Dinding gudang utama Wild Liar memantulkan hawa panas malam. Bau alkohol menyengat hidung. Di tengah ruangan, Olay berdiri melintasi meja kayu. Matanya merah, urat-urat di lehernya menegang menahan murka melihat peta Tangerang Selatan yang hampir seluruh lingkarannya tercoret spidol.
Tiga ketua wilayah yang tersisa duduk membisu di atas deretan drum bekas. Tak ada satu pun mengangkat wajah.
"Malam ini juga kita serang balik!" Olay menghantam besi ke atas meja. "Anjing-anjing Black Ribal itu udah kelewatan! Kita bawa semua orang yang sisa!"
"Kalau sekarang kita perang besar..." potong Ajat. "...yang senang siapa?"
Olay tersentak, berbalik ke arah sumber suara.
Ajat melangkah perlahan keluar dari bayangan tiang beton. Tangannya memegang spidol merah tebal. Ia mendekati meja, membentangkan peta baru yang masih bersih dari lipatan.
Olay membisu, rahangnya merapat.
"Polisi," Ajat menatap lurus mata Olay. "Dan Renggo memang nunggu lu ngelakuin hal goblok itu."
Ajat menancapkan ujung spidolnya ke atas peta, menelusuri jalur-jalur kecil yang membelah perbatasan wilayah. "Jangan serang markas mereka. Jangan sentuh orang-orang yang numpuk di pos utama." Jarinya membuat lingkaran-lingkaran kecil di garis ruko dan jalan pintas. "Incar kurir uang retribusi mereka. Serang motor-motor logistik yang bawa bensin sama rokok. Cegat anak buah mereka yang jalan sendirian di gang sempit habis piket. Potong jalur pasokan ke gudang penyimpanan mereka."
Olay mengerutkan dahi, napasnya yang memburu perlahan mereda. "Hit and run?"
"Gua sebut itu menguliti," sahut Ajat. "Jangan kasih mereka kemenangan terbuka. Tapi jangan juga kasih mereka perang yang mereka mau. Bikin mereka capek. Bikin anak buah Renggo frustrasi karena musuhnya nggak kelihatan, tapi darah mereka netes tiap jam."
Olay menatap garis-garis merah baru di atas peta. "Terus wilayah gua gimana?" suaranya merendah. "Pamulang, Ciputat, Serpong... lepas gitu aja?"
Ajat menyumbat kembali spidolnya. "Wilayah bisa direbut lagi kapan aja pas mereka udah lengah." Ajat memandang empat pengawal Olay dan ketua wilayah yang duduk di atas drum. "Tapi kepercayaan anak buah yang udah runtuh ketakutan... jauh lebih susah dibangun lagi."
Ia memutar tubuhnya, melangkah menuju pintu keluar gudang. Langkah terhenti di depan pintu. "Gua masih punya beberapa kenalan lama," ujar Ajat tanpa menoleh. "Besok mereka mulai turun bantu kita di lapangan."
Olay melangkah satu tindak. "Siapa?"
Sudut bibir Ajat terangkat tipis di balik kegelapan. "Lu nggak perlu tahu."
Pintu besi berderit, lalu tertutup rapat, Ajat menghilang ke dalam kegelapan malam. Olay menatap pintu yang kosong itu sejenak, lalu mengepalkan tangannya di atas peta.
Sinar proyektor di ruang rapat utama Polres Tangerang Selatan menembus asap tipis kopi panas. Papan tulis raksasa di depan ruangan dipenuhi tempelan foto dan garis koordinat. Pin-pin merah Wild Liar makin terdesak ke sudut selatan, pin-pin hitam Black Ribal menguasai hampir seluruh koridor jalan utama.
Pak Nano berdiri di samping proyektor, menyandarkan kedua tangannya ke meja rapat.
"Laporan terakhir," ujar seorang perwira menengah di depan layar. "Ekspansi Black Ribal makin masif. Dalam 24 jam ke depan, diprediksi mereka akan mengunci sisa wilayah di perbatasan selatan. Jika ini dibiarkan, kekuasaan tunggal akan terbentuk di jalanan."
"Saran saya, buat operasi gabungan skala besar," potong seorang Kepala Satuan operasional. "Raziakan semua pos mereka sekaligus! Tekan dua-duanya sebelum situasi lepas kendali!"
KAMU SEDANG MEMBACA
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]
AzioneTRILOGY SATU TITIK "Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama." BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40) BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86) BUKU 3 : SATU TITIK...
![TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k175150.jpg)