Angka digital di dinding kedai menunjukkan pukul 23:00. Kursi-kursi kayu di Kedai Kopi Nusantara #3 mulai dinaikkan ke atas meja, menyisakan satu sudut di pojok ruangan yang masih berpenghuni. Noval mengaduk sisa buih di dasar cangkir Irish Coffee keduanya yang sudah mendingin, Riki menumpuk gelas kosong bekas Gayo Aceh dan Java Ciwidey di depan mejanya.
Di hadapan mereka, Nadia menatap cangkir Americano yang uapnya sudah hilang. Ia baru saja menghabiskan Ice Cappucino, tapi kantuk yang menyerang tak sebanding dengan rasa penasaran yang menahan kakinya untuk tetap di sana. Di tengah meja, piring French Fries Nadia hanya tersisa remah-remah asin yang dingin, bersanding dengan mangkuk mie gledek Noval yang bumbunya sudah mengering di pinggiran piring.
Sesekali Noval menusuk sisa mie yang sudah dingin, matanya terus menatap ke arah pintu kaca kedai.
"Buset, kalau begini mah enak di lo, ya. Gue jajan melulu di sini," Noval melirik tumpukan gelas di meja Riki.
"Iya, bisa gendut nih gue kalau keseringan kaya gini," Nadia merapikan letak duduknya, kemeja kerjanya semakin menegang di bagian dada.
Riki menyeringai, matanya sempat tertahan di lekukan tubuh Nadia, lalu beralih ke Noval. "Buat malam ini gua yang traktir. Anggap aja hiburan karena Gilang bikin lo semua nunggu."
Raungan mesin 250 cc membelah kesunyian parkiran sebelum akhirnya mati dengan desis panas yang panjang. Gilang turun dari jok motornya. Di belakangnya, seorang wanita melompat turun.
Sosok itu memiliki garis wajah yang identik dengan Aura, namun segalanya terasa berbeda. Jaket kulit hitam membungkus tubuhnya. Riasan matanya yang pekat membuat tatapannya terlihat gelap dan dalam.
Wanita itu berdiri tegak di samping Gilang, dagu sedikit terangkat, kedua tangan terselip di saku jaket.
"Dari mana aja lo? Jam segini baru nyampe," Noval melirik arlojinya lalu menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
"Maaf. Gua harus jemput dia dulu," Gilang melirik ke arah Aurell.
Nadia menurunkan kacamatanya hingga ke ujung hidung, memindai dari ujung sepatu bot hingga riasan mata gelap Aurell. "Lo kesurupan apa, Ra? Dandan kayak gini?"
Aurell menatap Nadia datar tanpa ekspresi.
"Nanti gua jelasin," potong Gilang. Ia menoleh sedikit ke arah Aurell. "Kamu pesan minum dulu sana."
Aurell melangkah menuju konter barista. Riki memperhatikan setiap ayunan kakinya sebelum beralih menatap Gilang. "Habis dari mana lo berdua?"
"Tugas," Gilang menarik kursi dengan tangan kirinya, bahu kanannya tetap kaku, menjaga agar perban di balik jaketnya tidak bergeser.
Aurell melangkah pelan menuju meja, menarik kursi di samping Gilang lalu meletakkan secangkir kopi hitam pekat. Ia duduk tegak, melipat tangan di depan dada, matanya menyapu seisi meja tanpa emosi.
Gilang menarik napas panjang, sudut bibirnya sedikit berkedut saat bahu kanannya bergerak. Ia menumpu kedua tangannya di atas meja, jemarinya saling bertaut hingga buku-bukunya memutih. Matanya yang merah menatap satu per satu wajah di hadapannya.
"Rizal sudah ketemu," suara Gilang rendah, nyaris tenggelam deru kendaraan yang sesekali lewat di luar. "Tapi dia bukan Rizal yang kita ingat. Namanya sekarang Renggo... Ketua Black Ribal."
Nadia tersedak, Americano-nya menyembur keluar hingga membasahi telapak tangan. Di sampingnya, Noval menurunkan gelasnya perlahan. Riki mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Nggak mungkin! Gue lihat sendiri Rizal bagiin nasi box ke pemulung!" Nadia menggebrak meja, suaranya melengking menembus sudut kedai yang sepi.
"Lo dengar dulu! Jangan main potong aja." Rahang Gilang mengeras, ia menekan telapak tangannya ke meja kayu.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]
Hành độngTRILOGY SATU TITIK "Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama." BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40) BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86) BUKU 3 : SATU TITIK...
![TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k175150.jpg)