115. CHAOS

3 0 0
                                        

Suara debur ombak dan dentuman musik house yang sensual menyelimuti ruang VVIP, kontras dengan hawa dingin bisnis di dalamnya. Daeng dan Pisco duduk di sofa beludru merah.

Ponsel satelit di atas meja bergetar. Pisco melirik layar tanpa langsung mengambilnya. Notifikasi kedua menyusul beberapa detik kemudian. Ia meraih ponsel itu, membuka laporan singkat dari jaringan pemantau Hydra.

PERGERAKAN TERDETEKSI

RENGGO DAN SISA TIM HANTU

ARAH: MUARA ANGKE

TARGET DIDUGA: BRANDY

Laporan lain di bawahnya. Beberapa kendaraan tanpa identitas bergerak dari selatan Jakarta menuju kawasan pelabuhan. Salah satunya pickup double cabin hitam yang belum tercatat dalam jaringan Hydra.

Pisco menggeser layar, membaca nama Sisilia dalam lampiran aset Richard. Sudut bibirnya terangkat. Ia mematikan layar, meletakkan kembali ponsel di atas meja, lalu mengambil gelas sampanyenya.

"Mereka gerak cepat, Anak baru itu Bodoh," kata Pisco, menyesap sampanye. Matanya menyipit. "Renggo udah tahu tentang Sisilia. Dia pake sumber daya Hydra cuma buat memuaskan dendam karena perselingkuhan. Dia lemah."

Daeng menuangkan wiski, lalu meminumnya dalam satu tegukan. "Biarin anjing-anjing itu saling cabik, Pisco," kata Daeng, meletakkan gelasnya. "Renggo nyerang Richard, itu bagus. Tapi ini bukan tentang Renggo. Ini tentang Champagne."

Daeng mengeluarkan foto tua dari dompetnya. Foto seorang pria yang mengenakan jaket kulit, wajahnya terlihat sangat mirip dengan Alee, garis kekuasaan dan kekejaman yang lebih tegas di rahangnya. "Dia ngambil semuanya. Identitas Krugger, dan darah dagingnya."

Ia melipat foto itu mengikuti garis lama yang sudah memutih. Jemarinya tertahan di wajah pria dalam foto sebelum memasukkannya kembali ke dompet. "Gue nggak akan biarin dia mati dua kali."

Pisco mengangkat alis.

"Sekali sebagai manusia. Sekali lagi sebagai nama." Daeng memasukkan dompet ke balik jaketnya.

"Pisco, hubungi anak buahmu. Kita nggak menyerang Richard. Kita nyerang sarang Champagne yang kosong. Kita akan buktikan siapa Krugger yang asli, dan kita akan bikin dia bayar harga kepalsuannya."

***

Rizal mengemudi dengan kecepatan berbahaya. Di kursi belakang, Riki terbaring. Wajahnya dibalut perban dan memar, rahangnya mengeras setiap kali mobil menghantam lubang. Ia menolak jarum bius yang ditawarkan sejak tadi. Setiap benturan membuat tubuhnya tersentak, dan setiap kali itu pula matanya tetap terbuka, menolak pingsan.

"Lo janji, Zal," bisik Riki, suaranya serak. Matanya menatap bayangan Rizal di kaca spion. "Gue yang bunuh dia."

"Lo masuk. Lo nggak mati," jawab Rizal datar. "Sisilia dan anak lo adalah prioritas. Jangan jadi martir, Riki."

Ponsel terenkripsi Rizal bergetar di tempat penyimpanan dashboard. Pesan baru masuk dari nomor yang sama.

JALUR BARAT.

KAIN PUTIH.

DELAPAN MENIT.

"Sanyo ngasih jalur masuk," teriak Rizal ke Alee di samping mobilnya.

"Atau ngarahin kita ke tengah pembantaian," suara Alee teredam dari balik helm.

"Makanya lo jangan pakai jalur yang dia kasih sebelum lo periksa sendiri."

"Lo masih percaya sama dia?"

"Gue nggak percaya siapa-siapa." Rizal menyimpan kembali ponselnya. "Tapi gue akan pakai semua informasi yang bisa bawa kita ke Sisilia."

TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang