Chapter 45

960 62 3
                                        

"Aku nggak mau maksa kamu, Qeel. Kalaupun hari ini adalah hari terakhir pelukan kita. Aku ikhlas."

Aqeela tertegun, dan ingin menjawab ucapan Mohan namun lidahnya terasa kelu.

"Kamu nyesal nerima aku? Aku lepasin sekarang ya."

"Uh?" Respon Aqeela, pikirannya mendadak blank.

Mohan menarik pelan dagu Aqeela supaya menatap matanya tanpa mengalihkan pandangannya kemanapun.

"Qeel." Panggilnya.

Aqeela tersentak. "Ya?"

"Aku tanya sekali lagi, kamu nyesal pacaran sama aku?"

"Nggak!" Jawabnya cepat.

"Ninggalin jam pelajaran, kamu kemana aja? Jujur, Qeel. Kamu nggak bisa bohong sama aku."

"Nggak kemana-mana kok." Jawabnya.

"Katanya ke uks." Selidiknya.

"Nah, i-iya, aku ke uks. Kenapa nanya segitunya sama aku sih? Emang aku buat salah?" Tanya Aqeela.

"Ini masalahnya, Aqeela. Kenapa kamu tertutup banget sama aku? Aku kurang apa? Kurang bisa dipercayai sama kamu?" Cecar Mohan.

"Bukan itu, Mo."

"Apa, Qeel? Aku buat salah?"

Mohan menghela nafas kasar. "Lagi dekat sama siapa?" Tanya pelan.

"Nggak ada,"

"Sama David kemarin cuma ngalihin aja 'kan?" Tebak Mohan.

"Beneran dekat kok sama David."

"Jujur, Qeel. Tolong jujur." Ucapnya terdengar putus asa.

"Aku udah ceritain semuanya, Mo. Mau jawaban apa lagi?"

"Jadi mau sampai kapan ada yang di sembunyiin, Qeel?"

"Aku nggak paham kamu bicara apa."

"Kamu tahu." Tekan Mohan.

Aqeela mengalihkan pandangannya demi mengalihkan semua pertanyaan Mohan.

"Kalau itu semua cuma overthinking aku, dan aku tegasin sama kamu sekarang. Kamu itu punya aku, Aqeela Aza Calista. Sampai kapanpun kamu nggak akan bisa lepas, sekalipun ada yang berusaha merebut kamu dari aku."

Aqeela tertegun mendengarnya ucapan Mohan yang bersungguh-sungguh memperlihatkan kepemilikan dia terhadapnya.

Mohan menangkup kedua pipi Aqeela. "Kamu punya aku." Ucapnya penuh penekanan.

Aqeela mengedipkan kedua matanya untuk mencerna semua ucapan Mohan.

"Sampai kapanpun kamu nggak akan bisa kabur dari aku."

Aqeela menganggukan kepalanya dan tersenyum. Aqeela memainkan jari-jemari Mohan, dan berucap. "Ini menggenggam sedangkan aku menengadah, kita dekat namun tak terikat, Mo."

"Terikat cuma karena pacaran. Tapi, nyatanya kita sejauh itu." Lanjutnya.

"Siapa yang mau, Qeel. Aku juga nggak mau kita gini,"

"Kita aja sulit memahami cerita kita apalagi orang lain,"

"Aku mau sama-sama terus, Qeel. Tanpa ada ketakutan perihal kita beda keyakinan."

"Dengan arah kiblat yang berbeda? Berkali-kali Papa peringatin aku setelah kita pulang main atau ketemu, Mo."

"Tapi, perasaan kita nggak beda. Peringatin soal apa?"

"Papa selalu tegasin aku, jangan pernah tinggalin shalat,"

Mohan menundukkan kepalanya dengan tangannya menggenggam pasir putih.

Be Loved! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang