Pagi masih gelap saat Rizal sudah berdiri di pinggir jalan pasar. Truk sayur berhenti satu per satu. Pintu bak dibuka, karung-karung dijatuhkan ke bawah. Rizal memanggul satu karung di bahunya. Kain goni menekan lehernya. Ia melangkah masuk ke lorong, melewati genangan air dan sisa daun yang menempel di lantai.
Saprol menghantam bahunya ke tubuh Rizal. Karung puluhan kilogram yang masih bertumpu di pundak Rizal nyaris jatuh. Rizal menahan seluruh beban itu dengan satu tangan, lalu mengembalikannya ke posisi semula.
Saprol melirik sekilas ke arah lengannya yang tidak bergeming, Rizal menunduk, merapikan karung, lalu kembali berjalan tanpa sepatah kata.
Siang hari, ia duduk sebentar di pinggir lapak, menghitung lembaran uang di tangannya. Seseorang datang dari samping. Rembo mengambil setengah dari uang yang belum sempat ia rapikan. Tangan Rizal tetap di udara beberapa detik, lalu turun.
Rembo berjalan santai menyusuri lorong pasar. Beberapa pedagang yang melihatnya menghentikan aktivitas mereka. Seorang penjual buah buru-buru menyelipkan beberapa lembar uang ke tangan Saprol tanpa diminta.
Di warung kopi, pemilik warung meletakkan segelas kopi hitam di meja kosong yang biasa ditempati Rembo.
"Masih di sini lu?" Beberapa orang lewat, tertawa, berhenti di depannya.
Salah satu dari mereka menyenggol bahunya dengan kaki. Tubuh Rizal bergeser sedikit. Tawa mereka menjauh.
Hari berganti. Tiga bulan Rizal menjalani pekerjaan di Pasar Serpong. angkat, jalan, letakkan. Terima uang, lalu setengahnya berpindah ke tangan Rembo.
Setiap subuh, Rizal selalu datang paling awal sebelum pedagang lain membuka lapak. Ia membantu menurunkan karung tanpa banyak bicara, lalu menyapu sisa daun dan plastik yang berserakan di jalur bongkar muat sebelum matahari benar-benar terbit. Upahnya tak pernah besar, tetapi cukup untuk membeli dua bungkus nasi dan sebotol air minum.
Menjelang zuhur, ia hampir selalu menghilang beberapa belas menit ke mushala kecil di ujung pasar. Setelah itu ia kembali bekerja seperti biasa, memanggul karung demi karung hingga pundaknya mulai menghitam karena gesekan kain goni.
Malam hari, ketika kios-kios mulai menutup rolling door, ia kembali ke emperan yang sama. Jaket digelar sebagai alas tidur, tas kain menjadi bantal. Esok paginya, semuanya kembali terulang dari awal.
Kadang dorongan datang dari belakang saat ia sedang jalan. Kadang bahunya ditarik saat ia sedang duduk. Tangannya beberapa kali terangkat lalu turun lagi.
Malam itu, Rizal duduk sendiri di dalam musholla pasar. Tangannya membuka telapak, lalu mengepal lagi. Bibirnya bergerak pelan.
Rizal merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar kertas kecil yang mulai kusut. Di sudutnya beberapa garis pendek yang ia buat sendiri setiap pergantian bulan.
Jemarinya berhenti pada garis terakhir. "Empat bulan lagi..."
Ia melipat kembali kertas itu dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam saku dada. Ia menyandarkan kepala ke dinding, matanya terpejam. Suara pasar perlahan mereda di kejauhan.
Pagi di Pasar Serpong. Rolling door toko elektronik setengah terbuka. Orang-orang berdiri di depan, kepala saling menutup pandangan.
Delon berdiri di ambang pintu, tangannya di pinggang. Matanya menyapu isi toko. Di dalam, rak miring, kardus terbuka, kabel menjuntai ke lantai.
"Semalam dirampok," bisik seseorang di kerumunan.
Garis polisi membentang melintang di depan toko. Pecahan kaca etalase masih berserakan di lantai. Lemari besi kecil terguling, pintunya menganga, rak-rak elektronik kosong menyisakan kabel yang menjuntai.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]
AksiTRILOGY SATU TITIK "Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama." BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40) BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86) BUKU 3 : SATU TITIK...
![TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k175150.jpg)