78. JALUR GELAP

4 0 0
                                        

Angin sore yang lembap membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran sampah dari kejauhan. Gilang duduk di bangku kayu yang catnya sudah mengelupas, membiarkan punggungnya bersandar pada sandaran yang keras dan tidak nyaman.

Kriet...

Bangku kayu di belakangnya berderit saat seseorang mendaratkan tubuh. Mereka duduk membelakangi, hanya dipisahkan sandaran kursi yang tipis. Robi menarik napas dalam, bau rokok kretek tercium dari arahnya.

"Ngapain minta ketemu di tempat sepi kayak gini?" suara Robi pelan, nyaris berupa bisikan yang tertelan suara gesekan daun mahoni di atas mereka. Matanya menyisir setiap sudut taman melalui sudut matanya.

"Krugger dan Hydra. Apa yang lo tau soal mereka?" Gilang menatap lurus ke ke arah sepasang burung gereja yang berebut remah roti di aspal.

Suara rantai ayunan di ujung taman berderit pelan diterpa angin. Seorang pria tua berjalan santai melintas beberapa meter di depan mereka, menggandeng cucunya tanpa melirik ke arah bangku itu.

Robi membuka mulut setelah langkah mereka benar-benar menjauh. "Gue masih bingung. Harus nganggep lo polisi..." gumamnya lirih. "...atau orang yang nyelametin satu-satunya keluarga yang masih gue punya."

Ia menarik napas panjang. "Asal lo tau, keputusan buat duduk di bangku ini aja udah cukup buat bikin kepala gue dipatok peluru kalau ada orang yang salah lihat."

"Jadi?" Tanya Gilang lagi.

"Gue nggak tau banyak," Robi berdeham, suaranya parau. "Krugger itu hantu di Bogor. Dan Hydra? Lo udah liat sendiri gimana cara kerja mereka."

"Gue denger mereka punya koneksi satu sama lain," Gilang meremas ujung jaket kulitnya. "Lo tau soal ini? Ada rumor kalau Renggo dibunuh karena ulah The Hydra."

Robi terdiam sejenak. Ia membuang ludah ke samping. "Black Ribal belum lama gabung sama mereka. Tapi yang gue tau, salah satu petinggi Hydra itu orang penting, punya koneksi di mana-mana. Mungkin Krugger cuma pion, atau malah kerja langsung di bawah mereka."

Gilang mengembuskan napas perlahan. "Berarti potongannya mulai nyambung." Tatapannya tetap lurus ke depan. "Belum cukup buat jadi kesimpulan... tapi arahnya mulai kelihatan."

"Lo dapat info dari mana?" Robi menoleh sedikit, menampakkan rahangnya yang menegang.

"Salah satu source gue. Dari dia juga gue bisa sergap markas kalian," sahut Gilang, suaranya tetap datar tanpa intonasi.

Robi terdiam. Napasnya terdengar lebih berat. "Kalau bukan karena lo nolongin dia, nggak mungkin gue bakal bantuin lo sekarang. Tapi ingat... gue cuma bantu sampai batas tertentu."

"Gue tau ini berlebihan buat lo," Gilang memutar kepalanya sedikit, menatap wajah Robi yang tampak pucat di bawah bayang-bayang pohon. "Tapi kita bisa hancurin mereka kalau kita kerja sama. Lo bisa balas dendam buat orang-orang lo yang jadi tumbal."

"Gue akan bantu lo," Robi berdiri. "Tapi kalau gue bisa nemuin dia, dan dia minta gue buat berhenti bantuin lo, langkah gue akan berhenti di situ. Detik itu juga."

"Nggak masalah. Saat lo udah nemuin dia, gue sendiri yang akan minta dia bantuin gue," Gilang ikut berdiri. Ia merogoh saku jaketnya, menatap Robi. "Sekarang, gua butuh nama-nama broker dan informant Krugger di wilayah Tangsel dan Bogor."

Robi mengangguk tipis.

Mereka berjalan berlawanan arah, meninggalkan bangku yang sama-sama mulai lapuk dimakan usia.

Di jalur jogging yang melingkari taman, seorang pria berjaket olahraga memperlambat langkahnya. Sorot matanya menyapu sekilas ke arah dua sosok yang baru saja berpisah, lalu kembali berlari.

***

Udara di dalam kamar nomor 808 terasa beku oleh hembusan AC yang dipasang di suhu 16°C, butiran keringat dingin merembes di sela tulang selangka Chacha. Salah satu tali penyangganya melorot di lengan kanan, menggantung kaku di atas kulit bahunya yang pucat. Ia duduk bersila di atas sprei sutra yang kusut. Di sampingnya, Alee terlelap dalam posisi telungkup. Selimut sutra putih hanya menutupi separuh punggungnya yang kecokelatan. Suara napasnya teratur, sesekali terputus oleh dengkur halus yang memecah sunyi.

Aroma sisa parfum maskulin yang bercampur dengan bau asap rokok tipis masih mengendap di bantal yang berantakan.

Layar laptop berpendar biru pucat menyinari wajahnya dengan cahaya dingin yang tajam. Matanya terpaku ke layar laptop di atas pangkuannya. Pupil matanya tidak bergerak dari barisan kode yang terus bergulir.

Bunyi tuts papan ketik ditekan dengan ritme cepat dan presisi. Chacha menggerakkan kursor. Jemarinya yang ramping bergerak lincah. Setiap kali Alee bergerak dalam tidurnya, jemari Chacha berhenti di atas keyboard. Ia menahan napas, matanya melirik ke sosok yang terlelap di sampingnya.

Chacha merogoh saku hoodie-nya, mengambil sebuah flashdisk hitam kecil. Tangannya gemetar saat memasukkan perangkat itu ke port USB. Bunyi klik logam yang lirih terasa seperti ledakan di telinganya.

Di layar, bar kemajuan dekripsi flashdisk bergerak lambat. Sebuah jendela kecil muncul di sudut layar.

Decrypting Archive...

Estimated Time Remaining : Unknown

Kipas laptop mulai meraung lebih keras. Panasnya merambat hingga menembus sprei di bawah paha Chacha.

68%... 72%...

Chacha menggigit bibir bawahnya hingga memucat. Matanya yang memerah menyapu barisan kode. Paha kirinya mulai terasa panas terkena hawa mesin laptop yang bekerja keras di atas sprei sutra yang kusut.

89%.

Layar berhenti. Chacha menahan napas.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan. Ujung kukunya tanpa sadar menghantam permukaan kasur.

"Ayo..." bisiknya nyaris tanpa suara.

Tepat saat angka itu akhirnya berubah, kasur berderit. Di sampingnya, Alee mengerang kecil.

Alee menggeser tubuhnya yang polos, kepalanya berputar ke arah paha Chacha. Kelopak mata pria itu bergetar, lalu perlahan terbuka.

"Cha...?" gumam Alee, suaranya parau dan rendah, nyaris menyerupai geraman.

Detak jantung Chacha menghantam dinding dada, terasa seperti ledakan statis di telinganya. Chacha meluncurkan punggungnya ke sandaran kasur, menyingkirkan laptop itu ke sisi jauh tempat tidur.

"Hei," bisik Chacha.

Alee mengerjap, matanya fokus pada bayangan Chacha yang hanya diterangi sedikit bias cahaya dari layar laptop yang masih menyala di kejauhan. "Ngapain... ko nggak tidur?"

Chacha merayap turun, mendekatkan wajahnya ke arah Alee hingga aroma napas mereka beradu di udara dingin 16°C. Tali branya yang melorot jatuh sepenuhnya di lengan atas, memperlihatkan bahunya yang putih pucat di bawah temaram kamar.

Ia mendaratkan bibirnya di atas bibir Alee, jemarinya merayap di sepanjang rahang Alee yang kasar.

Alee mengerang pelan, tangannya meraba pinggang Chacha, menarik tubuh gadis itu agar menindihnya. Konsentrasinya pada laptop yang masih berpendar di sudut kasur hancur seketika, digantikan oleh panas yang mulai menjalar di balik selimut putih.

"Lagi?" bisik Alee di sela napasnya yang mulai memburu.

Chacha hanya menjawab dengan gigitan kecil di bibir bawah Alee, lalu menyembunyikan wajahnya di bawah leher pria itu. Matanya menatap ke arah laptop di belakang bahu Alee.

Di balik bahu Alee, layar laptop yang masih terbuka memancarkan cahaya biru redup.
Angka 89% menghilang.

Layar berkedip sesaat, lalu perlahan berganti menjadi latar hitam. Satu baris tulisan putih muncul di tengah layar.

WELCOME BACK, AURELL.

***

TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang