rela takluk melihat semburat merah di pipi mu. Tunggu, my little girl."

•••

Acara kecil-kecilan yang keluarga Mohan dan Aqeela maksud ialah makan malam bersama di rumah Mohan, dan mereka juga mengadakan sedikit acara barbeque.

Ayah dan Bunda Mohan senang melihat anaknya kembali ceria, ternyata benar Mohan kebanyakan murung selama ini karena Aqeela lagi dekat sama seseorang, dan setelah jadian sama Aqeela, Mohan kembali ceria seperti biasanya.

Disaat dinner berlangsung semuanya makan dengan khidmat, Aqeela menatap Mohan dengan tersenyum melihatnya.

Ternyata benar, perempuan tidak menyapa tapi akan memperhatikanmu sambil tersenyum.

Tapi, dibalik seindah apapun kisah cinta mereka ada hal yang sangat sulit untuk diterjang.

Dibalik itu semua adalah antara adzan yang berkumandang, dan lonceng yang berdentang. Antara kalung salib yang menggantung dileher, dan ada tasbih yang digenggam.

Antara kiblat yang menentukan pulang, dan salib membuatnya tenang. Namun, sebesar apapun cintanya, apakah bisa melawan takdir?

Tidak lupa juga mereka berfoto, moment-moment kebersamaan yang tidak akan terulang lagi katanya.

Be Loved! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang