Happy Reading
Bulan akhirnya benar-benar tertidur.
Bukan tidur gelisah seperti semalam, tapi tidur yang dalam karena tubuhnya sudah menyerah pada lelah. Wajahnya terlihat lebih tenang, meski bekas kelelahan masih jelas di bawah matanya.
Gala menatapnya sebentar.
Lalu menatap putri kecilnya yang sudah terlelap di dadanya.
Pelan-pelan ia duduk di kursi dekat tempat tidur, memastikan bayi itu tetap nyaman dalam gendongannya. Ia tidak berani memindahkan ke ranjang bayi. Takut terbangun lagi.
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar.
Gala melihat layar. Dari asistennya.
Ia bangkit perlahan, keluar kamar agar tidak mengganggu Bulan, lalu menelepon balik dengan suara ditekan serendah mungkin.
"Tolong semua berkas meeting hari ini dibawa ke rumah," katanya singkat. "Laptop cadangan juga. Aku kerja dari sini."
"Pak, jam sepuluh ada rapat—"
"Online saja. Kirim link-nya. Saya tetap handle."
Tidak ada nada ragu.
Ia memutuskan sendiri.
Hari itu, ia tidak akan pergi.
Satu jam kemudian, asistennya datang mengantar map-map kerja, laptop, dan beberapa dokumen penting. Gala menerimanya di ruang tamu, lalu kembali ke kamar dengan langkah hati-hati.
Bulan masih tertidur.
Putrinya masih tenang.
Gala memindahkan bayi itu perlahan ke box kecil di samping tempat tidur. Kali ini berhasil. Tidak terbangun.
Ia menarik kursi kecil mendekat ke jendela kamar, membuka laptop, dan mulai bekerja.
Sesekali ia menoleh ke arah tempat tidur.
Memastikan dua perempuan itu baik-baik saja.
Suara ketikan keyboard terdengar pelan. Tidak tergesa. Tidak terganggu.
Beberapa kali bayi itu bergerak kecil, Gala langsung berdiri, mengecek, membenarkan selimutnya.
Saat Bulan terbangun sekitar tengah hari, ia sedikit bingung.
Ruangan terasa berbeda.
Lebih hidup.
Ia melihat Gala duduk dengan laptop di pangkuannya, fokus menatap layar, namun satu tangannya tetap berada dekat box bayi.
"Kenapa kamu di sini?" suara Bulan masih serak karena baru bangun.
Gala menoleh.
"Kerja," jawabnya sederhana.
"Ke kantor nggak?"
"Enggak. Aku minta kerjaan diantar."
Bulan terdiam.
Ia tidak menyangka.
Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada drama. Tidak ada pembelaan.
Gala hanya berkata pelan,
"Biar bisa sekalian mantau."
Bulan menatapnya cukup lama.
Laki-laki itu tidak memaksa bicara tentang hubungan mereka.
Ia hanya memilih tinggal.
Memilih hadir.
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya berubah—
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomanceTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
