Happy Reading
●●●🦋●●●
-
-
-
-
Semilir angin membuat sore hari itu terasa nyaman, namun tidak bagi seorang gadis yang berdiri di hadapan sebuah nisan. Sorot matanya menyiratkan luka, kesedihan, dan kekecewaan yang mendalam.
Sesekali, ia memegangi kepalanya yang masih terasa nyeri akibat kecelakaan beberapa waktu lalu. Tubuhnya belum benar-benar pulih, tetapi ia memaksakan diri untuk datang ke tempat ini.
Adara menatap nama yang terukir di batu nisan itu dengan tatapan nanar.
"Bunda...." Lirihnya terdengar memilukan.
"Maaf, maafin Dara... karena belum bisa sekuat itu."
Setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang pucat, seolah sedang berbicara dengan seseorang yang ada di dalamnya.
"Kalau saja waktu bisa diputar kembali, lebih baik Dara saja yang mati waktu itu... bukan Bunda."
Seiring tangisnya yang semakin lirih, rasa sakit di kepalanya kian menjadi. Denyutan hebat itu menyiksanya, terutama saat ingatan tentang Bundanya masih hidup memenuhi benaknya. Kenangan pahit, kesalahan yang tak pernah ia perbuat, dan rasa kehilangan yang begitu dalam semakin menguras kekuatannya.
Tubuhnya mulai melemah, namun ia tetap berusaha bertahan. Adara mencoba melangkah, berusaha meninggalkan pemakaman itu, tetapi tubuhnya tak lagi mampu menyangga dirinya sendiri.
Brukk!
○○○
"Lo di mana?"
"Gue lagi di jalan, menuju ke sana. Emangnya kenapa?"
"Kita udah nemuin Adara, Leon. Keadaan dia... makin kritis."
Tut!
Sambungan terputus.
Tanpa pikir panjang, Leon langsung memutar gas motornya, melaju secepat mungkin menuju rumah sakit tempat Adara kini dirawat, berjuang antara hidup dan mati.
Beberapa menit kemudian, Leon tiba. Nafasnya tersengal, langkahnya tergesa menyusuri lorong rumah sakit hingga sampai di depan ruangan tempat Adara dirawat. Di sana, ia menemukan teman-temannya-Fero, Zayn, dan anggota geng Tiger lainnya-berkumpul dengan wajah-wajah tegang dan penuh kecemasan.
"Syukurlah lo cepet dateng," ucap Fero begitu Leon muncul.
"Di mana lo semua nemuin Adara?" tanya Leon tanpa basa-basi.
"Kita nemuin dia pingsan... di dekat pemakaman." jawab Fero pelan.
"Sepertinya itu pemakaman ibunya," sambung Zayn. "Gue pernah dengar lo ngomong, itu tempat yang paling sering dia datangi."
Tiba-tiba, suara tangis histeris memecah ketegangan.
"NON ADARAAAA!" Teriak Bi Ani dengan suara parau dan tubuh gemetar. Wanita paruh baya itu telah menganggap Adara seperti anak sendiri, dan kini melihat kondisinya yang begitu mengenaskan membuat hatinya hancur.
Geng Tiger-yang biasanya dikenal sebagai biang keributan kini hanya bisa terdiam. Tak ada yang bisa mereka lakukan, selain berharap dan berdoa. Di balik wajah keras mereka, tersimpan kekhawatiran yang tulus.
KAMU SEDANG MEMBACA
DEVAN & ADARA
Roman pour AdolescentsDevan Wijaya Pratama, cowok yang terkenal dingin tapi tampan dan memiliki sifat badboy disekolahnya, laki laki yang mempunyai kulit putih, berbadan tinggi, rahang yang tegas dan kokoh, hidung mancung, beralis tebal, bibir tebal bewarna merah alami d...
