Lima belas kilometer dari Muara Angke, di Pulau Pribadi di Kepulauan Seribu, Lantai helipad bersih. Angin laut tenang. Tidak ada suara tembakan. Bahkan burung camar terdengar terlalu dekat.
Di atas helipad, Daeng sudah mengenakan jaket kulitnya. Di sampingnya Pisco memegang ponsel satelit.
Dua laporan masuk hampir bersamaan. Jalur distribusi Brandy di Muara Angke diserang. Uang taruhan dan buku bandar hilang, muatan narkoba ditinggalkan di dalam truk.
Beberapa menit kemudian, gudang Jagermeister di Bandung dihantam kelompok yang menggunakan kendaraan dan perlengkapan polisi. Arsip transaksi dibawa keluar sebelum para penyerang menghilang.
Pisco membaca kedua laporan itu, lalu mendengus. "Dua kota sekaligus. Champagne bakal sibuk menuduh semua orang sebelum matahari terbit."
Laporan ketiga masuk dari jaringan pengamanan Hydra. Dua unit Cleaner dikirim menuju Muara Angke. Sebagian personel pengamanan arsip Jasinga ikut dipindahkan untuk memperkuat pasukan Richard dan menutup jalur keluar kawasan pelabuhan.
Pisco memperlihatkan layar itu kepada Daeng. "Cleaner utama udah masuk Muara Angke."
"Bagus."
"Dua regu pengamanan Jasinga ikut ditarik." Pisco memasukkan ponselnya ke saku. "Tapi jangan salah. Gudang itu nggak kosong."
Daeng berbalik menghadap Pisco. "Nggak perlu kosong."
"Berapa orang yang menurut lo masih di sana?"
"Cukup buat bunuh orang yang masuk tanpa rencana."
Pisco mendengus. "Kita masuk dengan pasukan kecil ke gudang arsip Hydra. Menurut definisi gue, itu masuk tanpa rencana."
"Rencananya sederhana." Daeng melangkah mendekati helikopter. "Masuk sebelum Champagne sadar semua kekacauan ini cuma ngebuka satu pintu."
Pisco tetap berdiri di tempatnya. "Lo belum bilang apa yang kita cari di Jasinga."
Daeng berhenti. Angin menggerakkan ujung jaketnya. "Bukan uang. Bukan senjata. Bukti siapa yang membangun tahta Champagne."
"Dan kalau barangnya udah dipindahin?"
"Berarti gue bunuh semua orang di sana sampai ada yang bilang dipindahin ke mana."
Pisco tersenyum tipis. "Itu baru terdengar seperti rencana."
Pilot menyalakan mesin helikopter. Baling-baling mulai berputar, mengusir udara dari atas helipad. Suaranya perlahan menelan debur ombak.
Pisco memberi isyarat kepada anak buahnya untuk naik.
"Kita nggak butuh Champagne," bisik Daeng. "Kita butuh tahtanya."
***
Rizal melompat ke belakang tumpukan forklift saat unit bersenjata itu masuk.
Pintu-pintu kendaraan terbuka hampir bersamaan. Belasan pria turun dengan senapan terangkat. Mereka membentuk tiga kelompok begitu sepatu menyentuh beton.
Pria paling depan memiliki tato ular di psingkat Dua jarinya bergerak singkat.
Satu kelompok menekan posisi Red Viper. Kelompok kedua bergerak memutar menuju tempat Alee terakhir terlihat. Kelompok ketiga menuju jalur timur yang dipakai Noval membawa Sisilia keluar.
Peluru pertama melintas sejajar dengan telinga Rizal. Ia merunduk, membalas dua tembakan, lalu berpindah ke belakang badan forklift.
"Cleaner!" teriak Aban dari balik kontainer. Darah mengalir dari goresan panjang di dahinya. "Champagne ngirim Cleaner!"
Rizal menekan alat komunikasinya. "Noval, posisi!"
Suara mesin dan napas berat terdengar dari seberang. "Enam ratus meter dari titik medis. Tapi ada dua kendaraan motong dari utara!"
KAMU SEDANG MEMBACA
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]
ActionTRILOGY SATU TITIK "Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama." BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40) BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86) BUKU 3 : SATU TITIK...
![TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k175150.jpg)