Adalah sepi yang menjadi pisau, menggorok lara yang berwujud rahasia dalam jiwaku.
Aku ingin menutup paksa katup bahagia, pada hati yang terbiasa terluka karena kecewa.
Ah, benar! Bukankah kau terbiasa menikmati pahit dari empedu yang membatu?
Aku pernah melayangkan doa panjang, untuk sekali waktu Tuhan menggerakkan jemariku menuliskan namamu disana.
sampai saat ini aku masih merutuki kegilaan yang terjadi. saat kau menebar residu dari saliva mu yang berbisa.
Mampirlah, dan tertawalah!
Dimana lagi kau temukan seseorang yang kehilangan harapan masih bisa hidup dan tertawa?
Bahkan malam serupa gehenna, menodongkan puluhan sendu yang musti aku telan bulat-bulat.
Lhokseumawe, 13 April 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
Hanya Coretan
PoesíaBukan sebuah kalimat indah yang membuatmu kan terkagum-kagum. Seperti judul, puisi-puisi ini hanya sebuah coretan dari hati yang sering berubah musim.
