Chapter 48

834 67 9
                                        

"Harus berapa kali aku bilang, stop masuk kamar aku, Farel." Ucap Aqeela marah.

"Enak cium-cium nya?" Tanya Farel sinis.

"Enak banget! Sama cowok aku sendiri."

"Stop masuk kamar aku seenak jidat kamu, ini privasi aku." Lanjutnya.

"Sejak kapan kita ada privasi?"

Aqeela baru saja ingin merebahkan tubuhnya ke kasur queen size nya, tiba-tiba di kejutkan dengan Farel yang berdiri di dekat jendela kamar nya.

"Sejak hari ini, kamu obsesi sama aku, Rel." Ucapnya pelan terdengar pasrah.

Farel terkekeh pelan. "Akhirnya kamu sadar juga."

"Aku bahagia sama Mohan, jauhin aku. Semua tentang kita cukup aku, kamu dan Haikal sama orang tua aku aja yang tahu, jangan siapapun."

"Aku seburuk itu ya sampai di sembunyiin?"

"Peduliin tunangan kamu itu, nggak usah urusin kehidupan aku lagi,"

Pandangan Farel menatap Aqeela dengan sendu, tersirat amarah dan kekecewaan menjadi satu.

"Kalian beda keyakinan kalau kamu lupa, Za." Ucapnya pelan.

"Iya tahu." Jawabnya tak kalah pelan.

"Yakin kamu sama dia?"

"Yakin."

Farel menundukkan kepalanya, dan menyembunyikan tangannya yang gemetar di saku jaketnya.

"Kalau dia nyakitin kamu datang sama aku, lihat kebelakang aku rela ninggalin dunia aku demi kamu," ucap Farel.

"Seandainya kamu ngelihat cara dia memperlakukan aku pas kami cuma berdua, pasti kamu ngerti kenapa aku sejauh ini padahal beda keyakinan." Jawabnya tegas.

"Oke, bahagia terus ya."

Aqeela tersenyum.

"Bahkan kalau emang kita nggak ditakdirkan untuk bersama. Hidup untuk melihat kamu bahagia aja aku mau."

Niatnya kesini ingin memperbaiki jika bisa namun ternyata salah besar. Farel menyerah, demi kebahagiaan yang Aqeela cari ternyata bukan di dirinya.

Farel tersenyum getir sebelum berbalik badan untuk pergi dari kamar Aqeela dan berucap. "Terimakasih udah ngisi kekosongan hidup aku."

Farel berjalan pelan ke arah balkon tanpa menunggu jawaban Aqeela.

Balkon kamar Aqeela sudah tersedia tangga dan itu memudahkan Farel masuk ke kamarnya. Bahkan jika tidak ada tangga pun lelaki itu pasti akan menghalalkan segala cara untuk menemui Aqeela.

Aqeela berlari dan memeluk erat tubuh Farel dari belakang, rasa bersalah menghantuinya akhir-akhir ini.

"Maaf, maaf, Farel. Tolong maafin aku."

Bagaimanapun Farel sudah mengisi hari-harinya yang kosong selama ini.

"Gapapa, aku nggak marah. Ingat pesan aku, kamu harus jauh lebih bahagia."

"Lihat bulan udah mulai redup, kayanya mau hujan deh. Dia tahu banget isi hati aku yang lagi kacau, tapi aku suka kalau disakitin kamu, itu semua candu bagi aku." Ucap Farel tertawa sumbang, berusaha mencairkan suasana dan dia melepaskan pelukannya pelan.

Dan dari kejauhan seseorang melihat interaksi antara Aqeela dan Farel yang sangat tak wajar di penglihatannya.

Bukan hanya kali ini dia melihat lelaki memasuki kamar Aqeela. Tapi, sudah berkali-kali.

Ya, dia Miko. Tetangga Aqeela.

•••

Cahaya mentari memasuki celah jendela kamar gadis cantik yang masih terlelap dalam tidurnya.

Be Loved! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang