Bau pengap di ruang kunjungan Lapas Salemba tidak pernah berubah, campuran abadi antara keringat manusia, asap rokok kretek yang diembuskan diam-diam, dan sisa bau pembersih lantai.
Noval duduk di kursi plastik, tangannya menggenggam kantong plastik hitam berisi hoodie hitam polos berbahan katun tebal yang ia beli dengan menyisihkan uang makannya selama seminggu. Di sampingnya, Novi duduk tenang. Tangannya terlipat rapi di atas pangkuan, sesekali jemarinya merapikan ujung rambutnya yang tertiup angin dari kipas angin langit-langit yang berputar tersendat-sendat.
Rizal menarik kursinya perlahan. Matanya bergantian menatap Noval lalu Novi. Sudut bibirnya sempat terangkat tipis. "Tambah tua aja."
"Lo juga," sahut Noval cepat. Matanya menyapu wajah Rizal yang kini dipenuhi garis-garis keras di rahang dan pelipis. "Bedanya, lo tambah sangar."
Rizal terkekeh pelan. "Di sini nggak ada skincare."
"Udah semester lima sekarang, Zal," suara Noval datar. "Gue ambil Hukum Acara Pidana. Dosennya gila, namanya Pak Subroto. Kalau ngasih nilai kayak ngasih sedekah ke pengemis, pelit banget. Dia selalu bilang kalau hukum itu matematika sosial, satu ditambah satu harus dua. Tapi gue tahu, di lapangan, satu ditambah satu bisa jadi nol kalau lo nggak punya uang atau nama."
Tubuh Rizal terlihat lebih kokoh, bahunya lebih lebar, wajahnya semakin tirus, garis rahang yang menonjol tajam. Matanya menatap lurus mata Noval.
"Gue belajar soal hak-hak tersangka. Soal bagaimana prosedur penangkapan yang benar menurut undang-undang," lanjut Noval. "Tiap kali gue baca pasalnya di perpustakaan kampus yang dingin, gue inget hari itu. Gue inget gimana lo diborgol di depan kelas. Gue ngerasa banyak yang salah dari proses itu, Zal. Banyak celah yang harusnya bisa kita pakai buat tarik lo keluar. Tapi gue baru tahu teorinya sekarang, pas semuanya sudah terlambat dua tahun."
Rizal mengangguk sekali.
Petugas berseragam cokelat di pojok ruangan memberikan isyarat dengan memukul meja, Noval menyodorkan kantong plastik melalui celah sempit di bawah pembatas. "Ini buat lo. Kata Om Bewok, kalau malam di sini dinginnya bisa sampai ke tulang. Pakai ya, jangan cuma ditaruh di loker."
Rizal menerima kain tebal itu. Ia memegang tekstur kainnya sebentar, lalu melipat rapi di atas pangkuannya. Ia berdiri, mengangguk singkat ke Novi.
***
Lampu neon dari showroom motor di pinggiran Ciputat memantul di atas aspal yang masih basah sisa hujan sore. Di samping pagar besi yang tinggi, sebuah gerobak angkringan dengan terpal biru berdiri tegak, melawan hembusan angin jalanan yang membawa debu. Asap dari tungku arang membubung tipis, membawa bau jahe bakar yang tajam dan manisnya gula batu yang mencair.
Riki mengelap permukaan meja kayu gerobaknya yang mulai berminyak dengan kain majun yang bersih. Tanpa bantuan Nadia yang bekerja sebagai sales counter paling vokal di showroom sebelah, ia tidak akan pernah mendapat izin dari pemilik ruko untuk membuka lapak di sini.
Seorang sopir angkot menghentikan langkah di depan gerobak. "Kopi item satu, Ki. Nggak usah manis."
"Utang kemarin dulu," sahut Riki datar.
Sopir itu menyeringai, mengeluarkan dua lembar uang lusuh dari saku kemejanya. "Rezeki lagi bagus."
"Tumben."
Riki menuang kopi tanpa bertanya lagi. Beberapa menit kemudian seorang tukang ojek datang mengambil tiga bungkus nasi kucing tanpa perlu memesan. Riki menunjuk kantong plastik putih yang memang sudah ia siapkan sejak sore.
Ia mengangkat panci kecil berisi air panas, mengisi ulang ketel yang mulai kosong. Bara arang di bawah tungku mulai mengecil. Ia mengambil kipas bambu, mengipasinya beberapa kali sampai bara kembali memerah.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]
AksiTRILOGY SATU TITIK "Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama." BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40) BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86) BUKU 3 : SATU TITIK...
![TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k175150.jpg)