TRILOGY SATU TITIK
"Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama."
BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40)
BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86)
BUKU 3 : SATU TITIK...
Satu bulan setelah peristiwa di Club Ciputat, peta Tangerang Selatan berubah menjadi garis-garis wilayah yang panas. Renggo dan Black Ribal dibantu Red Viper memanfaatkan lubang yang terbuka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aroma kopi dan roti gandum panggang memenuhi dapur rumah keluarga Pramadita di Pamulang. Cahaya pagi masuk melalui jendela, memantul di atas permukaan meja makan yang bersih. Aurell sarapan dengan gerakan yang teratur. Sendok dan cangkirnya tertata dengan presisi di sisi piring.
Langkah kaki cepat memecah ketenangan. Aura masuk ke dapur, Ia melempar ponsel ke atas meja tepat di samping piring Aurell. Layarnya menampilkan portal berita lokal, foto penggerebekan Red Viper terhadap wilayah Wild Liar. Sosok bermasker dan motor sport terpampang jelas.
"Lo gabung ke Black Ribal?!" seru Aura, suaranya naik satu oktaf.
"Apa urusan Lo?!" Aurell tidak berhenti mengunyah. Ia meletakkan garpunya pelan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Urusannya?" Aura mencondongkan tubuh. "Cowok gue polisi, Aurell. Dia lagi ngejar gangster yang bikin kacau Tangsel. Kalau lo ketangkep, nama keluarga ini hancur."
"Kita seumuran ya, lo cuma lebih tua dari gue tiga menit. Jadi, nggak usah sok ngatur." tangan Aurell menghantam meja, cangkir teh Aura berdenting di atas tatakan. "Dan gue nggak peduli soal cowok lo!"
"Iya lo nggak peduli, tapi gue peduli! Gilang bahkan nggak tahu gue punya kembaran," debat Aura. "Semenjak lo kenal Aban dan geng motornya, lo bukan Aurell yang gue kenal!" Air mata mulai menggenang di mata Aura.
"Salah lo sendiri nggak ngasih tau dia, itu bukan urusan gue!" balas Aurell, menyesap sisa kopinya. "Dan satu lagi! Lo nggak usah bahas dia atau geng motornya, lo nggak kenal sama mereka! Jangan ikut campur!"
"Lo kenapa sih, Rell?!" Aura berteriak.
"Bukan urusan lo! Udahlah, pagi-pagi bikin bad mood aja," sergah Aurell. Ia mengambil kunci motornya, bergegas meninggalkan Aura yang kini duduk membeku di meja makan.
Aurora Pramadita dan Aurellia Pramadita adalah saudara kembar identik. Aura menatap adiknya dengan mata yang selalu basah oleh kecemasan, tipikal anak yang hidupnya lurus di atas rel. Aurell membalasnya dengan tatapan dingin, tajam, dan sama sekali tidak menyisakan ruang untuk nasihat keluarga