TRILOGY SATU TITIK
"Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama."
BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40)
BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86)
BUKU 3 : SATU TITIK...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dua bulan setelah pergantian tahun, Chacha masih bergelut di bengkel ayahnya. Bau oli dan bensin menguap dari sela-sela drum di sudut bengkel. Chacha meletakkan ponsel di atas meja bengkel yang berminyak. Selepas kuliah, ia lanjut membantu mengurus administari bengkel, sambil sesekali jemarinya bergerak di antara barisan kode di layar laptopnya. Di sudut ruangan, tumpukan draf skripsi yang belum disentuh tertindih baut dan kunci pas yang mulai berkarat.
Di depan bengkel, sebuah mobil berhenti dengan suara mesin yang halus. Chacha menyambar ponselnya, lalu melangkah keluar melewati deretan motor yang sedang dibongkar.
"Yah, Chacha main dulu ya." Chacha meraih telapak tangan Om Bewok yang hitam oleh noda oli. Ia mencium punggung tangan itu sebentar.
"Jangan pulang malem-malem ya," sahut Om Bewok. Matanya menatap punggung Chacha sampai masuk ke dalam mobil dan menghilang di belokan jalan.
Lampu neon fuchsia di atas gerbang berkedip ritmis, menyiram aspal dengan warna ungu lebam. Bas dari dalam gedung menggetarkan sol sepatu Converse putih Chacha. Antrean di depan pintu baja bergerak lambat di bawah tatapan penjaga pintu.
Sherly pertama turun dari mobil, diikuti Tika dan Indah, Chacha turun terakhir. Ia berdiri beberapa langkah di belakang mereka, jarinya meremas tali tas selempang yang melintang di dada.
"Sekali aja, Cha. Lo pucat banget." Sherly merangkul bahunya.
"Gue belum pernah ke sana," sahut Chacha, matanya melirik pria berbadan tegap yang sedang memeriksa KTP rombongan di depan mereka.
"Justru itu, biar lo pernah-pernah ke tempat itu," Tika menimpali, teman sekelas Chacha lainnya. "Sekali seumur hidup nggak apa-apa kali."
"Hhhmmm." Chacha memegang erat tas selempangnya.
"Ini ulang tahunnya Indah lho Cha, masa lo nggak ikut sih," ucap Tika.
"Gue izin ke Kak Gilang dulu ya. Nanti dia marah kalau nggak dikasih kabar." Chacha mencoba mencari alasan.
"Ya ampun, Cha. Lo anak kecil apa gimana sih?"
"Serius," kata Chacha. "Dia pasti-"
Sherly meraih ponsel dari tangan Chacha sebelum kalimatnya selesai. "HP lo gue pegang dulu," katanya santai. "Nanti juga balik."
"Iya. Abang lo kan kenal kita, dia nggak bakal makan lo cuma gara-gara nongkrong bentar," tambah Tika. Ia memoles lipstik merah di depan layar ponsel yang menyala.
Chacha menatap layar ponsel di tangan Sherly lalu beralih ke Tika.
"Udah, ayo," kata Indah, meraih tangan Chacha
Chacha melangkah masuk mengikuti Sherly. Pintu baja tertutup, meredam suara knalpot dari jalan raya.
Aroma alkohol tumpah dan asap rokok menggantung tebal di bawah lampu stroboskop. Musik house menghantam telinga, membuat dada terasa sesak. Sherly menarik tangan Caca ke arah bar. Botol-botol berjejer di belakang bartender. Gelas-gelas berkilau di bawah lampu.