Udara di dalam ruangan mengembun dari sisa penguapan hujan di balik celah atap gudang. Peta digital Jakarta terpantul di dinding tengah,, titik-titik hijau jaringan Hydra tersebar seperti barisan semut. Chacha, Rizal, dan Gilang berdiri di depan peta. Mata mereka bergerak lambat, menyisir garis demi garis, menganalisis struktur Hydra yang baru berhasil diurai dari kegelapan. Nama krugger bukan lagi bayangan, identitas Jendral Bintang Satu berada dibaliknya.
"Kita terlalu kecil buat ngelawan bintang satu," suara Gilang datar, tertahan di tenggorokan. "Ratusan anak buah legal. Hydra di setiap sudut. Satu kesalahan langkah, kita abis."
Rizal melangkah maju. Sepatunya berdecit pelan di atas lantai. Ujung jarinya bergerak, menyentuh titik merah padam area Cicendo di peta. "Serangan frontal selesai. Kita pakai data Aurell buat serangan balik."
Chacha menatap lurus monitor kendali. Jemariny bergerak di atas keyboard. Di sudut bawah layar, berkas terenkripsi dengan label IRISH terbuka perlahan. Foto seorang wanita berambut acak-acakan dengan papan nomor tahanan di dada muncul dari balik berkas.
"Aurell ninggalin kunci," Chacha memecah fokus keduanya. "Irish. Dia dibuang Champagne setelah ditangkap di markas Black Ribal."
Rizal menoleh, alis kirinya terangkat. "Kamu mau nego sama Kepala Hydra? Dia akan jual kita di kesempatan pertama, Cha."
"Orang kaya dia nggak pernah suka menjadi sampah, Kak," sahut Chacha tanpa mengalihkan pandangan.
"Kakak lebih tau mereka, Cha," Rizal berjalan mendekat. Bayangan tubuhnya menutupi sebagian meja.
Chacah mendongak, menatap lurus mata Rizal. "Karena kakak udah pernah kena jebakan mereka?"
Rizal terdiam, bahunya merosot. Gilang membuang muka ke arah peta. Tangannya berhenti di saku celana.
Pandangan Chacha beralih kembali ke layar. "Dia akan jual Champagne," jari-jarinya mengetuk meja. "Irish punya rahasia. Dan orang yang ditinggal sendirian di sel biasanya punya keinginan besar buat nyanyi."
"Nggak," Bahunya Gilang menegang. Otot lehernya menonjol di bawah kaos hitamnya. "Chacha nggak masuk ke tempat yang seluruh petugasnya bisa dibeli Champagne."
"Kalau Kak Gilang masuk, kematian Kakak terbongkar. Kalau Kak Rizal masuk, Irish bakal tahu kita datang karena butuh," sahut Chacha. "Chacha satu-satunya orang yang belum punya sejarah langsung sama dia."
"Irish nggak butuh sejarah buat nusuk orang dari belakang. Dia bisa baca kelemahan kamu sebelum kamu duduk," balas Rizal.
"Makanya Kak Rizal nggak boleh ada di sana."
Rizal menatap Chacha beberapa detik. "Kamu yakin bisa ngadepin mantan kepala Hydra sendirian?"
"Dia dipenjara, bukan kehilangan otak. Kalau kita datang ramai-ramai, dia tahu kita takut."
Gilang menarik tangan dari saku celananya. "Ini bukan soal takut."
"Terus soal apa?"
"Tempat itu di bawah Champagne. Satu petugas kasih laporan kalau kamu datang, kita nggak tahu apa yang nunggu saat kamu keluar."
"Justru itu, kak." Chacha menoleh, cahaya biru monitor memantul di samping wajahnya. "Kalau Champagne yakin Irish aman di dalam, dia nggak akan perhatiin siapa yang datang selama nggak ada alarm."
Chacha menekan tombol Enter. Layar monitor berubah menjadi hitam, menyisakan pantulan wajahnya yang statis di kaca. Suara dengun kipas poyektor mengisi keheningan di antara mereka.
"Kamu nggak pergi sendiri," ucap Rizal memecah keheningan.
Chacha mengangguk ke arah Alee. "Makanya Alee ikut."
KAMU SEDANG MEMBACA
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]
AksiTRILOGY SATU TITIK "Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama." BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40) BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86) BUKU 3 : SATU TITIK...
![TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k175150.jpg)