Happy reading💕
***
"Gue stres waktu, Qeel."
"Stres kenapa? Jelasin dong jangan bikin penasaran." Kesal Aqeela.
Pasalnya Mohan hanya bilang dirinya stres tidak menjelaskan apapun.
Aqeela sudah menunggu Mohan menghabiskan satu batang rokok buat berbicara sama dia, sedangkan dia sudah menghabiskan satu ice cream, dan sekarang Mohan hanya bilang dirinya stres.
"Gue khilaf, Qeel. Itu semua gara-gara stres."
"LAILAHAILLALLAH, MOHAN! LO NGGAK BISA YA JELASIN SAMA GUE?! GUE UDAH CUKUP SABAR NUNGGUIN LO MEROKOK DULU." Pekik Aqeela kesal.
Aqeela sudah berdiri dengan nafas memburu, Mohan memegang kedua bahu Aqeela, dan mendudukkannya kembali di kursi.
"Sabar, Sayang," ucap Mohan lembut.
Mendengar kata 'sayang' Aqeela langsung luluh, dan senyum-senyum sendiri.
"Dengerin dulu, gue jelasin pelan-pelan ya," ujar Mohan dengan senyuman teduhnya.
Aqeela tersenyum manis, dan menganggukkan kepalanya.
"Setelah gue tahu lo waktu itu dekat sama David, gue lampiasin emosi gue dengan balapan,"
Mohan menarik nafas dalam, dirinya menunduk, dan berusaha menatap Aqeela yang menunggu penjelasannya.
Aqeela menatap dirinya datar, senyuman manisnya tadi hilang.
"Lawan balapan gue Gio, lo pasti kenal. Gue menang, hadiahnya kemarin itu..."
Mohan tidak sanggup melanjutkan ucapannya, dan menatap ke arah lain. "Lain kali aja, Qeel,"
"Apa hadiahnya? Ngomong sama gue." Ucap Aqeela tegas menarik tangan Mohan yang terkepal.
"Hadiahnya uang," jawabnya.
"Tahu. Gue nggak sepolos itu, Mo, hadiah lainnya apa?" Cecarnya.
Mohan memejamkan matanya, dan berucap dengan cepat. "Salsa, dia jadi jaminan siapa yang menang bisa dapetin dia."
Airmata Aqeela menggenang di pelupuk matanya. "Jadi, kalian ngapain aja?" Tanyanya.
"Seperti biasa setelah habis balapan, lanjut ke club. Salsa udah ikut sama kami, begitupun dengan Gio, gue mabuk, Qeel. Termasuk Salsa, kayak ada yang campurin sesuatu di minuman," jelas Mohan.
"Kalian hs?" Tanya Aqeela tanpa basa-basi.
"Nggak." Bantah Mohan cepat.
Mohan memegang tangan Aqeela. "Nggak sampai gitu, Qeel. Gue nggak sadar begitupun dengan Salsa, nggak tahu tiba-tiba Salsa langsung duduk dekat gue, k-kami b-berdua kissing," ucap Mohan terbata-bata.
Mohan memegang tangan Aqeela, dirinya malu menatap Aqeela. Karena sudah pasti Aqeela marah, kesal sama dia.
Aqeela menitikkan air matanya. "Kenapa nggak call gue, Mo. Gue nggak tahu lo secemburu itu sampai balapan lagi."
Tenggorokan Aqeela terasa tercekat. "Gue kecewa, lo kissing sama sahabat gue sendiri, gue marah. Kenapa juga Salsa ada disana, dan langsung mau diajak minum-minum sama kalian?!"
"Salsa di call Gio, Qeel. Tolong percaya sama gue, cuma kissing nggak lebih. Dipikiran gue saat itu cuma lo, dan gue langsung sadar yang sama gue itu Salsa. Gue langsung pergi dengan sempoyongan kebetulan ketemu Farel diparkiran, gue dianter sama dia, tolong percaya." Lirih Mohan.
Mohan tersenyum samar, sangat samar. Sampai Aqeela tak menyadarinya.
Aqeela menarik rambut, dan menangis tersedu-sedu. "Sakit, Mo, sakit." Ucapnya dengan memukul dada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Be Loved! [END]
Fiksi Remaja"Gue cinta sama lo." Ucap Mohan penuh penekanan. "Hah?" Pernyataan yang paling mengejutkan dalam hidup Aqeela ialah ketika sahabatnya menyatakan cinta. Bahkan mereka selalu bersama. "Lo terlalu jauh untuk gue gapai, Mo." "Iya tahu, sejauh itu kita b...
![Be Loved! [END]](https://img.wattpad.com/cover/362403558-64-k694358.jpg)