Ikatan tali Aban terlepas, meninggalkan bekas merah melingkar di pergelangan tangan Alee. Alee menatap jam di layar ponsel. Angkanya meloncat terlalu jauh. Ia menelan ludah.
Alee mengaktifkan kembali alat komunikasi terenkripsi yang Aban matikan saat menyergapnya. Layar ponsel menyala, puluhan notifikasi yang masuk dalam mode burst.
Alee membaca pesan. Sesaat, wajahnya datar, lalu matanya membelalak, pupilnya melebar hingga memenuhi irisnya yang pucat.
CHACHA. RUMAH AMAN DISERANG. KEBAKARAN.
Ia bangkit, kakinya gemetar, lututnya membentur kursi logam. Ia mengabaikan rasa sakit di perut dan rahangnya. "Sial!" teriak Alee. "Ban, lo harus lepasin gue! Mereka serang rumah aman! Chacha!"
Aban menghentikan gerakan membersihkan pisau kejut listriknya. Satu alisnya terangkat, ia menatap Alee. "Rumah aman? Lo yakin, Lee? Jangan gampang kemakan provokasi. Mungkin itu jebakan paman lo."
"Ini Pak Rudi! Gue nggak punya waktu buat debat sama lo!" Suara Alee pecah saat menyebut nama Chacha. mengambil pistol yang tergeletak di meja.
Alee bergerak menuju pintu, tetapi Aban lebih cepat. Aban menangkap bahunya, mencengkeramnya kuat-kuat.
"Lo mau ke mana? Nggak ada yang tahu lo ada di sini, Lee. Kalau lo muncul di sana, lo mati konyol, dan Chacha nggak akan terbalas," desis Aban. "Kalau lo mau balas, lo harus bunuh orang yang benar."
"Gue akan bunuh orang yang benar! Dan yang benar sekarang adalah Daeng! Atau Sanyo! Mereka berdua!" Alee mencoba berontak, tetapi tenaga Aban lebih besar.
"Lo mau balik pake motor curian lo itu?" ejek Aban. "Gue tahu jalan pintas dan cara bergerak yang nggak akan terdeteksi di Jakarta. Lo butuh gue."
Aban melepaskan Alee, berbalik ke sudut gudang yang gelap. Ia menarik dua terpal besar yang menutupi sepasang motor yang diparkir rapat.
Motor pertama adalah motor sport Aban yang sudah dimodifikasi total, berwarna hitam doff tanpa plat nomor. Motor kedua adalah motor berwarna biru kusam, tetapi terawat sempurna.
"Ambil motor itu," kata Aban, menunjuk ke arah motor biru.
Alee mengikuti arah jarinya.
Motor itu tidak mencolok. Catnya mulai kusam. Rangkanya bersih-terlalu terawat untuk motor yang lama tidak dipakai.
Alee belum juga mengalihkan pandangannya. "Kenapa yang ini?"
"Ini motor yang Aurell pake dulu," suara Aban turun satu nada. Tangannya tetap di jok motor.
Ia mengusap jok motor itu. "Gue simpen, gue rawat. Sampai sekarang, cuma gue dan Renggo yang pernah naik motor ini setelah dia. Kalau Renggo masih idup, seharusnya dia ngenalin motor ini."
Alee mengangguk. Tangannya ragu sebelum memutar gas.
"Gue yang mimpin jalan. Kita ngecek Jagakarsa, lalu kita cari Sanyo," perintah Aban. "Jangan ada emosi. Lo cuma robot yang menjalankan perintah."
Alee mengangguk, lalu menaiki motor biru Aurell.
Dua motor, hitam dan biru, membelah malam Jakarta dengan kecepatan tinggi di jalan menuju Jagakarsa. Angin malam menyayat wajahnya.
Alee mengendarai motor itu seperti dikejar iblis, meliuk di antara truk dan mobil. Alee menarik gas terlalu dalam. Motor melonjak.
Bayangan Chacha duduk di depan monitor, pisau kecil di tangan muncul sekilas di kepalanya. Alee menarik gas lebih dalam.
Aban mengikutinya, mempertahankan jarak. Aban melihat kegilaan Alee, ia membiarkan Alee memacu motor sampai nyaris kehilangan kendali.
Mereka mendekati Jagakarsa, lampu sirine merah dan biru mulai terlihat. Di kejauhan, asap hitam tebal mengepul, melukis langit malam.
Mereka memarkir motor di balik sebuah warung yang sudah tutup. Dari kejauhan, Alee bisa melihatnya. Rumah aman itu sudah menjadi lautan api.
Bangunan rumah aman sudah runtuh, api menjilat-jilat ke udara, memancarkan panas hingga ke tempat mereka berdiri. Banyak warga yang mencoba memadamkan api dengan ember dan selang air seadanya.
Alee turun dari motor, kakinya lemas. Panas api menyentuh wajahnya.
"Daeng. Gue mau Daeng," desis Alee, suaranya kering. Pistol sudah ada di tangannya.
Aban memegang bahu Alee. "Lo yakin dia di sana? Dia pengecut, Lee. Dia cuma nyuruh orang."
"Kalau gitu, Sanyo. Dia yang gerak di Tangerang," balas Alee. "Dia yang diperintah Champagne. Kalau nggak ada dia, nggak akan ada pergerakan ke Chacha."
Aban menatap Alee beberapa detik. "Lo punya bukti Sanyo yang nyerang?"
Alee membalas tatapan Aban. Api dari rumah aman memantul di matanya. "Nggak."
"Terus?"
"Dia Absinthe baru. Dia punya orang, kendaraan, sama jalur buat gerakin pasukan secepat ini." Alee menggenggam pistol lebih erat. "Dan kemarin gue datang langsung ke markasnya, ngasih tahu dia Tim Hantu lagi nyari pengkhianat."
Aban menoleh ke arah rumah aman yang terbakar. "Bisa jadi dia," katanya. "Bisa juga lo cuma butuh satu nama buat dihantam malam ini."
"Gue nggak peduli."
Aban mengangguk pelan. "Oke. Kita mulai dari Sanyo. Gue ikut. Tapi kalau nggak ada siapa-siapa, kita balik. Jangan buang waktu kita buat balas dendam konyol."
Alee mengangguk. Ia menyalakan motor biru Aurell. Ia tidak peduli lagi dengan kecepatan. Ia hanya peduli dengan tujuan. Dendam adalah bahan bakar barunya.
***
Mereka tiba di gang sempit dekat markas kecil Sanyo. SUV hitam sudah tidak ada. Lampu markas redup. Tempat itu tampak kosong.
Alee melompat dari motor, menendang pintu hingga terbuka. Tiga anak buah Sanyo yang sedang berjaga di dalam, duduk di meja sambil bermain kartu
"Alee! Mau ngapain lo dateng malam-malam?" tanya salah satu dari mereka.
"Mana Sanyo?" Alee berjalan perlahan ke tengah ruangan.
"Bos lagi ada urusan. Lo nggak bisa seenaknya di sini," balas penjaga itu, mencoba berdiri.
Buaghk!
Alee bergerak lebih dulu, ia menghantam kepala penjaga itu dengan senjatanya. Pria itu langsung ambruk ke lantai, kartu remi berserakan.
Ia mengambil meja kecil, melemparkannya ke arah dua penjaga yang tersisa. Mereka mencoba melawan.
Aban maju, menghantam rusuk yang terbuka. Bunyi retak terdengar jelas. Alee menyusul dengan gagang senjata ke wajah, tulang rusuk mereka patah, gigi mereka tanggal. Alee menginjak kepala salah satu penjaga yang sudah terkapar, Alee menekan lebih keras.
"DI MANA SANYO?! KENAPA RUMAH AMAN DI SERANG?!" teriak Alee.
"Gue nggak tahu! Gue nggak ikut! Sanyo pergi dari sore!" rintih penjaga itu.
Alee melepaskan injakannya. Gudang itu kini berantakan. Peralatan komunikasi, meja, dan kursi, semuanya hancur. Aban bersandar di dinding, mengamati kekacauan.
Alee berdiri di tengah markas Sanyo yang hancur, menengadah ke langit-langit yang remuk.
"SANYOOOOOOOOO!"
Teriakan Alee bergema di gudang yang hancur.
Tidak ada jawaban. Hanya gema suaranya sendiri yang kembali.
***
Di Mobil SUV, Beberapa meter dari rumah aman Jagakarsa.
Ilham memarkir mobilnya jauh dari lokasi kebakaran. Ia menatap api itu, wajahnya pucat pasi di balik setir. Ia memukul setir sekali. Lalu sekali lagi.
"Gue gagal, Lang," bisik Ilham pada keheningan di mobilnya. Pandangannya kabur. "Gue mengkhianati kalian... dan gue nggak menyelamatkan siapa-siapa."
Ilham menyalakan mesin. Tangannya sedikit bergetar saat memutar setir. Ia tidak menoleh ke belakang ketika mobil mulai bergerak. Ia menekan pedal gas. Mobil berbelok ke jalan utama. Lampu-lampu kota mulai menggantikan cahaya api.
Beberapa detik kemudian, pantulan merah itu hilang dari kaca spion.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]
AksiTRILOGY SATU TITIK "Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama." BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40) BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86) BUKU 3 : SATU TITIK...
![TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k175150.jpg)