Iseng aja lama banget ga update Mahesa di wattpad
-
-
-
-
Ini cuma sedikit tapi semoga bisa menghibur ya
Selamat membaca
Ruang keluarga dengan cat berwarna cream itu dipenuhi oleh suara dari salah satu tokoh kartun favorit anak - anak. Dua makhluk berparas mirip berbaring di atas kasur yang berada di depan tv. Mahesa dan Baby Axel baru saja menyelesaikan mandi sorenya. Mereka sedang menunggu Bunda Aira membuat cemilan di dapur.
Bunda Aira melarang mereka untuk membantunya karena pasti nanti mereka akan kembali kotor. Pekerjaannya tidak jadi berkurang malah akan bertambah dua kali lipat. Jadi, dengan tegas Bunda Aira melarang mereka untuk membantunya.
Keduanya menonton televisi dengan damai sebelum sesuatu mengalihkan perhatian mereka. Mahesa dan Baby Axel saling berpandangan begitu mendengar suara yang familiar di telinga mereka.
"Ecel mau itu?"
"Mawuuu~"
"Daddy juga mau, ayo minta izin dulu ke Bunda boleh jajan itu apa nggak."
Tanpa basa - basi lagi sepasang ayah dan anak itu setengah berlari ke arah dapur. Samar - samar Aira mendengar suara yang berasal dari depan rumah diikut dengan langkah kaki yang semakin mendekat. Ia sudah menebak begitu mendengar suara khas itu.
"Jangan lari - lari~"
Tanpa menoleh ke belakang, Aira sudah tahu jika mereka hampir sampai di dapur.
"Bunda~ Ecel sama Daddy mawu beli putu - putu."
Dulu, sewaktu Aira dan Mahesa memperkenalkan makanan kue putu pada putra mereka, Baby Axel langsung menyukainya. Balita kecil itu memang banyak menyukai jajanan tradisional. Tak jarang ia menyetop beberapa pedagang yang lewat di depan rumah mereka.
"Boleh, nanti biar cemilannya kalo udah jadi Bunda taro di kulkas aja. Ecel ada uangnya buat beli kue putu?"
Sebelum menjawab Baby Axel menoleh ke belakang tepatnya pada Mahesa yang berdiri di pintu dapur. Mahesa menggeleng menandakan bahwa dia tidak memiliki uang cash.
"Ndak ada, Bunda~"
"Ini, barengan ya~"
Aira mengeluarkan satu lembar uang dengan nominal dua puluh ribu rupiah. Dua bocil kematiannya memang satu paket, jika yang kecil dibelikan jajan yang besar juga harus dibelikan. Itu adalah salah satu upaya untuk menghindari perselisihan karena berebut sesuatu.
"Telimakasih, Bundaa~"
"Makasih, Bunda."
Aira menggelengkan kepalanya begitu melihat dua kesayangannya langsung berlari kecil setelah menerima uang darinya. Tidak bisa dibayangkan akan sesepi dan sehampa apa hidupnya jika tidak ada mereka.
-°°-
Malam hari ini Aira menyempatkan diri untuk menghubungi Haidar melalui panggilan video. Selain menanyakan keadaan ayahnya, ia juga harus mengawasi dan memantau perkembangan remaja itu. Bagaimanapun Haidar adalah adiknya meskipun statusnya bukan adik kandung.
Aira menanyakan kabar dan beberapa hal yang cukup penting khususnya mengenai pendidikan Haidar. Di sampingnya, putranya menyimak sambil menunggu giliran. Balita kecil itu juga ingin mengobrol dengan Uncle kesayangannya. Setelah semuanya selesai Baby Axel meminta ponselnya untuk bergantian mengobrol dengan uncle nya itu.
"Hawo, uncle Haidal~"
Haidar tersenyum begitu melihat layar ponsel yang penuh dengan wajah bulat keponakannya.
"Halo, bociiil."
"Uncle lagi belajal ya~"
Balita itu melihat buku tebal yang terbuka tepat di depan Haidar. Remaja itu juga terlihat sedang berada di kamarnya.
"Iya, Uncle bentar lagi ada ujian."
"Emangna ndak capek baca buku besal kaya gitu ya? Ecel mewalnai aja capek."
"Hahaha, enggak. Kan udah biasa, nanti Ecel kalo udah gede juga bacanya buku kaya gini."
Dahi balita itu mengerut, sekalipun sudah besar, jika boleh ia tidak ingin membaca buku setebal itu.
"Ecel pengen main lagi di kamalna Uncle. Pengen bobo di sana juga."
Setiap berkunjung ke sana, jika tidak tidur dengan Kakeknya, Baby Axel akan tidur dengan Haidar. Kamar remaja itu terlihat sangat menarik karena berisi action figure yang disimpan di lemari kaca khusus.
Balita kecil itu memang sangat menyukai kamar Haidar. Kamar yang berisi action figure mahal itu merupakan salah satu alasan mengapa Baby Axel mau berkunjung ke rumah sang kakek. Daddy dan Bundanya belum mengizinkannya mengoleksi barang - barang mahal itu. Jadi, ia hanya bisa melihatnya ketika berkunjung ke rumah kakeknya.
"Ke sini aja kalo lagi libur, Uncle kesepian loh di sini."
Di sana Haidar bersama Ayah Aira hanya tinggal berdua. Memang masih ada asisten rumah tangga, tukang kebun dan satpam. Tetapi mereka tinggal di rumah khusus yang terletak di belakang rumah utama.
"Nanti kalo Uncle Haidal udah meninggal kamalna buwat Ecel ya~"
"Eh, adeeek~ gak boleh ngomong kaya gitu sama Uncle."
Baby Axel memasang raut wajah bingung. Sang Ibunda melarangnya untuk berkata seperti itu sedangkan Uncle Haidar tertawa mendengar ucapannya. Ia sering melihat anggota keluarga yang ditinggal meninggal akan mendapatkan beberapa barang peninggalan dari orang yang meninggal.
"Itu gak sopan, nak. Lain kali jangan ya, ayo minta maaf sama Uncle."
"Ecel mita maap ya, Uncle."
"Iya, Adek. Ditunggu main ke sini ya, nanti kita bobo di kamar Uncle."
"Okie dokie, Uncle~"
"Udah dulu ya, Adek. Uncle mau lanjut belajar duluuu~"
"Bye - bye, Uncleee~"
Baby Axel menyerahkan ponsel kepada Aira setelah sambungan panggilan video mereka terputus.
"Bunda, kenapa Ecel ndak boleh ngomong kaya gitu ke Uncle Haidal?"
"Karena ucapan Adek tadi kurang baik nak, orang - orang bisa salah paham kalo adek itu mendoakan mereka supaya cepat meninggal."
"Tapi kenapa olang - olang boleh dapet balang dali olang yang sudah meninggal, Bunda?"
"Itu pemberian, nak. Biasanya pesan dari sebelum orang itu meninggal, bukan dari hasil meminta saat orangnya masih hidup. Ecel paham?"
Baby Axel berkedip dua kali kemudian mengangguk. Balita kecil itu tergolong anak yang pintar, ia tidak perlu diberi tahu berkali kali supaya paham. Itu sangat memudahkan Aira dan Mahesa dalam mendidik balita itu agar tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik.
Udah segini aja
-
-
-
-
-
Kalian gimana kabarnya?
Kangen gak sama keluarga kecil Mahesa?
Aku kangen banget masa - masa ceritaku masih rame banget wkwkw
Rabu, 7 Mei 2025.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAHESA
JugendliteraturHanya Aira Aletta yang mampu menghadapi keras kepala, keegoisan dan kegalakkan Mahesa Cassius Mogens. "Enak banget kayanya sampai gak mau bagi ke gue, rotinya yang enak banget atau emang gara - gara dari orang special?" Mahes bertanya sambil menata...
