49. BAYANGAN

57 3 0
                                        

Di markas The Hydra, malam berjalan dengan ritme yang berbeda dari dunia di luar sana. Di lantai atas, ruang meeting utama Hydra masih diselimuti aroma alkohol mahal.

Meja kayu panjang yang sebelumnya dipenuhi botol minuman kini sudah dirapikan kembali. Gelas-gelas kristal disusun sejajar seperti pasukan kecil yang sedang menunggu perintah. Lampu gantung minimalis memantulkan cahaya lembut di permukaan meja, membuat kilap kayu itu terlihat seperti permukaan danau yang tenang.

Brandy berdiri di salah satu sisi meja. Gaun merah anggurnya diganti dengan blazer hitam yang pas di tubuhnya, sosoknya tampak lebih dingin dan profesional. Rambutnya tergerai rapi di bahu, tangannya santai memutar tutup botol wiski single malt.

Di ujung meja, seorang pria paruh baya duduk dengan sikap santai namun penuh otoritas.

Champagne, kepala Hydra wilayah Bogor. Tubuhnya besar, bahunya lebar seperti mantan atlet yang tidak pernah benar-benar kehilangan kekuatannya. Jas abu-abu yang ia kenakan dijahit dengan potongan sempurna. Sebuah cincin emas besar melingkar di jari telunjuknya, berkilau setiap kali tangannya bergerak.

Ia memutar kursinya sedikit, menatap panorama kota dari balik jendela kaca besar di belakangnya. Lampu-lampu kota Jakarta terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi.

Brandy menuangkan wiski ke dalam dua gelas kristal. Cairan amber itu jatuh perlahan, menghasilkan suara lembut yang hampir tidak terdengar.

"Penilaian gue nggak salah, kan?" Champagme masih memandang ke luar jendela. "Renggo itu punya nyali yang besar."

Brandy berjalan mendekat dan meletakkan salah satu gelas di depan pria itu. "Dia orang yang menarik."

Ia duduk di kursi seberang, menyilangkan kaki dengan santai. "Dia datang tanpa ragu. Bahkan sempat menyindir saya di pertemuan pertama."

Champagne tersenyum tipis. "Gangster jalanan yang berani nyindir Hydra dari jarak satu meja?" Ia mengangkat gelasnya sedikit, menatap warna wiski yang berputar di dalamnya. "Jarang ada yang punya nyali seperti itu."

"Masalahnya dengan polisi itu membuat dia mudah ditekan," Brandy menyesap minumannya perlahan. "Dia punya luka yang belum selesai. Orang seperti itu biasanya lebih mudah diarahkan," Ia menaruh gelasnya kembali ke meja.

Champagne mengangguk pelan. "Selama dia bisa menunjukkan loyalitasnya," senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Loyalitas selalu bisa dibeli... atau dipaksa." Brandy mengangkat alis sedikit.

"Empat puluh persen cukup untuk memaksa."

"Empat puluh persen hanya pintu masuk," jawab Champagme santai. "Begitu dia masuk ke sistem kita, dia tidak akan punya pilihan lain." Ia memutar kursinya menghadap Brandy sepenuhnya. "Orang seperti Renggo tidak cocok hidup di dunia yang setengah-setengah."

Brandy memutar gelasnya. Cahaya lampu menari di permukaan wiski. "Anda yakin dia akan memilih kita?"

"Tidak ada gangster yang menolak senjata." Champagne tertawa pendek "MP5 itu bukan cuma barang dagangan. Itu simbol," Ia menunjuk tablet di meja.

Champagne meneguk wiski setengah gelas dalam sekali teguk. "Begitu dia menerima kiriman itu, dia sudah masuk permainan kita."

Brandy berdiri. Ia mengambil botol wiski lagi, menuangkan sedikit tambahan ke gelas Champagne. Cairan emas itu mengalir pelan. "Anda tahu yang paling menarik dari Renggo?"

Champagne menatap Brandy. "Apa?"

Brandy tersenyum tipis. "Dia tidak sadar kalau dia sudah berada di papan catur."

Champagne tertawa. "Semua orang ada di papan catur." Ia mengangkat gelasnya. "Sebagian hanya belum tahu mereka bidak."

Brandy mengangkat gelasnya juga. Cahaya lampu memantul di kaca kristal. "Hail Hydra!!!"

Champagne ikut mengangkat gelasnya. "Hail Hydra!!!"

Gelas mereka bertemu dengan bunyi denting kecil yang jernih. Mereka meneguk habis wiski itu bersamaan.

Di luar jendela, kota terus bergerak seperti biasa, tidak pernah tahu bahwa di lantai atas gedung sunyi itu sebuah keputusan sedang dirancang-keputusan yang mungkin akan mengubah peta kekuasaan dunia bawah Jakarta.

Sementara itu, di Kota Bandung, malam terasa jauh lebih sunyi. Kabut tipis menggantung di luar jendela hotel, menempel pada kaca seperti embun yang tidak ingin pergi. Lampu-lampu jalan di bawah sana tampak buram, seperti dilihat melalui lapisan air.

Di lantai delapan sebuah hotel butik, Riki berdiri di dekat jendela. Tubuhnya hanya dibalut celana training hitam. Punggungnya telanjang, garis ototnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu kamar yang temaram.

Di tangannya, sebatang rokok menyala. Asap tipis melayang ke atas, perlahan memenuhi ruang kamar dengan aroma tembakau yang hangat. Pantulan dirinya di kaca jendela tampak samar.

Di belakangnya, tempat tidur besar masih berantakan. Selimut putih kusut menumpuk di salah satu sisi, dan di bawahnya Sisilia meringkuk setengah tertidur. Rambut panjangnya terurai di bantal. Kulitnya yang pucat tampak kontras dengan seprai putih.

Sisilia bergerak pelan, lalu membuka mata. "Kenapa, Yang?"

Ia duduk perlahan, selimut turun dari bahunya, lalu merangkak mendekat, menyandarkan dagunya di bahu Riki. Kulit mereka bersentuhan.

Riki mengembuskan asap rokok ke arah jendela. Kabut di luar membuat lampu kota terlihat seperti bintang yang tenggelam. "Mau sampai kapan kita kayak gini, Sisil?"

Tangan Sisilia melingkar di pinggang Riki dari belakang. "Aku lagi nunggu waktu yang tepat buat ngajukan cerai ke Richard."

Riki mematikan rokoknya di asbak di dekat jendela. Bara merah di ujungnya padam. Ia berbalik menghadap Sisilia. "Waktu yang tepat?" ulang Riki, suaranya lebih tegas. "Nggak ada waktu yang tepat buat hal kayak gitu."

Sisilia menunduk.

Riki menatapnya lurus. "Setiap hari yang kamu tunda cuma nambah risiko." Ia menarik napas dalam. "Kita nggak cuma main-main, Sisil." Tangannya memegang bahu Sisilia. "Kamu harus ngomong ke dia."

Sisilia menatap mata Riki.

"Ini nggak adil buat kita..." lanjut Riki. "...dan juga nggak adil buat Richard."

Sisilia menelan ludah. "Iya, Yang," suaranya hampir berbisik. "Secepatnya aku bakal ngajuin cerai."

Ia memeluk Riki dari depan. Wajahnya tenggelam di dada Riki. Detak jantung Riki terdengar jelas di telinganya.

"Aku nggak mau dia sampai tahu hubungan ini sebelum kamu cerai," tangan Riki mengusap punggung Sisilia perlahan. "Kalau dia tahu..." Ia menghela napas. "...bukan cuma hubungan kita yang hancur."

Sisilia mengangkat wajahnya.

"Bisnis kedai kopi aku juga bisa kena imbas."

Sisilia mengangguk cepat. "Dia nggak akan tahu." Ia mencium bahu Riki pelan. "Aku janji... Dia bahkan nggak tahu kalau aku ketemu kamu."

Riki menatapnya beberapa detik. Lalu ia menarik Sisilia lebih dekat. Bibir mereka bertemu. Awalnya pelan, berubah lebih dalam. Tangan Riki bergerak perlahan di punggung Sisilia, mengikuti garis tulang belakangnya sampai ke pinggang. Hangat kulit Sisilia itu merambat ke telapak tangannya.

Sisilia memejamkan mata. Tangannya meraih leher Riki, menariknya semakin dekat, seakan takut pria itu akan menjauh jika ia melepaskan sedikit saja. Rambutnya yang panjang jatuh ke bahu Riki, menyapu kulitnya dengan lembut.

Ciuman mereka terputus sesaat hanya untuk mengambil napas.

Sisilia menatap Riki. Riki mengusap pipi Sisilia dengan punggung jarinya. Matanya kembali tertutup ketika Riki mencium sudut bibirnya lagi.

Tubuh mereka bergerak mundur perlahan hingga tepi tempat tidur menyentuh kaki Riki. Ia duduk lebih dulu, menarik Sisilia ikut bersamanya. Selimut yang sejak tadi menutupi tubuh Sisilia jatuh ke samping tanpa mereka sadari.

Udara kamar dipenuhi aroma parfum lembut Sisilia yang bercampur dengan bau tembakau dari rokok Riki. Di luar jendela, kabut Bandung semakin tebal. Lampu-lampu kota perlahan tenggelam dalam putih yang dingin.

***

TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang