Kembali ke kamarnya, Mina segera mandi. Air panas menghilangkan sisa-sisa aroma makanan dari makan malam, tapi tidak dapat menghilangkan sensasi sentuhan main-mainnya di bibir Jeongyeon.
Getaran seperti sengatan listrik itu masih teringat jelas dalam ingatannya. Dia bahkan melihat bukti reaksi halus tersebut saat bercermin di kamar mandi.
Mina memalingkan muka, tidak ingin melihat wajahnya yang semerah tomat lagi, tapi perasaan hangat itu tidak bisa membuatnya berbohong pada dirinya sendiri.
Sudah larut malam, tapi Mina masih belum bisa tenang. Bahkan dia mulai membandingkan ciuman pernikahannya dengan Jeongyeon dulu dan tahu betul bagaimana perasaannya ketika dia mencium bibir Jeongyeon malam ini.
Baginya ini tampak seperti ciuman sungguhan pertamanya, itulah sebabnya dia beraksi begitu kuat.
Tapi, apakah ini benar?
Apakah dia benar-benar menyukai Jeongyeon?
Ini adalah pengalaman yang sangat asing bagi Mina. Sesuatu yang belum pernah dia duga atau alami sebelumnya.
Begitu banyak orang mengejarnya, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang pernah membuatnya merasa seperti ini.
Namun...
Mina masih belum bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa inilah arti sebenarnya dari perasaan nyamannya selama ini.
Jika dipikir-pikir, Jeongyeon yang sekarang memang jauh lebih baik dari pada pelamar lainnya. Dia sangat berbeda dan juga unik, membuatnya merasa sangat nyaman bersamanya.
Dia menyukai bagaimana cara Jeongyeon menghormatinya dan tidak pernah memandangnya dengan mata penuh nafsu seperti laki-laki mesum di luar sana.
Ini memberi Mina rasa rileks dan puas yang belum pernah dia alami sebelumnya. Tapi, apakah ini benar-benar sama dengan perasaan romantis?
Sebuah pikiran yang mengganggu terus menghantui pikirannya dan perdebatan itu selalu tampak terhenti pada titik tertentu.
Akhirnya dia mulai mencoba mengaitkan malam ini dengan masa-masa kelamnya, ketika kedua orang tuanya meninggal dan mengharuskannya berjuang seorang diri untuk melindungi diri sendiri serta satu-satunya keluarganya yang tersisa.
Banyak hal membebaninya, membuatnya terkurung dari batasan mental. Tapi sekarang, perlahan-lahan semuanya mulai berubah.
Suasana hatinya menjadi lebih baik dari hari ke hari, bahkan sering kali dia merasa gembira hanya karena makan malam yang disiapkan oleh Jeongyeon.
Ketika orang merasa dibebaskan, wajar jika mereka dipenuhi emosi dan menikmati beberapa hal.
Tanpa disadari, dirinya mulai kehilangan sikapnya yang dingin dan wajahnya yang biasanya datar mulai menunjukkan berbagai macam ekspresi.
Ini adalah tanda positif kembalinya kemampuannya untuk mengekspresikan emosi secara fisik.
Lihat saja kejadian malam ini, padahal Jeongyeon hanya menggodanya seperti hari biasa, tapi dia malah bertingkah gila, menjadi begitu impulsif dan berani melakukan hal tersebut.
Mina menutup wajahnya karena malu, dia merasa tidak puas pada dirinya sendiri dan akhirnya tertidur lelap.
Ketika bangun keesokan harinya, dia tiba-tiba ingat bahwa sepertinya dia lupa menyelesaikan sisa pekerjaannya.
Tapi dia sudah mengerjakan setengahnya dan tidak lagi peduli dengan hal tersebut.
Setelah mandi, dia mulai merias wajah. Saat melihat dirinya dicermin, dia kembali teringat ekspresi serius Jeongyeon ketika berbicara tentang Chaeyoung, seolah-olah dia memang mengkhawatirkannya dan ingin membawanya tinggal bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
FanfictionJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
