Chapter 51

773 74 15
                                        

Happy reading💕

***

"MO, AWAS..." Teriak Aqeela kencang melihat mobil melaju kencang di depan mereka.

Brak!

Terlambat, semuanya telah terjadi.

Tubuh Mohan dan Aqeela terhempas beberapa meter dari tempat mereka tertabrak.

Dengan wajah dan kepala bergelimangan darah, jari kelingking mereka berdua bertaut seperti janjinya, akan terus bersama sebesar apapun badainya.

Derai air mata menetes mengenai jalanan aspal di bawah mereka.

Rombongan orang-orang berbondong-bondong menolong mereka satu-persatu, Aqeela terus menatap ke arah Mohan yang terdiam kaku. Namun, matanya sempat melihat kearahnya dan tersenyum samar sebelum menutup matanya.

Aqeela ingin menjerit namun tak mampu bicara karena kehilangan kata-kata, melihat Mohan dengan mata terpejam dadanya seperti tertusuk ribuan pisau.

Mata Aqeela masih menatap namun pandangan buram oleh air mata yang menggenang di pelupuk mata, dia berusaha melambaikan tangannya dan ingin memanggil Mohan. Akan tetapi, lidahnya terasa kelu.

Mohan menghilang dari pandangan dan dimasukkan ke mobil ambulance yang berbeda dengannya.

Dan bersama itu pula, mata Aqeela perlahan terpejam karena terus menahan rasa sakit.

•••

Orang tua Mohan yang sedang mengobrol berdua berhenti sejenak karena ada telepon masuk, dan Ratna mengangkatnya.

"Hallo, Buk. Ini benar dengan orang tuanya Arya Mohan?"

"Betul, Pak. Mohon maaf, ini dengan siapa?" Tanya Ratna dengan bibir bergetar karena perasaan yang tiba-tiba tak enak.

"Bunda, siapa yang call?" Tanya Bima.

Ratna menggelengkan kepalanya ke arah Bima dan berusaha tenang.

"Kami dari pihak rumah sakit mengabarkan bahawa putra Ibu, Arya Mohan kecelakaan bersama Aqeela Aza Calista di jalan gading."

"B-bagaimana kondisi anak saya berdua Dok?"

"Arya Mohan dinyatakan meninggal dunia dan Aqeela Aza Calista sedang dirawat. Mereka berdua dilarikan ke rumah sakit pondok indah."

Bagaikan disambar petir. Ratna terduduk dengan ponselnya jatuh ke lantai.

"Bunda kenapa?" Tanya Bima.

"A-nak k-kita---" Belum sempat mengucapkannya Ratna pingsan.

•••

Suasana dingin seperti menusuk tulang dan terasa sepi hanya ada suara peralatan medis yang sedang bekerja.

Dengan mata terpejam Aqeela meraba-raba di samping tubuhnya mencari seseorang. Namun, nihil.

Dia langsung membuka matanya dan melihat sekeliling ruangan berwarna putih.

"Tolong." Lirihnya.

"Mohan mana?" Tanyanya serak menahan tangis.

Tak ada sahutan hanya ada suara jam dinding yang berdetak.

"Mohan..." Panggilnya.

"Mohan dimana?"

Air mata menetes di pipinya. "Mama, tolong,"

Dokter membuka ruangan Aqeela dan memeriksa kondisinya yang sudah lumayan stabil hanya saja sepertinya masih ada trauma.

Be Loved! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang