29. IZIN

120 9 2
                                        

Sinar lampu neon koridor belakang Polres Tangerang Selatan memantul di atas lantai. Aroma sangit kopi sachet bercampur uap cetakan kertas dari mesin dot-matrix yang berderik konstan di ruang operasional.

Gilang melangkah melintasi koridor. Tangannya mencengkeram map tebal. Wajahnya tenang, napasnya teratur. Ia berhenti di depan pintu kayu bertuliskan KASAT RESKRIM, lalu mengetuk dua kali.

"Masuk."

Pak Nano duduk di balik meja kaca besar. Laporan kriminalitas mingguan terbentang terbuka di depannya, bersandingan dengan lembaran foto luka sabetan, ban mobil patroli yang bocor disayat, dan kios pasar yang gosong terbakar.

"Ada apa, Gilang?" Pak Nano mendongak, menyipitkan mata.

"Saya dapat perkembangan terbaru, Pak."

Pak Nano menghentikan sapuan penanya di atas kertas, lalu menutup map di depannya.

Gilang melangkah mendekat, membuka gulungan peta Tangerang Selatan di atas meja kaca. Jarinya menunjuk lima titik perbatasan yang ditandai lingkaran biru.

"Wild Liar akan melakukan operasi besar," kata Gilang.

Pak Nano membisu sejenak, mengamati titik-titik tersebut. "Kapan?"

"Tiga hari lagi."

"Yakin?"

Gilang menatap lurus ke dalam mata pak Nano. "Saya berani bertanggung jawab atas analisis ini."

Pak Nano bersandar ke kursi kulitnya.

"Beberapa hari terakhir," lanjut Gilang. Jemarinya bergerak dari Serpong menuju Pamulang, "aksi mereka kelihatan acak. Bakar spanduk, pelemparan molotov ke pos kosong, sabotase setoran. Tapi ini bukan aksi balasan spontan buat merebut kembali wilayah."

"Maksud kamu?"

"Ini pengondisian pola," jelas Gilang, menunjuk jalur patroli. "Mereka sengaja bikin gangguan-gangguan kecil di banyak titik bersamaan buat menguras tenaga Black Ribal. Begitu stamina lawan drop dan ritme pengamanan kita mengendur..."

Gilang mengetuk titik tengah peta. "...serangan besarnya tinggal menunggu waktu."

Ia merogoh saku dalam jaket dinasnya, menggeser selembar draf rancangan operasi gabungan ke depan Pak Nano.

"Saya minta izin memimpin taktis operasi gabungan," kata Gilang. "Melibatkan intel, reskrim, gabungan Polsek, dan unit patroli."

Pak Nano membuka draf tersebut, membaca susunan personel, pemetaan sektor, dan jalur komando. "Kenapa bukan Kapolres langsung yang pegang?"

"Karena ini masih sebatas usulan operasi terencana," sahut Gilang. "Kalau konsep ini Bapak setujui, penerbitan sprint tetap lewat Kapolres."

Pak Nano mengangguk, jemarinya menelusuri lembaran draf hingga berhenti di kolom penindakan target.

"Target utama?"

"Olay."

"Kenapa harus Olay?"

"Dia masih memegang komando simbolis di lapangan," jawab Gilang. "Kalau Olay ditarik dari papan permainan, sisa anggotanya bakal kehilangan arah dan tercerai-berai."

Pak Nano membolak-balik lembaran rencana. "Kenapa kamu eksekusi di malam kedua dari rentang pergerakan mereka? Kenapa nggak malam pertama?"

Gilang menunjuk bagi garis timeline di bagian bawah draf.

"Malam pertama... semua orang masih di puncak kedisiplinan dan kewaspadaan," papar Gilang. "Malam kedua... rasa percaya diri mereka mulai tumbuh. Rotasi pengamanan internal mereka mulai longgar, dan jalur komunikasi antar-pos biasanya mulai berantakan. Itu jendela terbaik buat masuk."

TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang