Lampu jalan berkedip di atas tumpukan sampah. Rembo tergeletak dengan leher terbuka. Darah hitam menggenang di sela paving block.
"Nama gua Jon. Gua bakal ikutin semua perintah lu," Jon berdiri di depan Rizal. Di belakangnya, tiga pria meletakkan pipa besi mereka ke tanah.
"Bawa Delon ke sini," perintah Rizal.
Tiga puluh menit kemudian, Delon terseret di atas tanah. Jon mencengkeram kerah bajunya. Delon berhenti tepat di depan kaki Rizal. Matanya melotot menatap mayat Rembo yang dikerubungi lalat malam. Cairan pesing merembas di celana Delon.
"Jawaban lo yang bakal nentuin nasib lo sama kaya dua orang itu atau nggak," suara Rizal datar, tanpa nada.
"Ja- jawaban apa, Bang?" Delon gagap. Giginya bergemeletak.
"Kenapa lo bilang gue yang ngerampok toko lo?"
"Saya nggak pernah bilang Abang pelakunya. Saya cuma laporan ke Bang Rembo kalau toko saya dirampok orang." Delon bersujud, dahinya menyentuh ujung sepatu Rizal yang berlumur darah.
"Kenapa Rembo nuduh gue?"
"Karena dia pelakunya," sela Jon. "Semenjak Wild Liar datang tiga bulan lalu, setoran Rembo kurang. Dia butuh duit buat bayar upeti ke mereka."
"Wild Liar?" Rizal menyeka darah dari sudut bibirnya yang robek.
"Gangster Jakarta. Mereka udah makan setengah Tangsel."
***
Matahari Serpong membakar tengkuk. Rizal memanggul karung beras lima puluh kilogram. Keringat merembas ke kain perban yang melintang dari telinga kiri ke telinga kanan, melintasi pipi dan hidung. Kain itu berubah warna menjadi kuning kecokelatan di bagian luka. Rekan kuli lainnya menyingkir saat Rizal lewat. Tidak ada suara teriakan atau makian. Hanya bunyi napas berat dan gesekan karung dengan pundak.
Selesai bekerja, Rizal duduk di atas krat kayu kosong. Ia meneguk air dari botol plastik yang sudah penyok.
Jon berdiri dua meter di depan Rizal. "Anak-anak Wild Liar tadi pagi masuk ke blok sayur." Suara Jon rendah, tertutup bising mesin truk. "Mereka minta dua kali lipat dari jatah Rembo."
Rizal menatap aspal basah di bawah kakinya.
"Anak-anak pegang balok, Bang. Tapi mereka diam. Nunggu instruksi," Jon melangkah lebih dekat. "Gua nggak bisa pegang mereka. Lu yang habisi Rembo tiga hari lalu. Lu yang mereka lihat."
Rizal menyentuh perban di pipinya. Jemarinya gemetar tipis. Ia menatap telapak tangannya yang kasar, lalu mengepalnya hingga kuku memutih. "Malam itu gua cuma mau hidup."
Seorang remaja berlari kencang ke arah mereka. Napasnya putus-putus. "Bang! Wild Liar di lapak Bang Dedi! Tahunya diinjak-injak!"
Rizal menoleh cepat, lalu berlari. Jon dan dua orang lainnya mengikuti di belakang.
Di ujung blok, seorang pria menghantam kepalan tangan ke wajah Bang Dedi. Meja kayu terbalik. Plastik berisi tahu putih pecah, isinya berhamburan di drainase yang hitam.
Satu orang lain menghantamkan ujung sepatu botnya ke pinggang Bang Dedi yang meringkuk. Bang Dedi tersedak, memuntahkan cairan bening bercampur kuning dari mulutnya.
Bang Dedi berusaha bangkit dengan satu lutut. Tangannya mencoba meraih tahu-tahu yang berserakan di lantai. Tendangan berikutnya menghantam rusuknya.
Rizal berlari ke lapak Bang Dedi. Pukulan tangan kanan Rizal mendarat di pelipis anggota Wild Liar. Bunyi krak terdengar saat kepala pria itu membentur tiang besi lapak. Ia roboh seketika.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]
AksiTRILOGY SATU TITIK "Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama." BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40) BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86) BUKU 3 : SATU TITIK...
![TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k175150.jpg)