81. PERTEMUAN

3 0 0
                                        

Angin sore berembus kencang di area parkir pelabuhan yang sepi. Bau garam dan karat besi tercium tajam di udara. Sanyo berdiri bersandar pada mobil hitamnya, memutar korek api Zippo di tangannya. Bunyi logam beradu terdengar berulang.

Robi berdiri beberapa langkah di depannya, menghadap laut yang bergelombang pelan. Kedua tangannya masuk ke saku jaket. Tatapannya kosong, namun rahangnya mengeras setiap kali nama Rizal atau Aurell kembali melintas di kepalanya.


"Jadi dia masih hidup? Gilang lepasin dia?" tanya Sanyo tanpa mengalihkan pandangan dari korek apinya.

"Iya. Gilang ngelepasin dia setelah lu bunuh Aurell. Gilang yang memalsukan semuanya," jawab Robi.

"Kenapa? Bukannya tugas dia buat nangkep Renggo?" tanya Sanyo heran.

"Karena dulu mereka sahabatan, dan Gilang punya utang nyawa sama dia. Dan saat lu ketemu dia, gua harap lu bisa antisipasi respon dia saat ketemu lu," saran Robi.

"Menurut lu, dia bakal ngapain kalo ketemu gua?" Tanya Sanyo lagi.

Robi terkekeh pelan. Senyum tipis yang muncul di wajahnya lebih menyerupai rasa iba daripada hiburan. "Kalau lo tanya pendapat gue..." Pandangannya menerawang jauh ke permukaan laut. "Lo harusnya bersyukur dia masih bisa nahan diri."

Flashback Satu bulan setelah penyerangan markas Black Ribal

Di dalam gudang beras yang sudah porak-poranda, Gilang menelusuri setiap ruangan yang pernah menjadi markas Black Ribal. Pecahan kaca, bercak darah, dan puing-puing akibat peperangan satu bulan yang lalu masih berserakan di sana.

Sudah beberapa kali Gilang mendatangi tempat ini. Dia ingin segera menemui Robi yang ia yakini selamat, seseorang yang mungkin bisa membantunya untuk menyelidiki The Krugger, kasus yang saat ini dia tangani.

"Ngapain lo di sini?!!" tanya Robi, menodongkan pistolnya ke Gilang, ia muncul dari balik puing-puing.

"Akhirnya gue ketemu juga sama lo, Robi. Ada hal yang mau gue sampein ke lo," jawab Gilang, mengangkat tangannya.

"Gue kasih kesempatan lo buat jelasin. Hidup nggaknya lo setelah ini tergantung alesan lo di sini," ancam Robi, matanya penuh kecurigaan.

Pandangan Gilang menyapu gudang yang kini tinggal puing. Karung-karung beras yang robek, bercak darah yang mulai menghitam, dan lubang-lubang peluru di dinding menjadi saksi betapa brutal malam itu.

"Gue butuh bantuan lo. Aurell pernah bilang sama gue. Kalau suatu hari terjadi sesuatu,
orang pertama yang harus gue cari itu lo."

"Udah gue duga kalo lo bakal ada koneksi sama dia. Tapi jangan harap gue percaya lagi,"

"Gua pernah nangkep dia waktu kalian nyerang Wild Liar dan minta dia jadi penyusup di kelompok lu. Tapi dia justru ngejebak gua buat lepasin diri dari gua. Jadi, jangan berfikir kalo dia yang udah khianatin lu semua,"

"Kalo bukan dia, terus siapa yang mengkhianati kami?"

"Sanyo. Dia anggota Krugger dan dia juga yang bunuh Aurell di depan gua dan Rizal-"

"Lo pikir gue bakal percaya omongan lo! Lo cuma mau mancing gue!" Robi ingin menarik pelatuk pistolnya.

"Rizal masih hidup!"

Tangan Robi yang memegang pistol tidak bergerak, sorot matanya berubah, lalu tertawa pendek. "Jangan..." Bibirnya bergetar. "Jangan bawa nama dia buat mainin gue."

"Gue liat berita kalo dia ikut mati! Jangan bohong!" sanggah Robi.

"Gua bikin laporan palsu buat biarin dia pergi dari sini. Gua yakin dengan koneksi yang lu punya, lu tau hubungan gua dan Rizal dulu kaya apa. Gua nggak akan bunuh sahabat gua,"

"..." Robi terdiam.

"Gua nggak bisa nembak dia. Tepat setelah Sanyo nembak Aurell, dia pengen langsung ngejar Sanyo, tapi gua tahan karena gua nggak bisa biarin dia mati. Dia berkeras buat ngejar Sanyo dan kasih gua pilihan, nembak dia atau biarin dia pergi. Gua memilih membiarkannya pergi dan memalsukan kematiannya,"

"Mayatnya?"

"Gue pake mayat anak buahnya buat gantiin dia, dan gue bikin laporan kalo dia udah mati dan anak buahnya yang lolos,"

"Gue masih nggak percaya. Buktiin!"

"Untuk sekarang, gua nggak bisa ngasih bukti apapun untuk nunjukin kalo dia masih idup. Tapi... Sebelum dia pergi, dia bilang, jangan kasih tau siapapun kalo dia masih idup."

Tapi gua ke sini buat ngasih lu kesempatan bantu gua ngancurin The Krugger. Ini adalah balas dendam lu yang sesungguhnya,"

"Kenapa gue harus bantuin lo?"

"Kesempatan." Gilang menatap lurus mata Robi. "Kesempatam buat ngancurin The Krugger." Ia menjeda kalimatnya. "Kalau lo masih punya dendam, balas ke orang yang tepat. Bukan ke polisi, tapi Krugger yang udah hancurin hidup kalian."

Moncong pistol Robi turun perlahan.

"Balas kematian Aurell, dan kehancuran kelompok lo," tantang Gilang.

***

"Yang jelas dia nggak bakal langsung nembak lo. Tapi gue nggak jamin kalo dia bakal diem aja kalo ngeliat lo," jawab Robi santai. "Nah, itu dia," ucap Robi melihat Gilang dari kejauhan.

Suara langkah sepatu menggema di atas beton pelabuhan yang retak. Gilang berjalan tanpa mempercepat langkahnya. Tangannya mengepal, tatapannya tidak lepas dari wajah Sanyo.

"Jadi dia alesan lo ngajak ketemu?" Tanya Gilang, masih menahan emosinya.

"Iya, tapi bukan buat nyerahin dia ke lo. Dia mau bersekutu. Dia di sini buat bantu lo hancurin Krugger. Musuh kita sama," jawab Robi, menebak maksud Gilang.

"Gua masih nahan diri buat nggak ngehajar orang ini. Jadi, kasih gua alesan kenapa gua nggak harus mukul orang ini," pinta Gilang pada Robi, matanya menembus Sanyo.

"Gua di sini buat bantu lu hancurin Krugger. Gua akan buka semua rahasia Krugger," sahut Sanyo, memberi tahu maksudnya.

Buugg!

"Anjing!!! Lu pikir gua bakal percaya sama orang yang udah bunuh cewek sahabat gua, orang yang udah khianatin bosnya!!! Alasan itu busuk!!!" Gilang mendaratkan pukulan keras tepat di wajah Sanyo.

Darah mengalir tipis dari sudut bibir Sanyo, ia tidak membalas. Sanyo kembali menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke arah Gilang.

"Udah puas?" Robi menatap kepalan tangan Gilang, lalu beralih ke wajahnha. "Sekarang denger penjelasan dia.

"Dengerin penjelasan?! Setelah semua yang dia lakuin lo nyuruh gue dengerin?! Harusnya lo langsung matiin nih orang!" Sergah Gilang.

"Itu yang gue lakuin saat pertama ketemu dia. Gua hampir nembak dia kalo aja waktu itu gua cuma berdua sama dia. Dengerin dia dulu. Dia punya rahasia Krugger."

Gilang mengusap buku-buku jarinya yang memerah. Dadanya masih naik turun menahan amarah.

****

TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang