Sampe bahasa ini ku gelar, tak terdengar lagi suara itu.
Bahkan kata yang bisa menghapus kabut dimatanya turut menghilang.
Wajah teduh kemarin sore konon sudah terkubur dangkal oleh waktu.
Bak ombak yang menggulung-gulung kenangan.
Aku ingin memulangkan titah ini dan menjadi asing.
Kita saling berselidik. Tapi matamu tak lagi menggambarkan wajah orang itu.
Lewat tangan berlubang ini, kita akan terasing dari jalanan.
Kau tak akan menemukan wujud kata yang pernah menyembah wujud rupamu.
Sambil menunggu malam meramu gelap, aku akan mengintaimu dari bahasa ini.
Karena waktu datang dan pergi sesukanya, tapi aku masih berbaik hati memberi tanda.
Dan kau boleh menyaksikan purnama sirna di balik jendela kamar tidurmu.
Lhokseumawe, 23 Oktober 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Hanya Coretan
PoésieBukan sebuah kalimat indah yang membuatmu kan terkagum-kagum. Seperti judul, puisi-puisi ini hanya sebuah coretan dari hati yang sering berubah musim.
