Langit di atas kompleks perumahan sederhana itu mulai meredup, menyisakan cahaya jingga yang tertutup mendung tipis. Baru seminggu Riki memijakkan kaki di aspal Bandung, ia sudah harus memutar kembali kemudi menuju Tangerang Selatan. Nadia duduk di depan meja hias kamar, merias wajahnya.
"Ngapain pakai dandan segala, sih, Nad? Ini kan cuma perjalanan mobil tiga jam. Bukan kondangan," Riki bersandar di kosen pintu ruang tamu, memperhatikan Nadia yang sedang memulas gincu terakhir di depan cermin kecil.
"Biarin aja, sih! Gue kan harus tampil cantik. Siapa tahu nanti ada pertemuan penting di sana," sahut Nadia ketus tanpa menoleh.
Riki mendengus, matanya menatap pantulan wajah Nadia di cermin. "Walaupun jigong lo masih nempel, lo selalu cantik di mata gue, Nad. Nggak usah dandan juga sudah mempesona," goda Riki.
"Hilih, gombal! Urusin tuh mantan lo, si Sisil. Jangan godain gue. Udah nggak laku lo," sungut Nadia menoleh.
"Heh, udah minta tolong, songong lagi. Dasar cewek nggak tahu terima kasih," protes Riki, memperbaiki kerah kemejanya.
Nadia mendekat, matanya berbinar jenaka saat ia mencubit lengan Riki. "Ututututu, Babang Riki yang ganteng, jangan ngambek yaaaa~" rayu Nadia.
"Dasar fuckgirl," cibir Riki.
"Lo sendiri fuckboy kelas kakap," balas Nadia.
"Eeehh, kok jadi berantem sih kalian? Udah-udah," sela Bu Vera. Ia muncul dari arah dapur membawa dua kotak bekal yang dibungkus kain.
"Nih, Rikinya nyebelin, Bun. Ganggu mood," adu Nadia, bersembunyi di balik bahu ibunya.
"Kalau ngomong, seenak jidat lo ya, Nad. Nggak ada sopan santun," protes Riki lagi.
Bu Vera tertawa kecil. "Kalian ini ya, kalau ketemu berantem terus. Udah nikah aja sana. Masih sama-sama jomblo kan?"
"Mau~" sahut Riki manja. Ia melangkah maju, memeluk bahu Bu Vera dari samping.
"Ogah! Ogah banget!" Nadia menarik lengan Riki menjauh dari ibunya "Lagian kalau nikah sama lo, tiap hari cuma dikasih kopi, lambung gue bisa kena tsunami."
"Enak. Hemat."
"Gue maunya hidup, bukan bertahan hidup."
"Udah sana berangkat. Nanti keburu sore," suruh Bu Vera.
Nadia meraih tangan Bu Vera, mencium punggung tangannya lalu mengecup pipi wanita yang sudah membesarkannya sendirian itu. "Nadia berangkat ya, Bun."
"Hati-hati ya, Sayang. Semoga kerjaan kamu lancar di sana, sukses dan selamat kembali," ucap Bu Vera. Ia mengecup kening putri sulungnya itu dengan khidmat.
"Aaaamiiiiiin," sela Riki keras-keras, yang langsung dibalas lirikan Nadia.
"Apaan sih ngeliat gue kayak gitu amat? Orang gua cuma aminin doanya Bunda. Iya kan, Bun?" Riki mencari pembelaan, memasang wajah polos andalannya.
"Udah sana, kelamaan ngeliat kalian berantem bikin pusing," pinta Bu Vera sembari menepuk pundak Riki pelan..
"Iya, Bun. Assalamualaikum," salam Nadia sembari menenteng tasnya.
"Riki, jagain anak Bunda. Jangan macem-macem di sana! Awas kalau nakal!" perintah Bu Vera dengan nada yang sedikit lebih serius.
Riki menegakkan punggungnya, tangan kanannya naik ke pelipis. "Siap, Bunda. Hormat!"
"Dia bukan Bunda lo! Jangan kegeeran!" protes Nadia sembari mendorong punggung Riki menuju pintu.
"Iya, tapi calon mertua. Siapa tahu pulang dari Bandung, lo luluh," kelakar Riki.
"Idih-idih, mimpi! Gue lebih baik nikah sama tiang listrik," Nadia menghantam bahu Riki dengan tas tangannya sebelum mereka benar-benar keluar ke teras.
Bu Vera tertawa kecil melihat tingkah anaknya dan Riki. Janda anak tiga yang sudah membesarkan Nadia dan dua adiknya selepas kepergian suaminya saat Nadia masih kelas dua SMP.
Ia berdiri di ambang pintu, menatap bayangan mobil Riki yang perlahan menjauh meninggalkan deru mesin di gang sempit itu. Senyumnya perlahan memudar, menyisakan guratan lelah di wajah janda anak tiga itu.
Bu Vera menutup pagar perlahan. Pandangannya berhenti pada pot bunga kecil pemberian Rizal di dekat teras saat masih SMP.
Tanamannya sudah beberapa kali mati, potnya tidak pernah ia buang.
Ia melangkah masuk ke dalam rumah, berjalan menuju buffet, lalu membuka lacinya. Tangannya terulur meraih map plastik tua. Ia mengeluarkan beberapa kuitansi sekolah Nadia yang sudah menguning. Di belakangnya masih ada tulisan tangan LUNAS.
Tangannya berhenti di sebuah amplop putih.
Di sudutnya tertulis nama Pak Hendra, ayah Rizal.
Dada Bu Vera sesak setiap kali teringat kabar hilangnya Rizal yang kini dianggap sudah tewas. Baginya, Rizal bukan sekadar teman sekolah anaknya. Rizal adalah pelindung. Di saat banyak lelaki mendekati Nadia hanya karena paras cantiknya, Rizal berdiri di depan, menjaga Nadia seperti menjaga darah dagingnya sendiri.
Pandangannya beralih ke foto almarhum suaminya berdiri bersama ayah Rizal. Dua lelaki itu pernah berjanji, siapa pun yang lebih dulu pergi, yang tersisa akan menjaga keluarga sahabatnya.
Janji itu tidak pernah putus. Setelah suaminya dimakamkan, ayah Rizal diam-diam mengambil alih biaya sekolah Nadia dan kedua adiknya.
"Semoga kalian selamat sampai tujuan," doa Bu Vera dalam hati. Jemarinya meremas pinggiran daster yang ia kenakan. "Rizal, semoga kamu baik-baik saja di mana pun kamu berada. Bunda kangen," bisiknya lirih ke arah langit yang mulai gelap.
***
Pasar Serpong menyisakan bau busuk sayuran yang membusuk dan udara lembap yang menyesakkan. Noval berdiri mematung di depan garis polisi kuning yang menyilang di depan bekas gudang beras. Bangunan itu tampak seperti monster mati yang menyimpan ribuan rahasia berdarah di dalamnya.
Selama seminggu terakhir, Noval selalu mendapatkan penolakan akses dari Rumah Sakit Polri terkait laporan otopsi dan kepastian identitas Renggo.
"Lo, nutupi apa, Lang?" Pandangannya beredar ke sekeliling pelataran gudang beras.
Noval melangkah maju, tangannya baru saja hendak menyentuh garis polisi yang berdebu itu ketika sebuah suara berat dari balik kegelapan menghentikan jantungnya.
"Ngapain lo ke situ? Ini bukan tempat rekreasi."
Noval tersentak, tubuhnya berputar cepat. Di sudut bangunan yang gelap, seorang lelaki bersandar pada dinding kusam. Ia mengenakan jaket kulit. Lampu merkuri pasar yang berkedip-kedip menerangi separuh wajah lelaki itu, wajahnya tirus dengan lingkaran hitam di bawah mata.
"Lo..." suara Noval nyaris hilang, hanya bisikan parau yang penuh kengerian. "Lo... lo masih hidup?!"
Robi tidak menjawab. Ia menatap kosong ke arah Noval. Pupil matanya tidak bereaksi terhadap kerlip lampu merkuri yang tidak stabil. Ia menegakkan punggungnya, melepaskan sandaran dari dinding. Jaket kulitnya berbunyi gesekan kasar saat ia bergerak.
Robi melangkah masuk ke dalam lingkaran cahaya. Ia menarik napas pendek.
Noval mundur selangkah, tumit sepatunya menghantam kaleng kosong. ia mematap Robi tanpa berkedip. Di tangan Robi, sebungkus rokok digenggam erat, jari-jarinya kaku, sulit untuk menekuk dengan sempurna.
Keheningan di antara mereka dipecah dengung trafo lampu jalanan. Robi tetap diam, angin malam berbau anyir pasar menerpa wajahnya. Noval masih mematung, jantungnya berdegup kencang di pangkal telinga.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]
AksiTRILOGY SATU TITIK "Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama." BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40) BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86) BUKU 3 : SATU TITIK...
![TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k175150.jpg)