Forty Two

88 9 2
                                        

Happy Reading

Kabar kelahiran bayi perempuan Bulan cepat sekali menyebar.

Sejak pagi, rumah orang tua Bulan tak pernah benar-benar sepi. Teman-temannya berdatangan silih berganti, membawa hampers, bunga, dan wajah-wajah penuh haru. Tawa kecil mulai terdengar di ruang tamu, bercampur suara langkah kaki yang hati-hati agar tidak terlalu berisik.

Priska datang paling heboh.

Begitu masuk, ia langsung menutup mulutnya sendiri karena hampir berteriak kegirangan.

"Mana ponakan gue? Mana?!" bisiknya setengah berteriak.

Bulan yang sedang duduk di kamar hanya menggeleng kecil mendengar suara sahabatnya itu. Untuk pertama kalinya sejak pulang, sudut bibirnya terangkat tipis.

Priska masuk ke kamar dengan langkah cepat tapi tetap hati-hati. Begitu melihat bayi kecil itu terbaring di samping Bulan, matanya langsung berkaca-kaca.

"Ya ampun, Bul..." suaranya melembut.

"Cantik banget. Ini sih fix jadi anak tante Priska."

Ia mendekat perlahan, menatap wajah mungil itu seolah sedang melihat keajaiban.

"gue resmi punya ponakan sekarang," katanya bangga.

"Sahabatku udah jadi mama."

Bulan hanya diam, tapi kali ini bukan diam yang dingin. Ada sesuatu yang lebih ringan di wajahnya.

Priska duduk di tepi ranjang.

"Kamu hebat, tau nggak?" ucapnya pelan. "Aku nggak kebayang jadi kamu, Bul. Tapi kamu bisa."

Bulan menatap bayinya yang sedang tertidur.

"Aku masih takut," jawabnya jujur.

"Itu wajar," sahut Priska cepat. "Kita semua juga takut pertama kali. Tapi kamu nggak sendiri."

Kalimat itu membuat suasana kamar terasa hangat.

Di luar, tawa Dara dan Embun terdengar samar. Papi Bulan bahkan beberapa kali memanggil-manggil minta diperlihatkan cucunya lagi.

Di tengah keramaian itu, Bulan tetap belum banyak bicara tentang Gala. Ia masih menjaga jarak. Namun untuk hari itu, ia mengizinkan dirinya merasa sedikit bahagia—bukan sebagai istri, bukan sebagai perempuan yang sedang kecewa.

Tapi sebagai seorang ibu.

Dan Priska, yang duduk di sampingnya sambil terus menatap bayi kecil itu dengan wajah sumringah, tahu satu hal pasti—

apa pun yang terjadi nanti, ia akan selalu ada untuk sahabatnya... dan untuk "ponakan" barunya yang sudah berhasil mencuri hatinya sejak hari pertama.

Hari-hari berikutnya rumah itu seperti tak pernah benar-benar sepi.

Teman-teman Bulan datang bergantian. Ada yang membawa makanan, ada yang membawa baju bayi mungil, ada juga yang hanya datang untuk melihat dan memastikan Bulan benar-benar baik-baik saja.

Priska hampir setiap hari muncul.

Kadang pagi, kadang sore.

"Geser dikit, mau gendong," katanya santai suatu siang.

Bulan menyerahkan bayinya dengan hati-hati. Kini ia sudah lebih percaya diri. Tidak sekaku hari pertama.

Bayi kecil itu terbangun dan mulai menggerakkan tangan mungilnya.

"Eh, jangan nangis ya... Tante Priska belum siap mental," bisik Priska panik saat wajah kecil itu mulai berkerut.

Tangisan kecil pun pecah.

GALLANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang