Padamu yang tercipta dengan sentuhan anarkis
Yang selalu memulai perdebatan tanpa bahasa yang humanis
Yang gemar memula amarah dengan corak kepolosan
Hei, Topengmu busuk! Buka!
Aku ingin mengumpatimu!
Sumpah serapahku serupa derusan batu burung Ababil, andai kau Namrud.
Aku jijik pada tiap getar suaramu Apalagi beradu pada tingkahmu yang berbelok-belok
Halah, kau bahkan lebih kapitalis dari yang kapitalis!
Bumi, 25/04/22
KAMU SEDANG MEMBACA
Hanya Coretan
PoezjaBukan sebuah kalimat indah yang membuatmu kan terkagum-kagum. Seperti judul, puisi-puisi ini hanya sebuah coretan dari hati yang sering berubah musim.
