Part 42 [Ambisi]

1.6K 99 5
                                        

Malam, jangan lupa ramaikan ya 💖
Happy Reading, sorry for typo.

Dengan buket bunga mawar putih di tangannya, Yura berjalan memasuki komplek pemakaman yang sore itu sepi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Dengan buket bunga mawar putih di tangannya, Yura berjalan memasuki komplek pemakaman yang sore itu sepi. Sepulang bekerja, Yura menyempatkan untuk mendatangi tempat tinggal Bapak.

Hari ini Yura tak di kejar waktu untuk menjemput Alta karena ada Gale yang bersama anaknya, rasanya sudah lama sekali Yura tak datang mengunjungi Bapak.

"Bapak, ini Yura. Bapak apa kabar?"

"Gimana disana? Pasti tempat Bapak Bagus banget sekarang, semoga kelak kita bisa di pertemukan lagi di surga."

"Pak, Alta udah lima tahun lho. Makin pintar, makin cerewet juga, makin hari Alta makin mirip sama Gale. Gak ada mirip-miripnya sama aku, padahal aku yang lahirin dia."

"Kabar Ibu baik kok, sehat. Aku selalu lihat hasil kesehatan Ibu setiap bulannya, pokoknya aku gak mau kejadian yang sama terulang lagi. Jadi Bapak tenang aja, Ibu pasti baik-baik aja sama aku dan Yuna."

"Bentar lagi Ayuna sidang, makanya sekarang dia lagi gelisah-gelisahnya. Doain Yuna ya, Pak. Semoga Yuna bisa lulus dengan lancar, biar bisa gapai cita-citanya jadi seorang psikolog."

"Katanya biar dia gak bingung kalau lihat aku kambuh, dia mau aku sembuh dari penyakit mental. Baik banget kan Yuna, padahal dia selalu tengil sama aku."

"Kalau soal kabarku, sebenarnya aku lagi dilema sekarang ini."

"Ada lelaki yang deketin aku lagi, namanya Alex. Selama ini cuma dia yang tahan sama penolakan aku, Bapak tahu kan secantik apa anak Bapak ini sampai jadi rebutan banyak cowok."

"Dari banyaknya lelaki, cuma Alex yang berhasil bertahan dan perlahan buat aku luluh. Alex juga orangnya baik, humoris dan bisa memposisikan diri kalau lagi sama Alta."

"Tapi, disaat aku udah yakin sama perasaanku. Tiba-tiba ibunya bilang, kalau dia gak akan kasih restunya buat hubungan kami. Beliau minta aku untuk memutuskan hubungan kami, karena ini menyangkut keluarga besar."

"Selain itu, Gale malah ikut-ikutan mulai deketin aku lagi. Dia mau rujuk sama aku, padahal selama ini dia sendiri yang dukung hubunganku sama Alex."

"Aku harus apa, Pak?"

"Aku bisa tahan untuk tinggalin Alex, tapi aku gak sanggup lihat ketulusan dia selama ini malah aku balas luka. Tapi kalau kita tetep bertahan, aku akan buat konflik antara dua keluarga besar."

"Kenapa sih, anak Bapak ini selalu aja berurusan sama orang kaya? Capek banget rasanya."

Yura tahu dia tak akan mendapatkan jawaban apapun dari Bapak, tapi ada kepuasan sendiri setelah Yura curhat pada Bapaknya. Karena itu, Yura meluapkan semua kerisauan hatinya.

"Aku kangen Bapak, sesekali main dong ke mimpiku."

Yura mendongak menatap pepohonan di sekitar dan menatap langit senja, menahan untuk tidak meneteskan air mata karena dia datang bukan untuk memperlihatkan kesedihannya pada Bapak.

AFTER ENDING [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang